El-Nino Picu Risiko Karhutla, Pemprov Papua Tengah Siapkan Langkah

  • 23 Agt 2026 19:47 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Pemerintah Provinsi Papua Tengah memperkuat koordinasi lintas sektor untuk menghadapi dampak El-Nino, menyusul peningkatan signifikan titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah.

Rapat koordinasi yang digelar pada Minggu, 23 Agustus 2026, dipimpin langsung Gubernur Papua Tengah dan diikuti Forkopimda, para bupati dari delapan kabupaten, serta instansi vertikal, termasuk BMKG.

Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Papua Tengah, Victor Fun, mengungkapkan rapat tersebut dilakukan untuk mencari solusi dan menyusun langkah penanganan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Papua Tengah.

“Rapat ini dilakukan untuk mencari solusi serta langkah penanganan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Papua Tengah. Untuk ke depan, sesuai arahan Bapak Gubernur, kita akan melakukan langkah-langkah strategis dalam penanganan sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing," ungkapnya kepada awak media.

Victor menjelaskan, pemerintah kabupaten tetap menjadi pihak pertama yang melakukan penanganan apabila kebakaran masih dapat ditangani dengan kemampuan daerah masing-masing.

Namun, apabila kondisi kebakaran semakin luas dan membutuhkan dukungan tambahan, pemerintah kabupaten dapat menyampaikan permohonan bantuan kepada pemerintah provinsi untuk dilakukan evaluasi dan penanganan lebih lanjut.

Ia mengatakan penanganan kebakaran juga dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan BPBD, pemadam kebakaran, TNI dan Polri.

Menurutnya, keterbatasan sarana dan prasarana menjadi salah satu tantangan dalam menangani titik kebakaran yang tersebar di sejumlah wilayah.

Hotspot Papua Tengah Capai 779 Titik

Sementara itu, Kepala BMKG Nabire, Husein Kamadi, menyebut terjadi peningkatan signifikan jumlah hotspot di Papua Tengah.

Husein mengatakan, pada periode 10 hingga 19 Agustus 2026 tercatat sekitar 224 titik panas. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi sekitar 779 titik berdasarkan pembaruan data terakhir yang diterima BMKG.

“Kalau kita lihat per tanggal 10 sampai dengan tanggal 19 itu ada sekitar 224 titik. Kemudian per hari kemarin sudah sekitar 779 titik. Ini peningkatan yang cukup drastis dan memang perlu ada penanganan khusus nantinya dari teman-teman BPBD," terang Husein.

Untuk Kabupaten Nabire sendiri, BMKG mencatat sekitar 356 titik berdasarkan data per 22 Agustus 2026. Rinciannya, 70 titik memiliki tingkat kepercayaan rendah, 272 titik tingkat kepercayaan sedang, dan 14 titik tingkat kepercayaan tinggi.

Husein menjelaskan, peningkatan risiko kebakaran turut dipengaruhi kondisi curah hujan yang sangat rendah dalam tiga dasarian terakhir.

BMKG Ingatkan Potensi ISPA

Selain meningkatkan risiko kebakaran, kondisi kering dan asap juga berpotensi memengaruhi kualitas udara di Nabire.

BMKG Nabire menyebut Papua Tengah saat ini belum memiliki stasiun Global Atmosphere Watch (GAW) untuk melakukan pengukuran kualitas udara secara khusus.

Namun secara visual, kondisi udara di Nabire dinilai telah mengalami penurunan. Asap, debu, dan partikel udara dapat bertahan di atmosfer selama belum terjadi hujan.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA.

BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, tidak membuang puntung rokok di lahan maupun semak-semak, serta segera berkoordinasi dengan BPBD atau pihak terkait apabila menemukan titik api.

Pemerintah Provinsi Papua Tengah juga meminta masyarakat dan seluruh pihak bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran, sementara langkah penanganan lanjutan akan dilakukan sesuai arahan Gubernur Papua Tengah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....