132 Tahun Injil Katolik di Papua, Momentum Meneguhkan Iman dan Keadilan

  • 23 Mei 2026 13:41 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire – Parade akbar dan kirab budaya mewarnai peringatan 132 tahun masuknya Agama Katolik di Tanah Papua yang berlangsung di Kabupaten Nabire, Jumat 22 Mei 2026.

Kegiatan yang dipusatkan di Gereja Katolik Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire ini diikuti ratusan umat Katolik bersama masyarakat dari berbagai wilayah. Parade berlangsung dengan rute mulai dari Jalan Jenderal Soedirman menuju sejumlah ruas jalan utama di Kota Nabire sebelum kembali ke Gereja KSK.

Mengusung tema “Setia Pada Agama Tuhan, Selamatkan Bumi Papua”, kegiatan ini tidak hanya menjadi bentuk ungkapan syukur perjalanan iman, namun juga refleksi pelayanan Gereja Katolik bagi masyarakat Papua melalui pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial kemanusiaan.

Pastor Katolik, Romo Johanes Sudrijanta SJ mengatakan, sejak awal kehadirannya di Papua, Gereja Katolik tidak hanya fokus pada penyebaran iman, tetapi juga memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan.

“Gereja Katolik sudah lama berjuang bukan hanya untuk menyebarkan iman, tetapi juga membela keadilan. Jadi iman dan keadilan itu merupakan satu kesatuan,” ujarnya.


Menurut Romo Johanes, tokoh misionaris Pastor Le Cocq saat pertama datang ke Papua lebih dahulu membangun sekolah, pelayanan kesehatan, dan pelayanan sosial sebelum mendirikan gereja.

“Yang pertama dibangun bukan gereja, melainkan sekolah, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial kemanusiaan. Baru kemudian gereja dibangun belakangan,” katanya.

Sementara itu, Pendamping Orang Muda Katolik (OMK) Kristus Sahabat Kita Nabire, Anastasia Ryandini Ayu Diananti mengaku bersyukur karena untuk pertama kalinya peringatan masuknya Injil Katolik di Papua dirayakan secara khusus.

Ia berharap pemerintah daerah bersama Keuskupan Timika dapat mendukung deklarasi yang telah ditandatangani dalam kegiatan tersebut agar tanggal 22 Mei dapat ditetapkan sebagai hari libur fakultatif.

“Semoga pemerintah daerah dan juga Keuskupan Timika dapat menyetujui deklarasi yang tadi telah dilakukan melalui penandatanganan, agar tanggal 22 Mei ini dapat ditetapkan menjadi hari libur fakultatif,” ucapnya.

Peringatan 132 tahun masuknya Agama Katolik di Tanah Papua juga diharapkan menjadi momentum mempererat persaudaraan lintas generasi sekaligus menjaga nilai budaya dan kemanusiaan di Tanah Papua.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....