IHSG Menguat ke 7.675, Pelemahan Rupiah Bayangi Sentimen Pasar

  • 14 Apr 2026 21:15 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat pada penutupan perdagangan Selasa 14 April 2026. Namun, penguatan tersebut masih dibayangi risiko pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari Bloomberg Technoz, IHSG ditutup di level 7.675,95 atau naik 2,34 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Sepanjang sesi perdagangan, indeks sempat menyentuh posisi tertinggi di 7.686 dan terendah di 7.592.

Meski indeks komposit menunjukkan penguatan, rupiah justru masih melemah. Pada perdagangan pasar spot sore hari, rupiah berada di posisi Rp17.122 per dolar AS atau melemah 0,11 persen dan menjadi mata uang Asia dengan pelemahan terdalam pada hari tersebut.

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, mengatakan pelemahan rupiah mencerminkan menyempitnya selisih imbal hasil atau yield antara Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia dengan US Treasury. Kondisi ini dinilai mengurangi daya tarik aset keuangan Indonesia di mata investor global.

“Di sinilah sumber tekanan yang sebenarnya. Selama spread makin tipis, aset Indonesia kehilangan daya tarik. Akibatnya, meskipun valuasi saham terlihat murah, investor asing tetap tidak punya insentif besar untuk masuk secara agresif,” kata Liza kepada Bloomberg Technoz, Selasa (14/4/2026).

Ia menambahkan, pelemahan rupiah berpotensi menghambat upaya pemulihan IHSG di tengah berbagai sentimen global, termasuk isu transparansi pasar oleh pengelola indeks global serta konflik geopolitik di Timur Tengah.

“Murah tanpa aliran dana tetap saja bisa lama tidak bergerak,” ujarnya.

Di pasar valuta asing, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi meningkatnya permintaan dolar AS dari dalam negeri. Hal ini terjadi seiring periode repatriasi dividen perusahaan serta kebutuhan pembayaran impor yang meningkatkan tekanan likuiditas di pasar valas.

Selain itu, penurunan cadangan devisa pada Maret juga menjadi indikator bahwa bantalan stabilitas nilai tukar mulai menipis sehingga ruang intervensi otoritas moneter menjadi semakin terbatas.

Sementara itu, NH Korindo Sekuritas memproyeksikan rupiah masih berpotensi melemah hingga kisaran Rp17.250 hingga Rp17.350 per dolar AS. Proyeksi ini mencerminkan dinamika kepercayaan pasar di tengah ketidakpastian geopolitik global yang turut memengaruhi minat investasi di Indonesia.

Head of Research NH Korindo Sekuritas, Ezaridho Ibnutama, menyebut Bank Indonesia saat ini berada dalam posisi yang cukup dilematis antara menjaga pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan risiko keluarnya modal asing.

“Independensi Bank Indonesia kini tengah dipertanyakan menyusul penunjukan kerabat dekat Presiden di jajaran strategis, bersamaan dengan cadangan devisa yang mulai tergerus untuk mengintervensi pelemahan rupiah,” tulis riset NH Korindo Sekuritas yang disusun Ezaridho Ibnutama dan Graceline Melinda, dikutip Selasa (14/4/2026).

Secara historis, depresiasi tajam rupiah kerap menjadi sinyal peringatan bagi pasar saham. NH Korindo mencontohkan kejadian pada krisis 1998 dan gejolak pasar pada 2013 sebagai referensi risiko yang perlu diperhatikan investor.

Meskipun IHSG menunjukkan tren bullish dalam jangka pendek, para analis menilai keberlanjutan penguatan pasar saham sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah.

Tanpa penguatan rupiah yang meyakinkan, saham-saham unggulan atau blue chip yang saat ini terlihat murah tetap berisiko tinggi bagi investor asing karena adanya potensi kerugian akibat pelemahan nilai tukar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....