Rupiah Sentuh Rp17.843, Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah

  • 29 Mei 2026 10:04 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Nilai tukar rupiah kembali melemah pada pembukaan perdagangan pasar spot Jumat 29 Mei 2026. Rupiah dibuka turun 0,02 persen ke posisi Rp17.793 per dolar Amerika Serikat setelah pasar domestik libur dua hari dalam rangka Iduladha.

Melansir dari Bloomberg Technoz, tak lama setelah pembukaan perdagangan, rupiah kembali tertekan hingga melemah 0,3 persen ke level Rp17.843 per dolar AS pada pukul 09.04 WIB. Angka tersebut kembali menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah untuk mata uang rupiah.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah kondisi eksternal yang relatif stabil. Indeks dolar AS tercatat masih berada di level 98,98, sementara harga minyak mentah Brent melemah 0,29 persen ke posisi US$93,44 per barel.

Sentimen positif sebenarnya datang dari kabar adanya kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut membuat sejumlah mata uang di kawasan Asia bergerak menguat terhadap dolar AS.

Baht Thailand, ringgit Malaysia, peso Filipina, dolar Taiwan, yuan China, dan yuan offshore tercatat berada di zona hijau. Namun rupiah justru bergerak melemah bersama won Korea Selatan, dolar Singapura, dan yen Jepang.

Tekanan terhadap rupiah dinilai bukan hanya berasal dari faktor global, tetapi juga dipengaruhi sentimen pasar terhadap kondisi domestik. Pasar disebut menyoroti kombinasi tekanan ekonomi global, arah kebijakan pemerintah, serta ketidakjelasan proses penyesuaian ekonomi nasional.

Kondisi kebutuhan pembiayaan pemerintah yang besar untuk menopang berbagai program prioritas juga dinilai menjadi salah satu faktor yang membebani rupiah. Di pasar luar negeri, rupiah bahkan sempat mendekati level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya.

Selain itu, kebijakan pemerintah menjaga harga bahan bakar minyak agar tidak ikut naik di tengah lonjakan harga minyak dunia disebut turut memberi tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, mengatakan pelemahan rupiah saat ini sudah bergerak lebih dalam dibandingkan kondisi fundamental jangka panjang Indonesia.

“Pasar keuangan tidak hanya membaca data hari ini. Pasar membaca arah kebijakan, kredibilitas respons, dan kemampuan negara menjaga stabilitas di tengah perubahan global yang sangat cepat,” ujar Fakhrul.

Sementara itu, Fixed Income dan Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, Lionel Priyadi memproyeksikan rupiah masih berpotensi bergerak melemah di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....