Rupiah Sentuh Rekor Terlemah, Dekati Level Rp18.000 per Dolar

  • 31 Mei 2026 13:34 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan dan menutup perdagangan Jumat (29/5/2026) di level Rp17.874 per dolar Amerika Serikat (AS). Posisi tersebut melemah 0,48 persen dibandingkan hari sebelumnya sekaligus menjadi level terlemah sepanjang sejarah bagi mata uang Indonesia.

Melansir dari Bloomberg Technoz, pelemahan ini juga menandai berakhirnya perdagangan Mei 2026 dengan catatan negatif. Sepanjang bulan tersebut, rupiah terdepresiasi hingga 2,91 persen dan mencatatkan pelemahan selama tiga bulan berturut-turut.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah meredanya sebagian kekhawatiran investor global terkait konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan gencatan senjata sementara selama 60 hari memberikan optimisme bahwa gangguan terhadap jalur perdagangan energi di Selat Hormuz dapat berkurang dalam waktu dekat.

Meski sejumlah mata uang Asia berhasil menguat pada akhir pekan, rupiah justru menjadi salah satu yang mengalami tekanan paling besar. Mata uang Indonesia tercatat menjadi yang terlemah di Asia sepanjang Mei 2026, diikuti won Korea Selatan yang melemah 2,1 persen dan yen Jepang sebesar 1,67 persen.

Jika dihitung sejak awal kuartal II 2026, nilai tukar rupiah telah terdepresiasi sekitar 4,92 persen. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional dalam jangka pendek.

Managing Director Research Samuel Sekuritas, Harry Su, menilai tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk pelebaran defisit fiskal dan neraca transaksi berjalan. Selain itu, pasar juga mencermati risiko penurunan prospek atau peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional yang berpotensi memicu arus keluar modal.

Pelaku pasar juga masih menunggu dampak kebijakan pemerintah terkait kewajiban penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) di dalam negeri. Namun sebagian investor menilai kebijakan tersebut belum tentu mampu memberikan tambahan signifikan terhadap cadangan devisa nasional karena dana tetap berada di bawah kendali eksportir.

Perhatian investor kini tertuju pada rilis data inflasi Mei dan neraca perdagangan April yang akan diumumkan dalam waktu dekat. Sejumlah pelaku pasar mulai menempatkan level Rp18.000 per dolar AS sebagai batas psikologis baru yang berpotensi diuji apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut.

Harry Su mengatakan level tersebut masih dapat dihindari apabila Bank Indonesia mengoptimalkan kebijakan moneter, memanfaatkan meredanya ketegangan geopolitik global, serta didukung langkah konkret pemerintah untuk meningkatkan kepercayaan pasar.

Namun apabila rupiah menembus level Rp18.000 per dolar AS, dampaknya diperkirakan akan semakin luas. Mulai dari meningkatnya aksi jual investor asing di pasar saham dan obligasi, naiknya biaya impor bahan baku bagi industri, hingga bertambahnya beban pembiayaan utang pemerintah akibat kenaikan imbal hasil obligasi.

Sejumlah lembaga keuangan global juga memperkirakan Bank Indonesia berpotensi menaikkan suku bunga acuan dalam beberapa bulan mendatang guna menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah tersebut dipandang sebagai salah satu opsi untuk meredam tekanan terhadap rupiah yang masih berlanjut hingga akhir Mei 2026.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....