Bursa Asia Menguat, Investor Pantau Inflasi dan Obligasi AS

  • 30 Sep 2026 14:29 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Bursa saham Asia menguat untuk pertama kalinya dalam tiga sesi perdagangan, didorong kenaikan saham teknologi. Di sisi lain, pasar obligasi tetap menjadi perhatian investor menjelang rilis data inflasi penting Amerika Serikat (AS).

Dilansir dari Bloomberg Technoz, Rabu, 30 September 2026, indeks MSCI Asia Pacific menguat 0,6%, dengan saham-saham di Jepang dan Korea Selatan turut bergerak naik. Pergerakan tersebut terjadi setelah indeks acuan saham semikonduktor AS mencatat kenaikan.

Kenaikan saham teknologi menjadi salah satu sentimen yang menopang perdagangan saham Asia. Pergerakan tersebut berlangsung ketika investor mencermati perkembangan sektor teknologi dan kebijakan terkait kecerdasan buatan atau AI di Amerika Serikat.

Sementara itu, pasar komoditas masih menghadapi dinamika akibat perkembangan geopolitik dan pasokan energi. Harga minyak Brent tercatat naik 0,6% menjadi US$103,25 per barel setelah sebelumnya turun 2,6% dalam sesi perdagangan sebelumnya.

Pergerakan harga minyak turut menjadi perhatian karena berkaitan dengan prospek inflasi global. Harga minyak sebelumnya melemah setelah Arab Saudi dilaporkan telah memulihkan sekitar setengah kapasitas jaringan pipa East-West setelah serangan pesawat nirawak.

Pemerintah AS juga memerintahkan pelepasan tambahan minyak dari cadangan darurat. Di sisi lain, perundingan antara AS dan Iran masih menghadapi ketidakpastian sehingga perkembangan geopolitik tetap menjadi salah satu faktor yang dicermati pelaku pasar.

Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang Treasury AS bertenor panjang menjadi perhatian. Imbal hasil Treasury AS tenor 30 tahun tercatat berada di atas 5,61%, sementara imbal hasil tenor dua tahun turun lima basis poin.

Kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap inflasi yang masih bertahan tinggi, belanja pemerintah, serta meningkatnya kebutuhan pembiayaan korporasi untuk pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan.

Kondisi tersebut turut memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter AS. Pasar keuangan memperkirakan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga dalam setahun ke depan, sementara investor menunggu data ekonomi untuk mendapatkan gambaran lebih lanjut mengenai tekanan inflasi.

Di tengah perkembangan tersebut, China juga mengumumkan subsidi bunga kredit pemilikan rumah atau KPR serta perubahan kebijakan penyaluran kredit perbankan. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan dukungan terhadap perekonomian China yang menghadapi perlambatan momentum.

Sementara itu, Gubernur Federal Reserve Bank of New York John Williams mengatakan kenaikan suku bunga lain pada akhir 2026 mungkin diperlukan untuk membantu menurunkan inflasi. Namun, ia menyebut belum terdapat urgensi untuk mengambil langkah tersebut setelah perubahan kebijakan suku bunga pada awal September.

Pejabat Federal Reserve lainnya juga masih membuka kemungkinan penyesuaian suku bunga lebih lanjut. Gubernur The Fed Michael Barr menyampaikan bahwa kenaikan suku bunga tambahan mungkin diperlukan untuk memperlambat inflasi, sedangkan Gubernur Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee mengatakan bank sentral perlu merespons guncangan dari sisi pasokan.

Dengan perkembangan tersebut, pelaku pasar masih mencermati sejumlah faktor secara bersamaan, mulai dari pergerakan saham teknologi, harga energi, kondisi pasar obligasi, perkembangan hubungan AS-Iran, hingga data inflasi Amerika Serikat yang menjadi salah satu indikator penting bagi arah kebijakan moneter berikutnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....