Rupiah Menguat ke Rp18.000 per Dolar AS, Sentimen Global Membaik
- 31 Jul 2026 18:28 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan akhir bulan dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan tersebut terjadi di tengah membaiknya sentimen pasar global setelah harga minyak mentah dunia mengalami penurunan, meski sejumlah faktor eksternal masih membayangi prospek mata uang negara berkembang.
Melansir dari Bloomberg Technoz, pada penutupan perdagangan Jumat, 31 Juli 2026, rupiah menguat 0,47 persen ke level Rp18.000 per dolar AS. Penguatan ini sekaligus menghentikan tren pelemahan yang terjadi hampir sepanjang pekan sebelumnya.
Perbaikan nilai tukar rupiah didukung turunnya harga minyak mentah Brent sebesar 1,59 persen menjadi sekitar US$87,61 per barel. Penurunan harga energi tersebut dinilai membantu meredakan tekanan terhadap sejumlah mata uang di kawasan Asia, meskipun indeks dolar AS masih bertahan di level tinggi.
Mayoritas mata uang Asia juga ditutup di zona hijau. Baht Thailand memimpin penguatan, diikuti peso Filipina, dolar Taiwan, rupiah, rupee India, ringgit Malaysia, yuan China, yuan offshore, serta dolar Hong Kong. Sementara itu, yen Jepang dan won Korea Selatan justru mencatat pelemahan terhadap dolar AS.
Secara bulanan, pelemahan rupiah tercatat relatif terbatas dibandingkan beberapa mata uang regional lainnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih dapat dikelola, meskipun pasar tetap mencermati perkembangan ekonomi global maupun domestik yang berpotensi memengaruhi arus modal.
Sementara itu, penurunan harga minyak diperkirkana membantu mengurangi kekhawatiran terhadap meningkatnya biaya impor minyak dan gas Indonesia. Namun demikian, proyeksi impor yang masih tinggi diperkirakan tetap menjadi salah satu faktor yang dapat memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu ke depan.
Di sisi lain, pelaku pasar juga terus memantau perkembangan inflasi. Bloomberg Economics memperkirakan inflasi Indonesia relatif stabil pada kisaran 3,31 persen secara tahunan. Meski demikian, potensi kenaikan harga energi dan risiko gangguan pasokan pangan akibat fenomena El Nino masih menjadi perhatian terhadap prospek inflasi pada paruh kedua tahun ini.
Dengan kondisi tersebut, penguatan rupiah pada akhir Juli dinilai lebih dipengaruhi oleh membaiknya sentimen eksternal, khususnya penurunan harga minyak dunia, dibandingkan perubahan fundamental ekonomi domestik. Ke depan, pergerakan nilai tukar rupiah masih akan dipengaruhi perkembangan ekonomi global, harga komoditas, serta arah kebijakan moneter Bank Indonesia dan bank sentral utama dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....