Rupiah Melemah, Tekanan Eksternal Masih Bayangi Nilai Tukar

  • 04 Agt 2026 20:26 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire – Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa, 4 Agustus 2026. Pelemahan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang domestik masih dipengaruhi kombinasi faktor global maupun kondisi fundamental ekonomi nasional.

Melansir Bloomberg Technoz, rupiah ditutup melemah sekitar 0,18 persen ke level Rp18.023 per dolar Amerika Serikat. Pergerakan tersebut mengakhiri penguatan yang sempat terjadi pada perdagangan sebelumnya, seiring meningkatnya tekanan dari sisi perdagangan luar negeri, harga energi, dan penguatan dolar AS.

Salah satu faktor yang membebani rupiah berasal dari kondisi neraca perdagangan. Meskipun defisit perdagangan menunjukkan perbaikan, defisit neraca minyak dan gas (migas) masih melebar sehingga mengurangi kontribusi surplus sektor nonmigas terhadap keseluruhan neraca perdagangan Indonesia.

Kondisi tersebut dinilai membuat pasokan devisa dari ekspor menjadi lebih terbatas, sementara kebutuhan dolar Amerika Serikat untuk membiayai impor energi tetap tinggi. Ketidakseimbangan itu meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, terutama ketika harga minyak dunia mengalami kenaikan.

Selain faktor domestik, kenaikan harga minyak mentah Brent juga menjadi sentimen negatif bagi pasar. Harga minyak yang meningkat memunculkan kekhawatiran terhadap potensi bertambahnya defisit neraca migas Indonesia. Pada saat yang sama, indeks dolar Amerika Serikat tetap berada di level tinggi sehingga turut mendorong pelemahan sejumlah mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah.

Dari sisi global, pasar juga mencermati arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve. Ketidakpastian mengenai kebijakan suku bunga ke depan memicu volatilitas di pasar keuangan internasional dan mendorong investor lebih berhati-hati dalam menempatkan aset di negara berkembang.

Di pasar domestik, kehati-hatian investor juga terlihat pada perdagangan Surat Utang Negara (SUN). Permintaan masih terkonsentrasi pada obligasi bertenor pendek, sementara kenaikan imbal hasil pada tenor menengah hingga panjang mencerminkan meningkatnya premi risiko yang diminta pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Sejumlah analis memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut apabila sentimen eksternal dan tantangan domestik belum mereda. Meski demikian, stabilitas nilai tukar tetap akan dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global, kebijakan moneter, serta kinerja perdagangan nasional dalam beberapa waktu ke depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....