IHSG Menguat 0,8 Persen, Optimisme Global Topang Pasar Saham

  • 31 Jul 2026 18:47 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan di zona hijau seiring membaiknya sentimen pasar global. Penguatan tersebut didorong optimisme investor terhadap perkembangan kondisi geopolitik internasional serta membaiknya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.

Melansir dari Bloomberg Technoz, pada penutupan perdagangan Jumat, 31 Juli 2026, IHSG ditutup menguat 0,8 persen atau naik 49,76 poin ke level 6.236. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di kisaran 6.201 hingga 6.236 dengan total volume transaksi mencapai 32,45 miliar saham senilai Rp18,25 triliun dan frekuensi perdagangan sebanyak 1,95 juta kali transaksi.

Penguatan IHSG ditopang mayoritas saham yang bergerak positif. Tercatat sebanyak 437 saham menguat, 193 saham melemah, sementara 159 saham lainnya ditutup stagnan. Sektor barang baku, kesehatan, dan teknologi menjadi penyumbang kenaikan terbesar, disusul sektor konsumen nonprimer.

Sejumlah saham juga mencatatkan kenaikan signifikan selama perdagangan. Di antaranya PT Karya Pacific Energy Tbk (IATA), PT Prime Agri Resources Tbk (SGRO), dan PT Tunas Alfin Tbk (TALF) yang masuk dalam daftar saham dengan penguatan tertinggi pada hari itu.

Penguatan tidak hanya terjadi di pasar modal Indonesia, tetapi juga di berbagai bursa saham Asia. Indeks utama seperti KOSPI Korea Selatan, Nikkei 225 Jepang, Shanghai Composite China, Hang Seng Hong Kong, hingga KLCI Malaysia sama-sama ditutup menguat mengikuti tren positif yang sebelumnya terjadi di bursa saham Amerika Serikat.

Sentimen positif tersebut dipicu meningkatnya optimisme pasar terhadap kelancaran aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Berdasarkan laporan Bloomberg News, perusahaan intelijen pasar Kpler mencatat jumlah kapal pengangkut komoditas yang melintasi jalur tersebut mulai meningkat setelah sebelumnya mengalami penurunan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Meningkatnya aktivitas pelayaran turut memengaruhi pasar energi global. Harga minyak mentah Brent dilaporkan turun lebih dari dua persen hingga sempat berada di kisaran US$87 per barel. Pada saat yang sama, nilai tukar dolar Amerika Serikat melemah karena berkurangnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah membaiknya sentimen pasar.

Dari dalam negeri, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga menjadi faktor yang mendukung pergerakan IHSG. Pada penutupan perdagangan, rupiah berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS atau menguat sekitar 0,87 persen, sekaligus menjadi penguatan harian terbesar dalam sepekan. Kondisi tersebut dinilai turut meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....