Rupiah Berpotensi Kembali Melemah Pekan Depan

  • 31 Mei 2026 16:33 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan masih menghadapi tekanan pada perdagangan pekan depan. Ketidakpastian geopolitik global dan sentimen pasar yang belum stabil menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan mata uang Garuda.

Melansir dari Bloomberg Technoz, Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah berpotensi melemah hingga menyentuh level Rp18.150 per dolar AS pada pekan pertama Juni 2026. Menurutnya, tensi geopolitik di Timur Tengah masih menjadi risiko yang belum sepenuhnya mereda.

“Untuk rupiah ada kemungkinan besar ini akan menuju Rp18.150 per dolar AS di minggu pertama di bulan Juni ini,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu 31 Mei 2026.

Selain tekanan terhadap rupiah, Ibrahim juga memprediksi indeks dolar AS (DXY) berpotensi kembali menguat pada pekan depan. Ia memperkirakan indeks dolar bergerak pada kisaran 98,1 hingga 101 seiring meningkatnya permintaan terhadap aset-aset yang dianggap aman di tengah ketidakpastian global.

Pada perdagangan Jumat (29/5/2026), rupiah ditutup melemah 0,48 persen ke posisi Rp17.874 per dolar AS. Angka tersebut menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah dan memperpanjang tren pelemahan rupiah selama tiga bulan berturut-turut.

Sepanjang Mei 2026, rupiah tercatat mengalami depresiasi sebesar 2,91 persen. Pelemahan tersebut membuat mata uang Indonesia semakin dekat dengan level psikologis Rp18.000 per dolar AS yang sebelumnya dianggap sebagai skenario terburuk oleh sejumlah ekonom.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai pelaku pasar masih menunggu kepastian perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Meski terdapat kabar mengenai perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari dan harga minyak dunia mulai turun, risiko geopolitik dinilai belum benar-benar hilang.

Menurut Josua, dari sisi domestik, pasar juga masih menantikan penguatan pasokan devisa dari ekspor. Selama kebutuhan dolar untuk impor, pembayaran utang luar negeri, dividen, dan kebutuhan energi tetap tinggi, rupiah akan rentan tertekan setiap kali muncul sentimen negatif dari pasar global.

Pelaku pasar juga masih mencermati efektivitas kebijakan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) di dalam negeri. Sejumlah investor menilai kebijakan tersebut belum tentu memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan cadangan devisa karena dana tersebut tetap berada dalam kendali eksportir.

Sementara itu, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menyoroti bentuk kurva imbal hasil obligasi Indonesia yang dinilai terlalu datar. Saat ini, imbal hasil obligasi tenor satu tahun dan sepuluh tahun sama-sama berada di kisaran 6,7 persen, kondisi yang dianggap tidak lazim oleh pasar.

Fakhrul menjelaskan investor jangka panjang seharusnya memperoleh premi risiko yang lebih tinggi dibandingkan investor jangka pendek. Ketika imbal hasil kedua tenor hampir sama, pasar mulai mempertanyakan mekanisme pembentukan harga risiko di Indonesia.

Menurutnya, persepsi bahwa premi risiko Indonesia belum sepenuhnya tercermin dalam obligasi jangka panjang menjadi salah satu faktor yang menekan rupiah. Perbaikan struktur kurva imbal hasil dinilai dapat membantu meningkatkan kepercayaan investor dan memperkuat stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....