Ekonom Soroti Yield Obligasi dan Tekanan Rupiah
- 31 Mei 2026 13:35 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Sejumlah pelaku pasar menyoroti kondisi kurva imbal hasil (yield curve) obligasi Indonesia yang dinilai terlalu datar. Situasi tersebut dikhawatirkan dapat memberikan sinyal yang kurang tepat kepada investor global mengenai tingkat risiko investasi di Indonesia.
Dikutip dari Bloomberg Technoz, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, mengatakan imbal hasil obligasi tenor satu tahun dan sepuluh tahun saat ini sama-sama berada di kisaran 6,7 persen. Menurutnya, kondisi tersebut tidak lazim karena obligasi jangka panjang seharusnya menawarkan premi risiko yang lebih tinggi.
Fakhrul menjelaskan bahwa investor yang menempatkan dana pada obligasi tenor sepuluh tahun biasanya mengharapkan imbal hasil lebih besar dibanding instrumen tenor satu tahun. Ketika selisih imbal hasil kedua tenor tersebut sangat kecil, pasar mulai mempertanyakan mekanisme pembentukan harga atau price discovery yang terjadi.
Ia menilai pemerintah memiliki kepentingan untuk menjaga biaya pendanaan tetap rendah di tengah kebutuhan pembiayaan pembangunan yang besar. Namun, upaya tersebut dinilai perlu diseimbangkan dengan kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang saat ini sedang mengalami tekanan.
Menurut Fakhrul, menjaga rupiah tetap stabil dan mempertahankan biaya pendanaan murah tidak selalu dapat dilakukan secara bersamaan. Jika prioritas utama saat ini adalah mengembalikan kepercayaan pasar dan menghentikan pelemahan rupiah, maka obligasi jangka panjang perlu diberikan ruang untuk menemukan harga yang lebih mencerminkan risiko sebenarnya.
Ia menambahkan bahwa salah satu faktor yang menekan rupiah adalah persepsi investor bahwa premi risiko Indonesia belum sepenuhnya tercermin pada pasar obligasi jangka panjang. Kondisi tersebut membuat daya tarik aset berdenominasi rupiah menjadi berkurang di mata investor.
"Ketika investor melihat rupiah melemah, tetapi obligasi jangka panjang tidak memberikan premi tambahan yang memadai, maka insentif untuk menahan aset rupiah menjadi berkurang," ujar Fakhrul.
Sementara itu, tekanan terhadap rupiah masih berlanjut. Pada perdagangan Jumat (29/5/2026), rupiah ditutup melemah 0,48 persen ke level Rp17.874 per dolar Amerika Serikat. Posisi tersebut menjadi level terlemah sepanjang sejarah bagi mata uang Indonesia.
Sepanjang Mei 2026, rupiah tercatat terdepresiasi 2,91 persen dan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia. Jika dihitung sejak awal kuartal II 2026, pelemahan rupiah telah mencapai 4,92 persen.
Managing Director Research Samuel Sekuritas, Harry Su, menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari pelebaran defisit fiskal dan transaksi berjalan hingga kekhawatiran terhadap kemungkinan penurunan prospek atau peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat global seperti Moody's, S&P Global Ratings, dan Fitch Ratings.
Selain itu, pelaku pasar juga masih mencermati implementasi kebijakan pemerintah terkait kewajiban penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) di dalam negeri. Kebijakan tersebut diharapkan dapat memperkuat cadangan devisa dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....