Rupiah Anjlok, Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah

  • 20 Jan 2026 21:16 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire: Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,05 persen pada penutupan perdagangan pasar spot, Selasa (20/1/2026), ke level Rp16.950 per dolar Amerika Serikat. Capaian ini menjadi posisi penutupan terlemah rupiah sepanjang sejarah Indonesia merdeka.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, pelemahan rupiah mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar di tengah akumulasi tekanan global dan domestik yang semakin menguat. Dari sisi eksternal, eskalasi tensi geopolitik kembali mendorong sentimen risk-off di pasar keuangan global.

Di pasar offshore, kontrak rupiah Non-Deliverable Forward (NDF) tercatat di level Rp16.995 per dolar AS atau melemah 0,14 persen. Kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap mata uang domestik masih berlanjut.

Perselisihan Greenland yang menyeret Amerika Serikat dengan Eropa turut memperkeruh situasi global. Ancaman penerapan tarif sebesar 10 hingga 25 persen oleh Amerika Serikat memicu kekhawatiran perang dagang baru. Eropa pun dikabarkan tengah menyiapkan langkah balasan.

Meski indeks dolar AS terhadap mata uang Asia tercatat melemah 0,53 persen ke posisi 98,870, tekanan terhadap rupiah tetap tinggi. Hal ini disebabkan oleh faktor domestik yang turut membebani kepercayaan pasar.

Dari dalam negeri, defisit fiskal Indonesia pada 2025 tercatat mencapai 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan diproyeksikan berpotensi melampaui batas 3 persen pada tahun ini. Kondisi tersebut menambah kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Ekonom senior Bank DBS, Radhika Rao, menyebut tekanan rupiah dipengaruhi oleh perkembangan kebijakan domestik terbaru, termasuk risiko pelebaran defisit fiskal serta meningkatnya kekhawatiran terhadap independensi bank sentral.

“Nilai tukar rupiah sedang berada di bawah tekanan akibat perkembangan domestik terbaru, termasuk risiko pelebaran defisit fiskal serta kembalinya kekhawatiran terhadap independensi bank sentral,” tulisnya, dikutip dari Bloomberg News, Selasa 20 Januari 2026.

Pelemahan rupiah turut berdampak pada pasar surat utang negara. Data Bloomberg menunjukkan aksi jual terjadi di hampir seluruh tenor obligasi yang ditandai dengan kenaikan imbal hasil.

Imbal hasil obligasi tenor 12 tahun naik 3,7 basis poin menjadi 6,47 persen. Tenor 10 tahun meningkat 2,9 basis poin ke level 6,32 persen, tenor 6 tahun naik 3,4 basis poin menjadi 6,1 persen, sementara tenor 1 tahun naik 1,0 basis poin ke posisi 4,63 persen.

Tekanan di pasar keuangan ini diperkirakan masih akan berlanjut seiring dinamika global dan kebijakan ekonomi domestik yang terus menjadi perhatian pelaku pasar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....