Akademisi Soroti Ancaman dan Peluang di Tengah Pelemahan Rupiah

  • 22 Mei 2026 21:45 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulabpoh: Dosen Magister Ekonomi Pembangunan, Helmi Noviar menilai pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan persoalan fundamental ekonomi Indonesia. Kondisi global yang tidak stabil disebut ikut mempercepat tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Helmi menjelaskan tren pelemahan rupiah sebenarnya sudah mulai terlihat sejak tahun 2024. “Kenaikan menjadi Rp17 ribu ini merupakan akselerasi yang dipicu situasi global dan kondisi dalam negeri,” ujarnya pada Selasa 19 Mei 2026.

Menurutnya, Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap barang impor, terutama di sektor energi dan pertanian. Komoditas seperti BBM, pupuk, pestisida, dan bahan baku industri masih banyak berasal dari luar negeri sehingga memicu kenaikan biaya produksi.

Meski demikian, Helmi menilai pelemahan rupiah juga membuka peluang bagi sektor ekspor daerah. Komoditas seperti kopi, sawit, karet, dan perikanan dinilai dapat memperoleh keuntungan karena nilai jual ekspor meningkat.

Ia menegaskan pemerintah perlu memperkuat industri lokal dan mengurangi ketergantungan terhadap impor. “Kita harus memperkuat industri lokal dan meningkatkan substitusi ekspor agar ekonomi lebih mandiri,” katanya.

Helmi juga mengingatkan masyarakat agar tidak panik menghadapi kondisi ekonomi saat ini. Ia menilai stabilitas ekonomi harus dijaga bersama melalui kolaborasi pemerintah, perbankan, pelaku usaha, dan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....