Ceramah Subuh: Ramadan dan Teladan Puasa Para Nabi
- 07 Mar 2026 16:04 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Masjid Jamik Baiturrahim Gampong (Desa) Ujong Baroh Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat kembali melaksanakan cermah subuh pada Ramadan Ke-17 tahun 2026 Masehi/1447 Hijriah. Tausiah diisi oleh Ustad Abdullah Akib, Lc, Al-Hafidz, dengan judul “Ramadan dan Teladan Puasa Para Nabi”.
Diawal ceramah Ustad Akib ulama menyampaikan bahwa kewajiban berpuasa tidak hanya saja disyariatkan untuk umat Nabi Muhammad SAW saja, akan tetapi kewajiban berpuasa juga disyariatkan untuk umat-umat sebelum umatnya Rasulullah.
“Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 183 berbunyi, Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba 'alaikumush-ṣiyāmu kamā kutiba 'alallażīna ming qablikum la'allakum tattaqụn, Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." Kata Ustad Akib diatas mimbar Masjid Jamik Baiturrahim.
Yang menjadi pertanyaan bagi kita semua ini, bagamana orang-orang terdahulu atau umat sebelum Nabi Muhammad SAW berpuasa, apakah sama seperti kita berpuasa. Jawabannya waktunya sama, mulai dari pada terbit matahari hingga terbenam matahari, adapun jumlah harinya yang berbeda.
“Adapun jumlah harinya yang berbeda-beda, yang pertama bagaimana puasa Nabiyullah Adam AS, bagaimana puasanya ialah puasa setiap bulannya sebanyak tiga hari, terhitung tanggal 13, 14 dan 15 tahun Hijriah, ketika bulan sedang terang-terangnya” jelas Ustad Akib.
Megapa disuruh oleh Allah SWT sebulan tiga hari, karna didalam kitab tafsir Ibnu Katsir, dikatakan ketika Nabiyullah Adam AS, keluar dari syurga tubuhnya terbakar, sehingga berpuasa dihari atau tanggal 13 Hijriah sepertiga tubuhnya disembuhkan oleh Allah, dihari kedua Nabi Adam AS berpuasa atau tanggal 14 Hijriah, sepertiga disembuhkan oleh Allah SWT, dan dihari atau tanggal 15 Hijriah Nabi Adam berpuasa Allah sembuhkan seluruhnya.
Puasa yang dikerjakan oleh Nabi Adam AS yang kita kenal saat ini yang dikerjakan oleh umat Nabi Muhammad adalah puasa ayyamul bidh yaitu puasa sunnah tiga hari yang dilaksanakan setiap pertengahan bulan Hijriah, tepatnya tanggal 13, 14, dan 15 (kecuali hari Tasyrik). Disebut "hari-hari putih" karena bulan purnama bersinar terang. Puasa ini sangat dianjurkan (sunnah muakkad) dengan keutamaan pahala setara puasa sepanjang tahun.
“Bagi Nabi Adam AS, tiga hari tersebut merupakan puasa wajib, sementara bagi umat Nabi Muhammad puasa tiga hari tersebut merupakan puasa sunnah” ungkap Ustad Akib.
Selanjutnya bagaimana pula puasa Nabi Nuh AS, diperintahkan oleh Allah SWT untuk berpuasa tatkala bahteranya diselamatkan oleh Allah, sehingga berpuasa selama empat puluh hari, dan Imam Qurtubi mengatakan, mendaratnya bahtera Nuh di bulan suci Ramadan, makanya Alim Ulama mengatakan puasa dibulan Ramadan ini bukan disyariatkan untuk umat Nabi Muhammad SAW tetapi untuk umat Nabi Nuh AS, namun tidak disyariatkan kepada umat Nabi Muhammad mengerjakan puasa 40 hari tersebut.
Yang berikutnya bagaimana puasa Nabi Daud AS, yaitu puasa sehari selang, Nabi Muhammad SAW bersabda sebaik-baik puasa adalah puasanya Nabi Daud AS, dan Alim Ulama mengatakan puasa Nabi Daud hanya bisa dikerjakan bagi mereka yang memiliki semangat kuat.
Sementara puasa yang dilarang ialah puasa wishal (menyambung puasa dua hari atau lebih tanpa berbuka saat maghrib) hukumnya makruh hingga haram (dilarang) bagi umat Muslim. Rasulullah SAW melarangnya sebagai bentuk kasih sayang agar tidak memberatkan fisik, meski beliau pernah melakukannya karena mendapat kekhususan makan/minum dari Allah.
Pada suatu waktu sahabat Nabi mengatakan, ya Rasullullah engaku sudah dijamin masuk syurga oleh Allah, sementara kami belum, biarlah kami senantiasa berpuasa tanpa berbuka, sehingga Rasullullah mengatakan, “Aku adalah orang yang paling bertaqwa, aku berpuasa dan juga aku berbuka”.
Ada juga dizaman Nabi yang menyampaikan engkau sudah dijamin syurga oleh Allah SWT, kami ingin senantiasa shalat malam, tanpa istirahat (tanpa jeda), Nabi juga mengatakan, “Wahai sahabatku aku adalah orang yang palin bertaqwa diantara kalian, aku shalat malam dan aku juga istirahat”.
“Sehingga Rasullullah SAW, menurunkan frekwensi semangat sahabat yang begitu besar, dikwatirkan tidak bisa menjaga semnagat itu sendiri dan istiqomah dalam beribadah” ungkap Ustad Akib.
Ada juga yang sangking semangat beribadah, tidak mau menikah, Rasullullah mengatakan “Wahai sahabatku aku orang yang paling bertaqwa diantara kalian, namun aku juga menikah”, Rasullullah menyampaikan bahwa orang yang beruntung adalah mereka yang mampu menjadikan hari ini lebih baik daripada kemarin dalam hal ibadah, amal, dan akhlak. Prinsip ini didasarkan pada hadis (riwayat Al-Hakim).
Ustad Akib yang akrab disapa UAA juga menyinggung masalah memerintahkan anak yang belum baliq untuk berpuasa tanpa harus memaksanaya, apalagi disaat sianak tidak mampu melanjutkan puasanya, orang tua memerintahkan kepada anaknya untuk berbuka, sehingga sia anak tidak truama dengan datangnya bulan Ramadan.
Berikutnya adalah puasa Nabi Musa AS, yang diperintahkan oleh Allah SWT ialah puasa ketika Nabi Musa AS mendapat wahyu dibukit Sina Nabi Musa AS berpuasa selama 40 hari 40 malam (30 hari pertama ditambah 10 hari kemudian) di Bukit Sinai (Thursina) sebelum menerima wahyu berupa kitab Taurat. Selama masa puasa dan munajat tersebut, beliau meninggalkan Bani Israil untuk fokus beribadah dan berbicara langsung dengan Allah SWT.
Walupun puasa 40 hari yang dilaksanakan oleh Nabu Musa AS, tapi untuk umatnya diperintahkan berpuasa selama satu hari di 10 Muharram, atau tepatnya hari Asyura, sehingga puasa umatnya Nabi Musa AS tersebut juga tidak diwajibkan kepada umat Nabi Muhammad SAW, hanya puasa sunnah di 10 Muharram saja.
Oleh sebab itu sebelum diwajibkan perintah puasa pada bulan Ramadan, Nabi Muhammad SAW hanya menjalankan puasa Ayyamul Bidh, karna wajib bagi Nabi, kemudian Rasullullah juga berpuasa Nabiyullah Daud selang sehari juga wajib bagi Nabi saat itu, dan puasa Nabiyullah Musa yaitu puasa Asyura juga wajib bagi Nabi.
“Saat diperintahkan oleh Allah SWT pada bulan Ramadan, sehingga semua puasa yang dilakukan oleh Nabi-nabi sebelumnya menjadi sunnah hukumnya bagi Nabi Muhammad SAW” jelas Ustad Akib.
Kapan disyariatkan berpuasa dibulan Ramadan? ialah pada tahun ke-2 Hijriah (sekitar 624 Masehi), setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Kewajiban ini diturunkan melalui Al-Qur'an, terutama dalam Surah Al-Baqarah ayat 183-185 dan 187. Ayat 183 menegaskan kewajiban bagi orang beriman, sementara 185 menetapkan Ramadan sebagai bulannya.
Dipenghujung ceramah Ustad Akib yang akrab disapa UAA menyampaikan, bahwa berdasarkan catatan sejarah Islam dan pendapat mayoritas ulama, Nabi Muhammad SAW melaksanakan puasa Ramadan sebanyak sembilan kali seumur hidup beliau, dengan rincian delapan kali berdurasi 29 hari dan satu kali berdurasi 30 hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....