Terlanjur Emosi dan Marah saat Berpuasa ? Berikut Penjelasannya Menurut Islam

  • 07 Mar 2026 08:55 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Ramadan adalah momen untuk menahan hawa nafsu, tidak hanya lapar dan haus, tetapi juga emosi. Namun, dalam keseharian, situasi memicu emosi sering tak terhindarkan, membuat sebagian orang terlanjur marah saat berpuasa. Pertanyaan yang sering muncul adalah, "Apakah puasa saya batal?".

Para ulama menegaskan bahwa secara fikih, marah, emosi, atau menangis tidak membatalkan puasa. Hal yang membatalkan puasa adalah hal-hal yang sudah ditetapkan syariat, seperti makan, minum dengan sengaja.Secara fikih, puasa tetap sah dari sebelum subuh hingga menjelang magrib, tetapi pahalanya bisa hilang jika tidak dapat menahan emosi.

Merujuk pada sabda Rasulullah SAW bahwa banyak orang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga tanpa pahala karena tidak menahan diri dari perkataan dusta, perbuatan buruk, ghibah, serta amarah. Puasa tersebut dianggap sia-sia oleh Allah karena tidak dibarengi dengan penjagaan hati dan lisan.

"Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga." (HR. Ibnu Majah, An-Nasa'i).

Meski tidak membatalkan puasa, marah yang berlebihan apalagi sampai mengeluarkan kata-kata kotor atau kasar dapat merusak nilai ibadah dan menghilangkan pahala puasa. Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa adalah tameng, maka jangan menjadi orang yang bodoh atau terpancing emosi saat puasa.

Jika sudah terlanjur marah saat Ramadan, umat Muslim dianjurkan untuk segera melakukan hal-hal berikut:

  1. Diam, Nabi Muhammad SAW menasihati, "Jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia diam".
  2. Ubah Posisi Fisik, Jika marah saat berdiri, duduklah. Jika duduk masih marah, berbaringlah.
  3. Berwudhu, Mengambil air wudhu dan membaca Al-Qur'an dapat menenangkan hati.
  4. Istighfar dan Lanjutkan Puasa, Segera beristighfar, sadari sedang berpuasa, dan tetap lanjutkan puasa hingga magrib.

Puasa sejatinya adalah latihan menahan diri. Dengan menjaga lisan dan emosi, kualitas puasa akan tetap terjaga dan keberkahan Ramadan dapat didapatkan secara maksimal. Para ahli mengingatkan bahwa Ramadan adalah "madrasah" kesabaran. Mengendalikan emosi bukan hanya soal menjaga keabsahan puasa, tetapi melatih diri menjadi pribadi yang lebih kuat dan bertaqwa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....