Kelola Emosi Melalui Puasa RRI Meulaboh Hadirkan Pakar Psikolog

  • 26 Feb 2026 15:39 WIB
  •  Meulaboh

RTI.CO.ID, Meulaboh – Memasuki bulan suci, pengendalian diri menjadi aspek krusial yang perlu dipahami oleh setiap individu. Menanggapi hal tersebut, LPP RRI Meulaboh melalui program SPADA (Selamat Pagi Teman Pro 2) menggelar diskusi inspiratif bertajuk "Puasa sebagai Sarana Pengendalian Emosi dan Pembentukan Kesabaran".

Acara yang disiarkan pada Senin, 23 Februari 2026 ini menghadirkan narasumber Ella Suzanna, S.Psi., MHSc., seorang Dosen Prodi Psikologi dari Universitas Malikussaleh. Diskusi yang dipandu oleh host Nanda ini mengupas tuntas bagaimana ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan sebuah instrumen psikologis untuk membentuk karakter yang tangguh.

Sudut Pandang Psikologi: Puasa dan Pengendalian Diri

Berdasarkan tinjauan psikologi yang dibahas dalam sesi tersebut, berikut adalah jawaban atas beberapa pertanyaan mendasar mengenai hubungan puasa dengan kesehatan mental:

1. Pengaruh Puasa Terhadap Kendali Emosi

Secara psikologis, puasa melatih fungsi eksekutif di otak, khususnya pada bagian prefrontal cortex yang bertanggung jawab atas kontrol impuls. Saat seseorang menahan dorongan biologis (lapar dan haus), ia secara tidak langsung melatih kekuatan mental untuk meregulasi respons emosional terhadap stimulan luar agar tidak reaktif.

2. Pemicu Emosional dan Cara Menyikapinya

Pemicu paling umum saat puasa adalah penurunan kadar gula darah (hypoglycemia) yang sering memicu rasa lemas dan sensitivitas tinggi (mudah tersinggung/marah). Cara menyikapinya adalah dengan melakukan "Pause & Reflect"—berhenti sejenak sebelum bereaksi, serta mengalihkan fokus pada aktivitas yang menenangkan seperti teknik pernapasan atau literasi keagamaan.

3. Puasa sebagai Latihan Self-Control

Ya, puasa adalah bentuk nyata dari latihan pengendalian diri (self-control). Dengan menunda kepuasan instan (delayed gratification), seseorang membangun ambang batas kesabaran yang lebih tinggi. Dampak jangka panjangnya adalah terbentuknya kebiasaan untuk berpikir sebelum bertindak, yang merupakan inti dari kesabaran.

4. Strategi Menjaga Stabilitas Emosi

Psikolog menyarankan beberapa strategi sederhana:

Manajemen Ekspektasi: Menyadari bahwa rasa lapar adalah bagian dari proses sehingga mental lebih siap menghadapi ketidaknyamanan.

Self-Talk Positif: Mengingat kembali tujuan spiritual puasa untuk meredam kekesalan.

Istirahat Cukup: Memastikan durasi tidur terjaga agar regulasi emosi tetap stabil di siang hari.

5. Manfaat Jangka Panjang: Resiliensi dan Kesehatan Mental

Puasa yang dijalankan dengan kesadaran penuh dapat meningkatkan ketahanan diri (resilience). Individu menjadi lebih adaptif dalam menghadapi tekanan hidup karena terbiasa menghadapi situasi sulit dengan kontrol diri yang baik. Hal ini berkontribusi pada penurunan tingkat kecemasan dan peningkatan kesejahteraan mental secara umum.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....