Perjuangan Atlet Lari Trail Indonesia untuk Raih Medali SEATRC 2026

  • 03 Agt 2026 22:57 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Jakarta - Kontingen atlet lari trail Tanah Air, Putra Aldio, Fitri, Pujas Rani Ratu Haj, Yusri Nanda, Indra Saputra, dan Melda Cantika baru saja meraih prestasi membanggakan pada South East Asia Trail Running Confederation (SEATRC) Cup 2026 yang digelar 24-26 Juli. Mereka mempersembahkan total 6 medali emas dan 2 perak untuk Indonesia dari berbagai kategori, termasuk 2 emas tambahan dari perhitungan tim.

Di antara para atlet, Fitri mempersembahkan 2 medali emas untuk Indonesia. Dari nomor Vertical 7 km dan Mountain Classic Senior. Pencapaian ini datang di tengah keterbatasan waktu persiapan.

Fitri menjelaskan bahwa ia sempat menjalani program hamil sebelum akhirnya mengetahui bahwa namanya masuk daftar peserta lomba, sehingga ia hanya memiliki waktu dua bulan untuk kembali berlatih setelah tiga bulan absen dari latihan rutin. Pengorbanan Fitri tak lain demi mengibarkan Bendera Merah Putih disertai berkumandangnya lagu Indonesia Raya.

Selanjutnya, Fitri fokus berlatih, mulai jogging hingga long run dengan jarak terjauh mencapai 20 km untuk latihannya. Dengan persiapan keras di tengah keterbatasan waktu, Fitri yakin bisa berdiri tegak di podium.

“Aku yakin sekali bilang mau juara. Soalnya kan latihannya ini keras juga,” terang atlet asal Sulawesi Selatan pada wawancaranya yang dilakukan Sabtu, 25 Juli 2026.

Keikutsertaan Fitri pada kompetisi ini merupakan yang pertama mewakili Indonesia.

Atlet putra, peraih medali emas Vertical 7 km dan perak Mountain Classic Senior, Putra Aldio juga menjelaskan bagaimana persiapannya. Pengorbanan juga dilakukan Aldio demi mempersiapkan diri mewakili Indonesia pada SEATRC 2026. Dua bulan sebelum perlombaan dimulai, ia berhenti untuk mengikuti lomba lari jalan raya pendek yang menjadi penghasilannya demi menyambung hidup.

Aldio pun fokus latihan SEATRC 2026 dengan latihan long run, medium run, dan interval yang dilakukan hingga tiga kali sehari. Aldio sempat jatuh sakit dua minggu sebelum kejuaraan akibat kelelahan yang berlebih. Mental pun terdampak karena merasa minder melihat lawan-lawannya yang bertubuh tinggi.

Namun begitu, demi Indonesia, ia melawan minder dengan semangat dan keyakinan mampu menampilkan performa maksimal atas latihannya.

“Saya sangat optimis dan yakin dengan potensi yang sudah saya latih dan berusaha untuk meyakinkan diri sendiri,” jelas Aldio yang diwawancara bersama Fitri. SEATRC Cup 2026 merupakan pengalaman pertama bagi Aldio untuk mewakili Indonesia di ajang tersebut. Ia juga menjelaskan bahwa lintasan yang dilalui cukup menantang, namun tertata rapi dan aman untuk dilewati,” jelasnya.

Cerita yang berbeda datang dari Pujas Rani Ratu Haj, peraih podium kedua di kategori Short Trail 42 km. Lintasan tersebut sudah menjadi tempat ia berlatih selama bertahun-tahun akan tetapi ia sempat tersesat akibat salah informasi dari warga sekitar, sebelum akhirnya ia kembali ke jalan yang benar. Akibat insiden ini ia sempat mengungkapkan kesulitan untuk mengejar posisi pertama, akan tetapi ia tetap bersyukur dengan hasil akhir yang ia raih.

“Asik banget sih untuk downhill, rasanya bebas aja gitu ketika turun ke arah Selabintana dan Putri. Alamnya bagus banget, gunung paling cakep di sekitar Jabodetabek,” terang Pujas yang ditemui dengan Fitri dan Aldio. Sebagai mantan pendaki gunung Mapala UI, ia sudah terbiasa menghadapi lintasan yang menantang, sehingga kini lebih fokus melatih kecepatan di sela-sela kesibukan kerjanya.

Pengorbanan Pujas juga tak kalah berat. Di tengah kesibukannya sebagai pekerja, ia harus pandai membagi waktu antara pekerjaan dan latihan demi bisa tampil maksimal di SEATRC Cup 2026.

“Kalau buat saya, pengorbanannya lebih ke konsistensi mungkin ya, karena sekarang juga bekerja, jadi harus pintar bagi waktu dan tetap latihan walaupun capek. Kadang harus mengurangi waktu istirahat atau kumpul bareng temen, tapi itu juga bagian dari proses,” ujar Pujas.

Peraih emas Mountain Classic Senior Yusri Nanda juga menceritakan pengorbanannya.

Selama dua bulan sebelum perlombaan, Yusri berlatih dengan disiplin tinggi, menjaga pola latihan, istirahat, dan makan demi bisa tampil maksimal di SEATRC Cup 2026.

Namun, jelang hari perlombaan, kondisi tubuhnya sempat menurun. Yusri mengalami diare dan masuk angin hanya sembilan jam sebelum kategori vertikal dimulai.

“Aku berlari sampai finish dalam kondisi menahan sakit, energi habis, dan persendian terasa lemas. Tapi karena ambisi untuk juara masih besar, aku tidak mau berhenti sampai di situ,” tegas Yusri.

Ditengah kondisi tersebut, dukungan dari rekan setimnya, Putra Aldio, turut membantu Yusri untuk bangkit menjelang kategori klasik. Ada satu kalimat dari Aldio yang terus ia ingat dan jadikan pedoman.

“Kaca depan lebih besar dari kaca spion. Fokus ke depan, yang di belakang cukup jadi pelajaran,” ujar Yusri, menirukan pesan dari Aldio.

Berbekal semangat itu, Yusri tampil lebih tenang di kategori klasik. Dari posisi belasan, ia perlahan menyalip para pesaingnya hingga berhasil merebut posisi terdepan di kilometer ketiga dan mempertahankannya hingga garis finish, mempersembahkan medali emas untuk Indonesia.

Di balik pencapaian para atlet, pelatih tim nasional, Sandy, turut menyampaikan kesannya terhadap perjuangan yang telah dilalui oleh seluruh kontingen.

“Sebagai bagian dari tim kepelatihan tim nasional, saya menyaksikan langsung bahwa seorang atlet sesungguhnya telah ‘bertanding’ jauh sebelum hari perlombaan tiba. Setiap sesi latihan adalah proses melawan rasa lelah, keraguan, dan keinginan untuk menyerah,” ujar Sandy.

Ia menambahkan bahwa medali hanyalah hasil akhir yang telah terlihat oleh publik, sementara nilai sesungguhnya terletak pada proses panjang untuk mendapatkannya. Setiap tetes keringat, setiap rasa sakit, setiap waktu yang dikorbankan, hingga setiap kegagalan yang berhasil dilewati, menurutnya, adalah bagian dari perjalanan seorang atlet.

Perjalanan Fitri, Putra Aldio, Pujas Rani Ratu Haj, dan Yusri Nanda menuju podium menyimpan cerita yang beda-beda, mulai dari keyakinan diri di tengah waktu persiapan yang singkat, latihan keras yang berujung sakit, hingga insiden tersesat di tengah lomba. Satu hal yang sama mereka rasakan adalah kekaguman terhadap keindahan alam Gede Pangrango, yang membuat pengalaman berlomba di sana terasa lebih dari sekadar kompetisi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....