Membentuk Generasi Berprestasi dari Ruang Latihan yang Pindah-pindah

  • 04 Mei 2025 00:58 WIB
  •  Meulaboh

KBRN, Meulaboh: Sore itu, halaman beton di pelataran SMK Negeri 2 Meulaboh tampak semarak. Seragam putih berkibar, sabuk warna-warni melingkar di pinggang para murid yang berbaris rapi. Di bawah langit yang mulai meredup, mereka mengikuti aba-aba sang pelatih dengan penuh semangat. Suara teriakan semangat dan derap kaki yang menghentak lantai menyatu dalam harmoni latihan yang sederhana, namun sarat makna.

Di tempat yang jauh dari kata ideal itu, semangat olahraga tetap tumbuh. Dojang Taekwondo Golden Star, klub kecil yang berdiri sejak empat tahun lalu, terus menempa puluhan atlet muda di Aceh Barat. Meski lahir dari keterbatasan, Golden Star telah menorehkan lebih dari seratus medali dari berbagai kejuaraan regional hingga nasional—sebuah capaian luar biasa bagi klub yang tak punya tempat latihan tetap.

“Kami latihan berpindah-pindah. Kadang di aula, kadang di halaman sekolah, bahkan di ruangan seadanya. Kami cari tempat yang aman dan nyaman semampunya,” ujar Lukman, Ketua Dojang Golden Star.

Menurutnya, sudah saatnya pemerintah daerah memberi perhatian yang layak terhadap pembinaan atlet usia dini. “Anak-anak ini sudah menunjukkan prestasi. Tapi sampai sekarang, belum ada dukungan konkret berupa fasilitas dari pemerintah Aceh Barat,” tambahnya.

Sauqi, salah satu atlet muda berbakat di Golden Star, juga merasakan langsung dampaknya. “Latihan kadang harus berhenti mendadak karena tempatnya dipakai untuk acara lain. Susah fokus. Kami ingin ada tempat khusus agar latihan lebih maksimal,” katanya.

Kini, jelang seleksi Pekan Olahraga Aceh (Pra Pora) 2025, keterbatasan ruang latihan menjadi tantangan yang kian terasa. Pelatih SBM Golden Star, Muzanni, mengaku harus bekerja lebih keras untuk menjaga semangat anak didiknya. “Kami sangat butuh tempat latihan yang layak. Ini soal persiapan fisik dan mental atlet. Jangan sampai energi mereka habis bukan karena latihan, tapi karena soal tempat,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya transparansi dalam proses seleksi. “Seleksi harus independen. Jangan ada intervensi. Yang lolos harus benar-benar yang terbaik. Kita bicara tentang masa depan olahraga Aceh, bukan sekadar daftar nama,” katanya.

Di tengah ruang latihan yang terus berpindah-pindah itu, para atlet muda tetap berdiri tegak. Mereka belajar bukan hanya teknik tendangan atau jurus bertahan, tapi juga arti kesabaran, disiplin, dan mimpi besar yang tumbuh meski dari lantai semen yang dingin. Mereka percaya, dengan kerja keras dan dukungan yang layak, podium prestasi bukan hal yang mustahil.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....