Leumang Khas Aceh, Cita Rasa Tradisional yang Tak Pernah Pudar
- 30 Jun 2026 17:53 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Leumang menjadi salah satu kuliner tradisional khas Aceh yang hingga kini tetap bertahan di tengah gempuran makanan modern. Hidangan yang terbuat dari beras ketan, santan, dan sedikit garam ini dikenal memiliki cita rasa gurih dengan aroma khas bambu yang menggugah selera. Tak heran, leumang masih menjadi makanan favorit masyarakat, terutama saat musim durian tiba.
Proses pembuatan leumang memerlukan ketelatenan dan kesabaran. Beras ketan terlebih dahulu dicuci bersih, kemudian direndam agar teksturnya menjadi lebih lembut saat dimasak. Setelah itu, ketan dicampur dengan santan yang telah diberi sedikit garam sehingga menghasilkan rasa gurih yang meresap hingga ke dalam.
Selanjutnya, bambu muda yang telah dibersihkan dilapisi daun pisang pada bagian dalamnya. Daun pisang berfungsi sebagai pelapis agar ketan tidak langsung bersentuhan dengan bambu sekaligus memberikan aroma alami saat proses pemasakan. Campuran ketan dan santan kemudian dimasukkan ke dalam bambu hingga sekitar tiga perempat bagian.
Tahap berikutnya adalah proses pembakaran. Bambu yang telah berisi adonan ketan disusun berjajar di dekat bara api dan dipanggang sambil sesekali diputar agar matang secara merata. Proses ini dapat berlangsung selama beberapa jam hingga ketan benar-benar matang dan menghasilkan aroma harum yang khas. Teknik memasak menggunakan bambu inilah yang menjadi ciri khas leumang dan membedakannya dari olahan ketan lainnya.
Setelah matang, bambu dibelah secara perlahan untuk mengeluarkan leumang yang telah padat dan bertekstur lembut. Leumang dapat dinikmati begitu saja, namun masyarakat Aceh memiliki cara istimewa dalam menyantapnya, yakni dipadukan dengan daging durian yang manis dan legit. Perpaduan rasa gurih dari leumang dengan manisnya durian menciptakan sensasi kuliner yang begitu khas dan sulit dilupakan.
Bagi masyarakat Aceh, menikmati leumang bersama durian bukan sekadar tradisi kuliner, tetapi juga menjadi momen kebersamaan bersama keluarga dan kerabat. Saat musim durian tiba, penjual leumang mudah ditemukan di berbagai daerah karena tingginya permintaan masyarakat yang ingin menikmati perpaduan dua makanan legendaris tersebut.
Di tengah berkembangnya berbagai jenis makanan kekinian, leumang tetap mampu mempertahankan eksistensinya sebagai warisan kuliner daerah. Keunikan proses pembuatannya yang masih menggunakan cara tradisional serta cita rasa autentik menjadikan leumang sebagai salah satu ikon kuliner Aceh yang patut dijaga dan terus dilestarikan agar dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....