Dimensia pada Lansia Bisa Dicegah, Dokter Tekankan Pentingnya Gaya Hidup Sehat

  • 18 Jul 2026 10:53 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Dimensia pada usia lanjut menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian masyarakat. Gangguan yang sering disalahartikan sebagai pikun akibat faktor usia ini sebenarnya bukan bagian normal dari proses penuaan. Dokter Spesialis Jiwa RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh, dr. Saridewi Apriyanti, M.Si., Sp.KJ., mengingatkan bahwa dimensia dapat dicegah dengan menerapkan gaya hidup sehat dan menjaga kesehatan otak sejak usia muda.

Dalam dialog tersebut, dr. Saridewi menjelaskan bahwa dimensia bukan sekadar pikun biasa, melainkan penurunan fungsi daya ingat yang disertai gangguan aktivitas sehari-hari. Ia menegaskan bahwa anggapan pikun sebagai proses normal penuaan adalah keliru.

"Dimensia tidak harus dialami setiap orang saat memasuki usia lanjut. Kondisi ini dapat dicegah dengan menerapkan pola hidup sehat sejak usia muda," ujarnya.

Menurutnya, sejumlah faktor risiko yang meningkatkan peluang seseorang mengalami dimensia antara lain kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, kurang aktivitas fisik, jarang melatih kemampuan berpikir, pola makan tidak seimbang, serta faktor genetik.

Ia menyarankan masyarakat untuk rutin melatih fungsi otak melalui aktivitas yang merangsang daya pikir, seperti membaca, menghafal, mengerjakan teka-teki, hingga mempelajari Al-Qur'an yang dinilai melibatkan proses berpikir kompleks. Selain itu, konsumsi makanan bergizi seimbang, termasuk protein, sayur, buah, serta sumber vitamin B12 seperti ikan, telur, tempe, dan tahu, juga berperan penting dalam menjaga kesehatan otak.

Dr. Saridewi juga mengingatkan agar masyarakat mewaspadai gejala awal demensia, seperti sering lupa, kesulitan melakukan aktivitas sederhana, mudah bingung, hingga perubahan emosi. Semakin cepat kondisi tersebut dikenali dan ditangani, semakin besar peluang mempertahankan kualitas hidup penderita.

"Target terapi bukan mengembalikan fungsi otak seperti semula, tetapi mencegah agar penurunan fungsi tidak semakin berat," jelasnya.

Ia menambahkan, penanganan dimensia tidak hanya berfokus pada pasien, tetapi juga keluarga sebagai pendamping. Edukasi kepada anggota keluarga sangat penting agar mampu memahami perubahan perilaku penderita dan memberikan dukungan yang tepat.

Sementara itu, Emi Hartini menyatakan pihak RSUD Cut Nyak Dhien melalui Instalasi PKRS terus memberikan edukasi kepada masyarakat dan keluarga pasien mengenai pencegahan serta penanganan demensia. Menurutnya, kolaborasi tenaga kesehatan dan keluarga menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas hidup lansia yang mengalami gangguan daya ingat.

Melalui kegiatan edukasi tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa dimensia bukan bagian normal dari proses penuaan dan dapat dicegah dengan menerapkan gaya hidup sehat secara konsisten sejak usia dini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....