ChatGPT Dipakai Terus Bisa Menguras Air Bersih, Benarkah?

  • 17 Sep 2026 13:10 WIB
  •  Meulaboh

RRI.co.id, Meulaboh: Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence atau AI kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari mencari informasi, membantu belajar, membuat tulisan hingga menghasilkan berbagai konten. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaa benarkah penggunaan AI seperti ChatGPT juga membutuhkan air bersih?

Dilansir RRI dari berbagai sumber, ada penggunaan air dalam operasional AI, tetapi bukan karena aplikasi ChatGPT secara langsung menggunakan air di perangkat pengguna. AI dijalankan melalui pusat data yang berisi banyak komputer dan server. Peralatan tersebut menghasilkan panas sehingga membutuhkan sistem pendinginan. Sebagian pusat data menggunakan air sebagai bagian dari proses pendinginan tersebut.

Sebuah penelitian yang membahas jejak air AI menunjukkan bahwa kebutuhan air dapat berasal dari proses pelatihan model maupun saat model digunakan untuk menjawab permintaan pengguna. Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa jumlah air yang digunakan tidak selalu sama, karena dipengaruhi lokasi pusat data, teknologi pendinginan, sumber listrik, jenis perangkat keras, serta efisiensi sistem.

Karena itu, angka yang sering beredar di media sosial seperti “sekian pertanyaan ChatGPT menghabiskan satu botol air” tidak bisa dianggap sebagai angka pasti untuk setiap percakapan. Bahkan, pengukuran terbaru dari Google menunjukkan bahwa median satu prompt teks Gemini pada Mei 2025 diperkirakan menggunakan sekitar 0,26 mililiter air, dengan metodologi khusus yang memperhitungkan operasional pusat data Google. Angka ini juga bukan angka yang dapat langsung diterapkan pada ChatGPT atau semua layanan AI.

Jadi, benarkah AI memiliki jejak air? Ya. Apakah setiap kali kita bertanya kepada ChatGPT berarti sejumlah besar air bersih langsung terbuang? Tidak sesederhana itu. Persoalan yang lebih penting adalah skala penggunaannya. Ketika jutaan bahkan miliaran permintaan AI diproses, kebutuhan energi dan sumber daya pusat data secara keseluruhan ikut meningkat.

Di sisi lain, perusahaan teknologi juga terus mengembangkan pusat data dan perangkat keras yang lebih efisien, termasuk teknologi pendinginan dan pengelolaan air. Google, misalnya, menyatakan terus mengembangkan efisiensi AI sekaligus mengurangi kebutuhan air per permintaan.

Kesimpulannya, menggunakan ChatGPT atau AI tidak perlu dianggap sebagai tindakan yang otomatis “menghabiskan air bersih”. Namun, AI memang memiliki jejak lingkungan, termasuk penggunaan air di balik layar. Karena itu, perkembangan teknologi AI juga perlu diiringi inovasi agar semakin hemat energi dan air.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....