UTU Kembangkan Kawasan Riset Madu Tropis di Aceh
- 30 Jul 2026 21:37 WIB
- Meulaboh
Poin Utama
- Kampus UTU mengembangkan kawasan riset madu tropis sebagai upaya mengoptimalkan potensi lebah lokal di Aceh
- Program pengembangan ini bertujuan mendorong hilirisasi produk berbasis madu untuk meningkatkan nilai tambah industri lokal
RRI.CO.ID, Meulaboh- Universitas Teuku Umar (UTU) mengembangkan kawasan riset madu tropis untuk mengoptimalkan potensi lebah lokal. Pengembangan ini juga bertujuan mendorong hilirisasi produk berbasis madu di Aceh.
Hal tersebut disampaikan oleh Maulidi Fajri, SP., M.Si., Dosen Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian UTU, dan M. Farhan Putra Ernil, M.Si., Dosen Program Studi Agribisnis sekaligus Anggota Profesi Perhimpunan Entomologi Indonesia, dalam program Sore Ceria Pro2 RRI Meulaboh, pada Kamis, 30 Juli 2026.
Maulidi mengatakan, kawasan yang sebelumnya berfokus sebagai sarana edukasi kini dikembangkan menjadi pusat pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta komersialisasi. Pengembangan tersebut juga mendukung pelaksanaan tridarma perguruan tinggi melalui kegiatan praktikum mahasiswa, penelitian, publikasi ilmiah nasional dan internasional, hingga pengembangan bisnis.
“Kawasan ini tidak hanya menjadi tempat edukasi, tetapi juga mendukung kegiatan riset, pengabdian, pendidikan, dan pengembangan usaha,” ujarnya.
Kawasan riset memanfaatkan kondisi Aceh sebagai wilayah tropis dengan dua musim serta memiliki beragam vegetasi berbunga yang dapat menjadi sumber pakan alami lebah. Penelitian saat ini berfokus pada lebah tanpa sengat atau kelulut jenis Heterotrigona itama yang dikenal dengan sebutan linot.
Tim peneliti juga berencana melakukan survei potensi lebah di Aceh Barat untuk mengidentifikasi jenis lain, termasuk spesies Cerana.
“Lebah tidak diberikan pakan tambahan berupa gula, tetapi hanya memanfaatkan nektar dan serbuk sari dari vegetasi berbunga alami,” jelasnya.
Dalam budidaya kelulut, digunakan sistem topping yang terdiri atas sarang utama dan kotak pemeliharaan. Madu dapat dipanen sekitar satu bulan sekali dengan hasil berkisar 120 mililiter hingga satu liter per kotak, bergantung pada kondisi koloni dan ketersediaan pakan.
Sementara itu, M. farhan menambahkan lebah sengat dari kelompok Apis dipelihara menggunakan kotak sisir dengan masa panen sekitar dua hingga tiga bulan.
“Kelulut lebih aman dikembangkan di lingkungan masyarakat karena tidak memiliki sengat, sedangkan lebah Apis memiliki risiko bagi kawasan permukiman,” tamabahnya.
Selain menghasilkan madu yang mengandung antioksidan dan enzim, lebah juga berperan sebagai organisme penyerbuk yang menjaga rantai makanan, membantu regenerasi tumbuhan, dan mempertahankan keanekaragaman hayati.
UTU turut memberikan pendampingan kepada masyarakat mitra di Aceh Barat melalui konsultasi budidaya, penerapan pola cloning, pemeliharaan koloni, serta rekomendasi tanaman pakan.
“Harapan kami, pusat riset madu tropis ini dapat menjadi rujukan nasional dan global serta mendorong hilirisasi produk lebah,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....