HDEC UTU Menjaga Sawah Menjaga Masa Depan
- 29 Jul 2026 23:12 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID,Meulaboh - Pusat Riset Human Development and Entrepreneurship Center Universitas Teuku Umar (HDEC UTU) melaksanakan penelitian lapangan mengenai pengembangan kapasitas petani melalui pendekatan Infinite Mindset di Desa Suak Ribee, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat. Rabu, 29 Juli 2026.
Kegiatan penelitian ini tidak hanya diarahkan untuk mengidentifikasi keterampilan teknis, kondisi produksi, dan kebutuhan ekonomi petani, tetapi juga untuk memahami cara pandang yang membuat petani tetap bertahan, menjaga kelompoknya, serta memikirkan keberlanjutan pertanian dalam jangka panjang.
Tim yang turun dalam kegiatan tersebut terdiri atas Muhammad Reza Aulia, S.Pt., M.Si., selaku Ketua Pusat Riset HDEC UTU; Abdul Muzammil, S.P., M.M., selaku Ketua Tim Penelitian Pusat Riset sekaligus anggota HDEC UTU; Utari Azrani, S.P., M.P., selaku anggota tim penelitian sekaligus Sekretaris HDEC UTU; serta Cut Salsabila, S.P., selaku anggota HDEC UTU sekaligus enumerator penelitian.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara bersama Saddianto, Sekretaris Kelompok Tani Sapue Pakat.
Kelompok tani yang diketuai oleh Idrus tersebut memiliki sekitar 35 orang anggota yang mayoritas berprofesi sebagai petani padi. Saddianto telah menjalankan kegiatan usaha tani selama kurang lebih 10 tahun. Pada usia 65 tahun, meskipun telah memasuki masa pensiun sebagai anggota Kepolisian Republik Indonesia, ia tetap aktif bertani dan terlibat dalam kehidupan kelompok tani.

-Bertani Melampaui Perhitungan Satu Musim.
Hasil wawancara memperlihatkan bahwa petani di Desa Suak Ribee masih menghadapi berbagai persoalan. Sebagian besar lahan persawahan masih mengandalkan sistem tadah hujan, sehingga waktu tanam dan hasil produksi sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Kelompok tani juga menghadapi keterbatasan alat dan mesin pertanian, belum optimalnya pendampingan, serta ketersediaan pupuk bersubsidi yang tidak selalu berkelanjutan. Tantangan lain muncul dari semakin rendahnya minat generasi muda untuk melanjutkan kegiatan pertanian.
Namun, di tengah berbagai keterbatasan tersebut, Saddianto tetap memilih menjadi petani. Pilihan itu tidak lagi semata-mata didasarkan pada pertimbangan keuntungan ekonomi yang dapat diperoleh dalam satu musim tanam. Ia melihat kegiatan bertani sebagai bagian dari tanggung jawab terhadap kelompok, masyarakat, dan masa depan Desa Suak Ribee.
Bagi Saddianto, keberlanjutan Kelompok Tani Sapue Pakat perlu terus dijaga agar para petani tetap memiliki ruang untuk berkoordinasi, bertukar informasi, menyampaikan kebutuhan, dan saling membantu.
Ia juga menginginkan agar desa tetap memiliki lahan persawahan yang produktif, kegiatan produksi pangan tidak terhenti, dan pengetahuan bertani dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Bertani bukan sekadar menghitung untung dan rugi dalam satu musim. Bertani adalah menjaga kelompok, mempertahankan pangan, merawat desa, dan menanam harapan bagi masa depan.
Cara pandang tersebut memperlihatkan bahwa bertani tidak selalu dapat dimaknai hanya sebagai pekerjaan yang diukur berdasarkan besarnya keuntungan pada satu periode. Bertani juga berkaitan dengan upaya menjaga pangan, mempertahankan fungsi lahan, merawat kebersamaan, serta memastikan bahwa desa masih mempunyai sumber kehidupan yang dapat diwariskan.
Cerminan Just Cause dalam Infinite Mindset
Dalam kerangka penelitian HDEC UTU, sikap Saddianto mencerminkan salah satu unsur penting dalam Infinite Mindset, yaitu Just Cause atau tujuan luhur yang layak diperjuangkan dalam jangka panjang.
Just Cause merupakan tujuan yang lebih besar daripada kepentingan pribadi dan hasil sesaat.
Tujuan tersebut memberikan alasan kepada seseorang untuk tetap bertahan, berkontribusi, dan mengambil keputusan yang dampaknya mungkin baru dirasakan oleh kelompok atau generasi berikutnya.
Dalam konteks Saddianto, tujuan tersebut hadir dalam bentuk yang nyata: menjaga agar kelompok tani tetap berjalan, mempertahankan lahan padi di desa, menjaga keberlanjutan produksi pangan, dan membuka kemungkinan agar generasi muda masih dapat melanjutkan kegiatan pertanian pada masa mendatang.
Pemikiran tersebut menunjukkan bahwa orientasi jangka panjang dapat menjadi salah satu sumber kekuatan petani ketika berhadapan dengan ketidakpastian cuaca, kenaikan biaya produksi, keterbatasan sarana, dan perubahan sosial di pedesaan. Petani yang mempunyai alasan kuat untuk terus bertani tidak hanya bertanya mengenai hasil yang diperoleh hari ini, tetapi juga mempertimbangkan apa yang akan tetap tersedia bagi desa pada masa depan.
Kapasitas Petani Tidak Hanya Bersifat Teknis
Penelitian HDEC UTU menempatkan kapasitas petani sebagai konsep yang lebih luas daripada kemampuan mengolah lahan, menggunakan pupuk, memilih benih, atau meningkatkan hasil panen. Kapasitas petani juga mencakup kemampuan menetapkan tujuan bersama, membangun kepercayaan dalam kelompok, mengambil keputusan jangka panjang, beradaptasi terhadap perubahan, dan mempersiapkan regenerasi.
Melalui pendekatan Infinite Mindset, pengembangan kapasitas petani diarahkan untuk memperkuat beberapa aspek secara bersamaan. Petani tetap membutuhkan kemampuan teknis dan manajerial agar usaha taninya produktif dan layak secara ekonomi. Namun, petani juga perlu memiliki tujuan yang lebih luas, kekuatan kolektif, kemampuan belajar, serta keberanian melakukan perubahan ketika kondisi pertanian tidak lagi dapat dihadapi dengan cara lama.
Dalam konteks kelompok tani, Just Cause dapat menjadi dasar untuk menyatukan para anggota. Tujuan kelompok tidak berhenti pada memperoleh bantuan atau meningkatkan produksi dalam satu musim, tetapi berkembang menjadi komitmen untuk menjaga keberlanjutan lahan, meningkatkan kesejahteraan anggota, memperkuat posisi petani, dan mempersiapkan generasi penerus.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendorong kegiatan pemberdayaan petani yang tidak bersifat sesaat. Pelatihan dan bantuan perlu diikuti dengan penguatan tujuan kelompok, perencanaan usaha tani jangka panjang, pembagian peran, mekanisme regenerasi kepengurusan, serta proses transfer pengetahuan kepada petani muda.
- Infinite Mindset Bukan Mengabaikan Keuntungan Petani.
HDEC UTU menegaskan bahwa Infinite Mindset bukanlah ajakan agar petani mengabaikan keuntungan, menerima kerugian, atau terus bertahan tanpa dukungan yang memadai. Pendapatan dan keuntungan tetap diperlukan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, membiayai musim tanam berikutnya, dan mempertahankan kelayakan usaha tani.
Akan tetapi, keuntungan tidak ditempatkan sebagai satu-satunya alasan untuk bertani.
Dalam cara pandang jangka panjang, keuntungan merupakan sarana agar kegiatan pertanian, kehidupan keluarga petani, dan tujuan bersama kelompok dapat terus dipertahankan.
Karena itu, keteguhan Saddianto tidak boleh digunakan untuk meromantisasi keterbatasan yang dihadapi petani. Komitmen pribadi dan kekuatan mental tetap harus diikuti oleh dukungan struktural berupa perbaikan sistem irigasi, penyediaan alat dan mesin pertanian, ketersediaan pupuk yang tepat waktu, penguatan peran penyuluh, akses pembiayaan, serta kebijakan regenerasi petani.
Infinite Mindset akan memberikan hasil yang lebih kuat apabila didukung oleh lingkungan kelembagaan yang memungkinkan petani mengubah tujuan jangka panjang menjadi tindakan yang produktif dan berkelanjutan.
Menuju Model Pengembangan Kapasitas Petani
Temuan dari Kelompok Tani Sapue Pakat menjadi salah satu pijakan bagi tim HDEC UTU untuk merumuskan pendekatan pengembangan kapasitas petani berbasis Infinite Mindset.
Penelitian ini diarahkan untuk melihat bagaimana tujuan luhur, orientasi jangka panjang, kekuatan kelompok, kemampuan beradaptasi, dan regenerasi dapat diintegrasikan dengan peningkatan kompetensi teknis serta kelayakan ekonomi usaha tani.
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan rekomendasi bagi kelompok tani, penyuluh pertanian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lainnya. Rekomendasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan bantuan sarana produksi, tetapi juga dengan desain pendampingan yang mampu memperkuat alasan petani untuk berkembang dan bertahan bersama.
Kisah Saddianto memperlihatkan bahwa keberlanjutan pertanian sering kali dijaga oleh orang-orang yang bekerja melampaui kepentingan dirinya sendiri.
Ia tetap bertani bukan hanya karena memikirkan apa yang dapat diperoleh dari sawah hari ini, tetapi karena memikirkan apa yang akan hilang dari desa apabila tidak ada lagi orang yang bersedia menjaganya.
“Bertani, dalam pandangan tersebut, bukan sekadar pekerjaan untuk menghasilkan pendapatan. Bertani adalah cara menjaga kelompok, mempertahankan pangan, merawat desa, dan menanam harapan bagi masa depan.”
Tentang HDEC UTU
Human Development and Entrepreneurship Center Universitas Teuku Umar (HDEC UTU) merupakan pusat riset yang berfokus pada pengembangan manusia, kapasitas kelembagaan, kewirausahaan, dan pembangunan masyarakat berbasis bukti.
Melalui penelitian lapangan dan kolaborasi dengan masyarakat, HDEC UTU berupaya menghasilkan rekomendasi yang relevan bagi penguatan kapasitas individu dan kelompok serta pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....