Akademisi UTU Perkenalkan Teknologi Rumpon Ijuk kepada USM

  • 04 Nov 2025 11:58 WIB
  •  Meulaboh

KBRN, Meulaboh: Akademisi Universitas Teuku Umar (UTU) Hafinuddin, M.Sc mempresentasikan keunggulan teknologi Eco-Friendly Palm Fiber Fish Aggregating Device (PF-FAD) atau Rumpon Ijuk kepada akademisi Universiti Sains Malaysia (USM), Selasa (11/4/2025). Teknologi Alat Penangkapan Ikan Rumpon Ijok ramah lingkungan sukses dikembangan para peneliti UTU Indonesia.

Pertemuan akademisi ini mengisi ruang saat penandatanganan kerjasama atau Memorandum of Agreement (MoA) antara UTU dan USM di Bilik Persidangan 107. Jalinan Kerjasama perguruan tinggi antar negara ini diinisiasi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UTU untuk memperkuat jaringan akademik internasional.

Penandatanganan MoA dilakukan oleh Prof. Dr. Ir. Ismail Sulaiman, S.TP., M.Sc., IPU., ASEAN Eng., selaku Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UTU, bersama Prof. Madya Amir Hamzah Ahmad Ghazali, selaku Dekan School of Biological Sciences (Pusat Pengajian Kajihayat), USM.

Turut hadir Associate Professor Dr. Ahmad Ramli Mohd Yahya, Timbalan Dekan (Deputy Dean) Research, Innovation and Industry-Community Engagement, serta Dr. Munandar, S.Kel., M.Sc., Ketua Jurusan Perikanan UTU.

“Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam mengembangkan riset dan inovasi kelautan berkelanjutan,” ujar Hafinuddin, M.Sc, dalam siaran persnya dalam pertemuan ilmiah internasional ini menjadi salah satu wadah untuk kolaborasi dalam pengembangan teknologi Eco-Friendly Palm Fiber Fish Aggregating Device (PF-FAD) atau Rumpon Ijuk Ramah Lingkungan.

Inovasi ini memanfaatkan serat ijuk sebagai material alami dan bahan lokal sebagai komponen utama. Teknologi PF-FAD dinilai mampu mendukung praktik perikanan berkelanjutan, menekan biaya operasional nelayan kecil, dan menjaga ekosistem laut tetap lestari.

Acara ini juga diisi dengan presentasi hasil riset bertajuk “Eco-Friendly Palm Fiber Fish Aggregating Device (PF-FAD): A Sustainable Innovation for Small-Scale Fisheries”, yang menyoroti kontribusi teknologi lokal terhadap pembangunan ekonomi biru dan peningkatan kesejahteraan nelayan skala kecil.

Hafinuddin, dalam sesi presentasi dan tanya jawab bersama peneliti USM menyampaikan tantangan dalam pengelolaan perikanan skala kecil yaitu ketidakpastian daerah penangkapan ikan, biaya operasional melaut semakin tinggi, dan konflik horizontal antar nelayan.

“Dengan adanya rumpon ijuk ini diharapkan menjadi salah satu solusi untuk pembangunan perikanan skala kecil yang semakin efektif, selektif dan prospektif secara ekonomi,” demikian Hafinuddin, M.Si.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....