Disdik Aceh Perkuat Gerakan Literasi
- 18 Apr 2026 21:14 WIB
- Meulaboh
RRI.CO, ID, Banda Aceh — Dinas Pendidikan Aceh terus memperkuat budaya literasi di kalangan guru dan siswa melalui Forum Group Discussion (FGD) yang melibatkan guru Bahasa Indonesia jenjang SMA dan SMK di Banda Aceh dan Aceh Besar.
di Aula Dinas Pendidikan Aceh ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, dengan fokus utama mendorong peningkatan minat baca serta kemampuan memahami teks di kalangan siswa, Kegiatan yang berlangsung pada Selasa 14 April 2026
FGD yang berlangsung selama 3,5 jam tersebut difasilitasi oleh pegiat literasi Aceh, Yarmen Dinamika, dan turut dihadiri kalangan akademisi. Dari Universitas Syiah Kuala hadir Drs. Mukhlis A. Hamid, M.Pd, sementara dari Universitas Bina Bangsa Getsempena hadir Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, Wahidah Nasution, M.Pd. Kegiatan ini juga diikuti perwakilan Balai Penjamin Mutu Pendidikan Aceh.
Dalam arahannya, Murthalamuddin menekankan pentingnya menghadirkan program konkret yang mampu mengintegrasikan literasi ke dalam budaya sekolah.
“Literasi harus dibangun sebagai ekosistem, bukan sekadar aktivitas tambahan di sekolah bahkan bisa dijadikan budaya di sekolah,” ujarnya.
Salah satu target yang dicanangkan adalah terciptanya minimal 20 buku fiksi karya lokal yang dapat diedarkan di perpustakaan sekolah. Program penulisan dan penerbitan buku ini dikoordinasikan oleh Fatimah, M.Pd, Ketua MGMP Bahasa Indonesia Kota Banda Aceh sekaligus guru di SMAN 3 Banda Aceh.
Murthalamuddin juga mendorong sekolah menghadirkan berbagai program literasi seperti pojok baca di kelas, kegiatan membaca rutin, hingga diskusi dan penulisan karya siswa. Ia menilai pendekatan berbasis minat dan psikologi pembaca muda menjadi kunci dalam meningkatkan ketertarikan siswa terhadap bacaan.
“Strategi literasi harus disesuaikan dengan minat dan psikologi pembaca muda, dan Literasi harus menjadi fondasi utama dalam membangun kemampuan komunikasi, nalar, serta daya pikir kritis siswa secara berkelanjutan” jelasnya.
Lebih lanjut, ia berharap sekolah mampu menciptakan ruang-ruang literasi yang aktif melalui lomba menulis, diskusi buku, hingga publikasi karya siswa. Upaya ini diyakini dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan berbahasa siswa.
Sementara itu, Akademis USK Mukhlis A. Hamid menegaskan bahwa peran guru sangat strategis dalam mendorong siswa aktif menulis berbagai bentuk karya, mulai dari cerita, opini hingga pengalaman sehari-hari.
“Kebiasaan menulis yang diiringi publikasi akan melatih siswa lebih terbuka terhadap kritik dan masukan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa tantangan utama saat ini masih berada pada aspek literasi yang tidak hanya mencakup kemampuan membaca, tetapi juga memahami, mengolah, dan mengekspresikan gagasan melalui bahasa. Karena itu, diperlukan dukungan semua pihak, termasuk pemerintah.
Pemerintah dapat berperan melalui penyediaan fasilitas seperti taman baca, perpustakaan gampong, serta dukungan terhadap berbagai kegiatan literasi masyarakat.
Dengan kolaborasi antara sekolah, perguruan tinggi, dan dukungan penuh dari Dinas Pendidikan Aceh, Mukhlis optimistis gerakan literasi akan berkembang lebih luas dan berdampak nyata.
Ia berharap sinergi lintas sektor mampu melahirkan generasi muda yang gemar membaca dan menulis, sekaligus mampu berpikir kritis dan mengekspresikan gagasan secara mandiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....