Inspiratif, Mahasiswa KPI STAIN Meulaboh Tulis Novel Fantasi dari Bangku SMP
- 20 Apr 2026 18:25 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) STAI Teungku Dirundeng Meulaboh, Ros Maulida atau akrab disapa Ida, membuktikan bahwa karya tulis dapat lahir sejak usia muda. Ia telah menulis novel sejak duduk di bangku SMP dan terus mengembangkan minat menulisnya hingga kini.
Dalam sebuah siaran program Sore Ceria Pro 2 RRI Meulaboh, Ida menceritakan perjalanan awalnya menulis yang berangkat dari kebiasaan membaca. Inspirasi terbesarnya datang dari novel Bidadari Bermata Bening karya Habiburrahman El Shirazy yang membuatnya terdorong untuk menciptakan karya serupa.
“Sejak SMP sudah terbiasa menulis. Awalnya tidak terpikir untuk menulis novel, tapi setelah membaca banyak buku jadi ingin juga membuat karya sendiri,” ujar Ida dalam siaran tersebut.
Novel perdananya berjudul Dyra mengangkat kisah persahabatan, perjalanan karier seorang perempuan, serta unsur cinta yang dibalut dengan latar cerita di Turki. Meski begitu, latar tersebut merupakan hasil imajinasi yang terinspirasi dari diskusi bersama teman-temannya.
“Tokoh Dyra saya buat sebagai sosok ideal yang tidak bisa saya wujudkan di dunia nyata, jadi saya tuangkan dalam cerita,” jelasnya.
Proses penulisan novel tersebut memakan waktu sekitar satu tahun, dimulai sejak kelas 2 SMP hingga kelas 3 SMP, tepat pada masa pandemi COVID-19. Kondisi tersebut justru dimanfaatkannya untuk tetap produktif di tengah keterbatasan aktivitas luar. Ida juga mengungkapkan bahwa lingkungan pesantren menjadi salah satu faktor pendukung produktivitas menulisnya. Keterbatasan penggunaan gawai membuatnya lebih fokus membaca dan menulis.
“Karena di pesantren tidak banyak distraksi, jadi ide-ide lebih mudah dituangkan,” katanya.
Selain Dyra, Ida kini juga tengah mengembangkan karya lain bertema fantasi kerajaan yang dipublikasikan melalui platform Wattpad. Ia juga aktif mengikuti lomba penulisan cerpen di lingkungan kampus.
Namun, ia mengakui sempat mengalami kendala dalam menulis ketika tidak lagi mendapatkan banyak masukan dari lingkungan sekitarnya. Menurutnya, dukungan pembaca dan komunitas sangat berpengaruh terhadap semangat berkarya.
“Kalau dulu teman-teman sering membaca dan memberi masukan, jadi semangat menulis. Sekarang kalau kurang feedback jadi lebih sulit melanjutkan,” ungkapnya.
Ida turut membagikan tips bagi pelajar maupun mahasiswa yang ingin menekuni dunia kepenulisan. Ia menekankan pentingnya memperbanyak membaca dan mengurangi penggunaan gawai yang tidak produktif.
“Kurangi gadget, banyak baca buku. Dari situ biasanya muncul ide untuk menulis,” pesannya.
Melalui pengalaman tersebut, Ida berharap semakin banyak generasi muda yang berani menuangkan ide dalam bentuk tulisan dan menjadikannya karya yang bermanfaat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....