Viral Sehari, Antre Berjam-jam: Kenapa Kita Mudah Ikut Tren?

  • 19 Agt 2026 22:33 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Sebuah makanan baru muncul di media sosial, videonya berseliweran di beranda, lalu tak lama kemudian orang-orang rela mengantre berjam-jam untuk mencobanya. Fenomena serupa terjadi pada minuman, fesyen, barang koleksi, hingga tempat wisata. Tren boleh datang dan pergi dengan cepat, tetapi pertanyaannya tetap sama: mengapa sesuatu yang viral begitu mudah menarik perhatian dan membuat banyak orang ikut mencoba?

Ketertarikan terhadap tren ternyata bukan sekadar persoalan “ikut-ikutan”. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa keputusan manusia sering dipengaruhi oleh perilaku orang lain, rasa takut tertinggal, persepsi kelangkaan, hingga dorongan untuk memperoleh pengalaman yang sedang ramai dibicarakan.

Kajian dalam Journal of Retailing and Consumer Services berjudul “Beyond Likes and Comments: How Social Proof Influences Consumer Impulse Buying on Short-Form Video Platforms” menunjukkan bahwa social proof atau bukti sosial dapat memengaruhi perilaku pembelian impulsif. Jumlah tanda suka dan komentar, misalnya, dapat menjadi isyarat cepat bagi pengguna bahwa suatu produk atau konten sedang diminati banyak orang.

Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi itu mudah terlihat. Ketika sebuah gerai dipenuhi pengunjung, makanan tertentu ramai diulas kreator, atau produk disebut “wajib punya” oleh banyak pengguna media sosial, perhatian publik cenderung semakin tertuju pada hal yang sama.

Fenomena tersebut juga berkaitan dengan apa yang dikenal sebagai bandwagon effect, yakni kecenderungan seseorang mengikuti pilihan atau perilaku yang telah dilakukan banyak orang. Penelitian Erica van Herpen, Rik Pieters, dan Marcel Zeelenberg dalam Journal of Consumer Psychology menemukan bahwa permintaan dari konsumen lain dapat meningkatkan daya tarik suatu produk. Bahkan, jejak perilaku orang lain, seperti rak yang mulai kosong, dapat memengaruhi persepsi konsumen terhadap suatu barang.

Artinya, semakin banyak orang terlihat tertarik, semakin besar pula kemungkinan orang lain merasa bahwa tren tersebut layak dicoba.

Selain pengaruh keramaian, faktor kelangkaan juga memiliki peran besar. Label seperti “stok terbatas”, “hanya hari ini”, atau “jangan sampai kehabisan” dapat menciptakan rasa urgensi. Penelitian dalam Frontiers in Psychology menjelaskan bahwa kelangkaan dapat memengaruhi evaluasi konsumen dan niat membeli, meski respons setiap orang dapat berbeda bergantung pada kebutuhan untuk merasa unik.

Kondisi tersebut kemudian sering bertemu dengan FOMO atau fear of missing out, yaitu rasa khawatir tertinggal dari pengalaman yang sedang dinikmati atau dibicarakan orang lain. Penelitian mengenai pengaruh kelangkaan terhadap pembelian impulsif menemukan bahwa rasa takut kehilangan kesempatan dapat menjadi salah satu penghubung antara persepsi kelangkaan dan keputusan membeli secara spontan.

Di era media sosial, proses itu berlangsung jauh lebih cepat. Satu video pendek dapat memperlihatkan antrean panjang, ekspresi puas pelanggan, tampilan produk yang menarik, hingga komentar yang terus bertambah. Semua informasi tersebut menjadi sinyal sosial yang dapat membentuk persepsi pengguna.

Sebuah kajian sistematis dalam Journal of Business Research juga menegaskan bahwa pengaruh sosial memiliki peran penting dalam membentuk perilaku konsumen. Pilihan seseorang tidak selalu dibuat secara terpisah, tetapi dapat dipengaruhi oleh lingkungan sosial, rekomendasi, serta tindakan orang lain.

Tidak hanya itu, sebuah studi yang terbit dalam Journal of Research in Interactive Marketing pada 2025 menunjukkan bahwa tanda keterlibatan seperti likes di media sosial dapat berfungsi sebagai bentuk validasi sosial dan berkaitan dengan kebutuhan seseorang untuk memperoleh penerimaan sosial.

Karena itu, viralitas sering bekerja seperti efek berantai. Seseorang mencoba karena melihat orang lain. Pengalaman tersebut kemudian direkam dan dibagikan. Semakin banyak unggahan muncul, semakin kuat kesan bahwa tren itu sedang penting untuk diikuti.

Kajian mengenai mekanisme konten viral dalam jurnal Advances in Psychological Science menyebut sejumlah faktor yang dapat membuat sebuah konten menyebar luas, mulai dari karakteristik konten, motivasi psikologis, respons emosional, faktor situasional, hingga karakteristik individu. Dengan kata lain, sesuatu tidak selalu menjadi viral hanya karena produknya baru, tetapi juga karena mampu memancing perhatian, emosi, dan keinginan orang untuk membagikannya.

Namun, mengikuti tren bukan berarti selalu menjadi keputusan yang keliru. Tren dapat menjadi cara untuk mencari pengalaman baru, menemukan produk yang menarik, atau menjadi bagian dari percakapan sosial. Persoalannya muncul ketika keputusan dibuat secara tergesa-gesa hanya karena tekanan untuk tidak tertinggal.

Sebelum ikut mengantre atau membeli sesuatu yang sedang viral, masyarakat dapat memberi jeda sejenak untuk bertanya: apakah produk tersebut memang dibutuhkan, apakah informasi yang beredar dapat dipercaya, dan apakah keinginan untuk mencoba muncul dari kebutuhan pribadi atau sekadar karena semua orang sedang membicarakannya.

Pada akhirnya, fenomena “viral sehari, antre berjam-jam” menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang keputusan dan ketertarikannya dapat dipengaruhi oleh lingkungan. Media sosial mempercepat proses tersebut, sementara popularitas, kelangkaan, dan rasa takut tertinggal membuat sebuah tren terasa semakin sulit diabaikan. Mengikuti tren sah-sah saja, tetapi kemampuan untuk berhenti sejenak dan mempertimbangkan alasan di balik keputusan tetap menjadi hal yang penting.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....