Bukan Sekadar Pembeli, Jajanan Ceria Anggap Pelanggan Keluarga
- 21 Sep 2026 18:30 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Di tengah persaingan bisnis kuliner yang terus berkembang, Jajanan Ceria Meulaboh memilih tidak sekadar mengejar tren. Konsistensi rasa dan kedekatan dengan pelanggan menjadi strategi Dewi Sri Rahayu Ningsih dalam mempertahankan usaha kulinernya.
Owner Jajanan Ceria tersebut mengatakan, menjaga rasa menjadi tantangan tersendiri ketika jumlah pesanan meningkat. Untuk mempertahankan kualitas, proses produksi dilakukan secara bertahap dan bahan maupun bumbu dipersiapkan dalam kondisi segar setiap hari.
“Untuk rasa, kita cara mempertahankannya itu masaknya tidak sekaligus. Ada waktunya jam sekian sampai sekian kita masak katering, kemudian kita siapkan nasi bakar. Bumbu-bumbunya juga kita fresh setiap hari,” kata Dewi dalam program UMKM Corner RRI Meulaboh.
Menurutnya, konsistensi tidak hanya dilakukan dari dapur. Jajanan Ceria juga aktif meminta masukan pelanggan setelah mereka membeli produk. Pelanggan baru maupun pelanggan yang sudah berulang kali memesan dapat memberikan penilaian terhadap rasa maupun produk yang diterima.
Dewi bahkan memilih menyampaikan kondisi produk secara terbuka apabila terdapat bahan yang tidak tersedia. Salah satunya ketika kemangi yang menjadi bagian dari nasi bakar sulit diperoleh.
“Kita minta maaf, Kak, hari ini kalau ada yang order, kita kasih tahu dulu kalau tidak ada kemanginya. Daripada nanti pelanggannya kecewa,” ujarnya.
Cara tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan. Dewi menyebut sejumlah pelanggan bahkan terus melakukan pemesanan berulang, yang menurutnya menunjukkan adanya hubungan yang terbangun antara usaha dan konsumennya.
Bagi Jajanan Ceria, pelanggan tidak diperlakukan sekadar sebagai pembeli. Dewi memilih membangun hubungan yang lebih dekat dengan menganggap konsumen sebagai teman dan keluarga.
“Kita jangan memperlakukan konsumen itu seperti konsumen, tapi kita perlakukan sebagai teman, keluarga. Siapapun yang sudah beli di Jajanan Ceria berarti dia keluarga besar Jajanan Ceria,” katanya.
Strategi tersebut berjalan bersamaan dengan prinsip percaya diri dan komitmen terhadap produk. Dewi tidak ingin terlalu mudah mengubah resep hanya karena terdapat perbedaan selera pelanggan. Menurutnya, konsumen memiliki karakter dan selera yang berbeda sehingga sebuah produk tetap perlu memiliki ciri khas.
Dalam menghadapi masa penjualan yang naik turun, Dewi juga memilih untuk tetap menjalankan usaha tanpa mudah menyerah. Ia mengibaratkan penjualan sebagai sesuatu yang memiliki pasang surut, sehingga satu hari dengan penjualan sedikit tidak selalu berarti usaha akan terus sepi.
Selain menjaga rasa, Jajanan Ceria juga berusaha mempertahankan porsi meskipun harga bahan baku mengalami perubahan. Untuk kebutuhan ayam, Dewi memilih mempertahankan pemasok langganan agar harga pembelian lebih terjaga.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan kualitas sekaligus menjaga harga jual. Saat ini, nasi bakar Jajanan Ceria dibanderol Rp25 ribu per porsi dengan paket yang dilengkapi buah dan sayuran, sementara es teler dijual Rp15 ribu.
Dewi mengatakan, untuk saat ini dirinya belum berencana menambah cabang maupun terlalu banyak menu baru. Seluruh proses produksi masih ditangani sendiri sehingga pengembangan usaha dilakukan secara bertahap agar kualitas produk tetap terjaga.
Meski demikian, jumlah pesanan yang diterima menunjukkan adanya permintaan yang cukup besar. Dalam kondisi tertentu, Jajanan Ceria dapat menerima pesanan hingga ratusan porsi dalam sehari.
Bagi Dewi, membangun usaha bukan hanya soal menciptakan produk yang menarik, tetapi juga menjaga kualitas, memahami pelanggan, berani menerima masukan, dan tetap konsisten dengan karakter produk. Prinsip tersebut menjadi bekal Jajanan Ceria untuk terus bertahan di tengah persaingan kuliner yang semakin beragam.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....