Waspada Bulu kuncing Bisa Mmbawa Risiko Penyakit bagi Manusia

  • 07 Okt 2026 12:59 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID , Meulaboh - Kucing menjadi salah satu hewan peliharaan yang banyak disukai karena tingkahnya yang lucu dan menggemaskan.

Namun, di balik penampilannya yang menarik, pemilik kucing tetap perlu memperhatikan kebersihan hewan dan lingkungan karena bulu kucing dapat membawa sejumlah risiko kesehatan.

Bulu kucing dapat terkontaminasi bakteri, jamur, parasit, maupun zat pemicu alergi.

Risiko tersebut dapat meningkat apabila kebersihan kucing, kandang, tempat makan, serta lingkungan rumah tidak terjaga dengan baik.

Selain itu, kelompok tertentu, seperti ibu hamil dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah,

perlu lebih berhati-hati ketika melakukan kontak dengan kucing, terutama saat membersihkan kotorannya.

Sejumlah penyakit yang perlu diwaspadai

Ada beberapa gangguan kesehatan yang berkaitan dengan paparan kucing dan lingkungan tempat kucing hidup.

Penyakit cakar kucing

Penyakit cakar kucing atau cat scratch disease disebabkan oleh bakteri Bartonella henselae. Penularannya dapat terjadi melalui cakaran atau gigitan kucing yang terinfeksi.

Bakteri tersebut juga dapat menempel pada bulu kucing.

Seseorang dapat berisiko terpapar apabila menyentuh bulu yang terkontaminasi kemudian menyentuh mata atau bagian tubuh lainnya tanpa mencuci tangan.

Pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, infeksi ini dapat menimbulkan komplikasi yang lebih serius.

Kurap

Kurap merupakan infeksi kulit yang disebabkan oleh jamur dermatofita. Infeksi ini dapat menular dari hewan, termasuk kucing, kepada manusia.

Kucing yang mengalami kurap umumnya dapat menunjukkan tanda berupa kerontokan bulu dan munculnya area kulit berbentuk melingkar yang berkerak.

Jika menemukan tanda tersebut pada kucing, pemilik sebaiknya segera membawa hewan ke dokter atau fasilitas kesehatan hewan.

Kebersihan rumah juga perlu diperhatikan agar spora jamur tidak menyebar ke lingkungan.

Toksoplasmosis

Toksoplasmosis disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Parasit ini dapat ditemukan pada kotoran kucing yang terinfeksi.

Penyakit ini menjadi perhatian khusus bagi ibu hamil karena infeksi selama kehamilan dapat membahayakan janin.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, hingga gangguan bawaan pada bayi.

Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah juga perlu lebih waspada terhadap infeksi toksoplasmosis.

Reaksi alergi

Bulu kucing juga dapat menjadi pemicu reaksi alergi, terutama karena bulu dapat membawa partikel dari air liur, kulit, urine, atau kotoran kucing.

Pada orang yang memiliki alergi, paparan tersebut dapat menimbulkan gejala berupa bersin, pilek, hidung tersumbat, mata gatal atau berair, serta gatal dan ruam pada kulit.

Bagi penderita asma, paparan alergen dari kucing juga dapat memicu atau memperburuk gejala asma.

Menjaga kebersihan untuk mengurangi risiko

Memelihara kucing bukan berarti harus menghindari kontak dengan hewan tersebut. Risiko kesehatan dapat dikurangi dengan menerapkan kebersihan yang baik.

Pemilik kucing sebaiknya rutin membersihkan kandang dan tempat tinggal kucing, mencuci tangan setelah menyentuh kucing atau membersihkan kotorannya, serta memastikan kucing mendapatkan pemeriksaan dan perawatan kesehatan secara berkala.

Khusus bagi ibu hamil, penggunaan sarung tangan saat membersihkan kotoran kucing dan mencuci tangan setelahnya merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko paparan parasit.

Dengan menjaga kebersihan hewan dan lingkungan, kucing tetap dapat menjadi hewan peliharaan yang menyenangkan tanpa mengabaikan aspek kesehatan anggota keluarga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....