Tanda-Tanda Kejiwaan Orang yang Suka Posting Chat untuk Menjatuhkan Orang Lain
- 28 Agt 2026 23:31 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Kebiasaan mengunggah tangkapan layar percakapan pribadi ke media sosial dengan tujuan mempermalukan atau menjatuhkan orang lain menjadi fenomena yang kerap memicu konflik. Tindakan tersebut dapat menimbulkan persoalan etika, terutama ketika isi percakapan disebarkan tanpa persetujuan pihak yang terlibat dan berpotensi membentuk opini negatif terhadap seseorang.
Psikolog menilai, perilaku tersebut tidak bisa langsung dianggap sebagai tanda gangguan kejiwaan. Ada berbagai alasan yang mungkin melatarbelakanginya, seperti keinginan mendapatkan dukungan, mencari pembenaran, melampiaskan kemarahan, atau berusaha mengendalikan pandangan orang lain terhadap suatu konflik. Karena itu, kondisi psikologis seseorang tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan satu perilaku di media sosial. Dikutip rri.co.id, Jumat 28 Agustus 2026. Dari berbagai sumber.
| Baca juga: Berikut 5 Tanda Anda Sudah Jago Nyetir Mobil |
Meski demikian, kebiasaan mempermalukan orang lain secara berulang dapat menunjukkan adanya persoalan dalam cara seseorang mengelola emosi dan menyelesaikan konflik. Alih-alih melakukan komunikasi secara langsung, orang tersebut memilih membawa persoalan ke ruang publik. Jika dilakukan terus-menerus, tindakan itu dapat merusak hubungan sosial dan membuat pihak lain merasa tertekan atau dipermalukan.
Penggunaan media sosial juga membuat sebuah percakapan pribadi dapat menyebar dengan cepat dan sulit dikendalikan. Potongan chat yang diunggah tanpa konteks lengkap berisiko menimbulkan kesalahpahaman karena publik hanya melihat sebagian informasi. Dalam situasi konflik, penyebaran percakapan sebaiknya dipertimbangkan secara matang, terutama jika terdapat informasi pribadi atau hal-hal yang dapat merugikan pihak lain.
| Baca juga: Cara Mengenali Orang yang Tidak Jujur |
Psikolog menyarankan agar konflik antarpersonal diselesaikan melalui komunikasi yang sehat. Seseorang yang merasa marah atau kecewa dapat mengambil waktu untuk menenangkan diri sebelum memberikan respons. Jika persoalan terus berulang, mengganggu hubungan sosial, atau menimbulkan tekanan emosional yang berat, berkonsultasi dengan psikolog dapat menjadi salah satu pilihan untuk memahami pola emosi dan perilaku secara lebih objektif.
Pada akhirnya, kedewasaan emosional tidak diukur dari seberapa banyak dukungan yang diperoleh di media sosial, tetapi dari kemampuan seseorang menyelesaikan persoalan tanpa merendahkan atau mempermalukan orang lain. Kritik dapat disampaikan tanpa membuka percakapan pribadi ke ruang publik, sementara perbedaan pendapat dapat diselesaikan dengan komunikasi, bukti, dan sikap saling menghormati. Dengan demikian, media sosial dapat digunakan sebagai ruang berbagi informasi tanpa berubah menjadi sarana untuk menjatuhkan pihak lain.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....