Hari Kesaktian Pancasila di Era Digital, Jempol Jadi Ujian Persatuan

  • 01 Okt 2026 20:07 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh – Jempol di layar ponsel mungkin kecil, tetapi satu ketukan dapat menyebarkan kebaikan sekaligus memicu persoalan. Di tengah derasnya arus informasi dan perbedaan pendapat di media sosial, penggunaan teknologi secara bijak menjadi salah satu bentuk nyata mengamalkan nilai-nilai Pancasila di era digital.

Pesan tersebut mengemuka dalam program Sore Ceria Pro 2 RRI Meulaboh, Kamis 01 oktober 2026, saat membahas tema “Memaknai Hari Kesaktian Pancasila di Era Digital” bersama Nodi Marefanda, Dosen Program Studi Ilmu Administrasi Negara FISIP Universitas Teuku Umar (UTU).

Nodi Marefanda mengatakan, Hari Kesaktian Pancasila tidak semestinya hanya dimaknai sebagai momentum untuk mengenang sejarah atau seremoni tahunan. Menurutnya, peringatan setiap 1 Oktober menjadi kesempatan untuk kembali memastikan nilai-nilai Pancasila hadir dalam perilaku masyarakat, termasuk ketika beraktivitas di ruang digital.

“Memaknai Hari Kesaktian Pancasila hari ini bagaimana kita memastikan nilai-nilai Pancasila tetap menjadi pedoman dalam bersikap, termasuk ketika menggunakan media sosial dan berbagai teknologi digital lainnya,” ujar Nodi Marefanda.

Ia menilai tantangan dalam mempertahankan nilai Pancasila saat ini hadir dalam bentuk yang berbeda dibandingkan masa lalu. Jika sebelumnya ancaman terhadap ideologi negara lebih banyak dipahami dalam konteks konflik dan ancaman fisik, perkembangan teknologi menghadirkan tantangan baru melalui derasnya informasi di ruang digital.

Media sosial, kata dia, dapat menjadi ruang munculnya hoaks, ujaran kebencian, provokasi, hingga perdebatan yang tidak sehat. Karena itu, masyarakat, khususnya generasi muda, perlu membangun kebiasaan “saring sebelum sharing”.

Prinsip tersebut dilakukan dengan memeriksa terlebih dahulu informasi yang diterima sebelum menyebarkannya kepada orang lain. Pengecekan sumber, kebenaran informasi, serta kredibilitas rujukan menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran informasi keliru.

“Apapun informasinya, dari manapun sumber informasinya, wajib dilakukan pengecekan dulu. Bahkan kalau istilahnya, kita tabayun terlebih dahulu sebelum kemudian membagikannya kepada teman-teman yang lain,” katanya.

Menurut Nodi Marefanda, kebiasaan memeriksa informasi sebelum membagikannya bukan hanya berkaitan dengan literasi digital, tetapi juga dapat menjadi bentuk pengamalan nilai Pancasila. Sikap tersebut menunjukkan kehati-hatian, penghormatan terhadap orang lain, serta upaya menjaga ruang publik agar tidak dipenuhi informasi yang dapat memicu konflik.

Ia juga menekankan bahwa relevansi Pancasila tidak berubah meskipun zaman terus berkembang. Perubahan terjadi pada cara masyarakat mengimplementasikan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

“Nilai dasarnya tetap sama, tetapi cara menerapkannya yang mungkin berbeda. Dulu mungkin semangatnya melalui mimbar, sekarang bisa melalui media sosial,” jelasnya.

Dalam konteks persatuan, Nodi Marefanda mengingatkan bahwa berbeda pendapat bukan berarti harus kehilangan rasa sebagai satu bangsa. Persatuan justru dapat diwujudkan melalui kemampuan untuk menghargai perbedaan dan tetap memperlakukan orang lain secara santun.

“Persatuan itu tidak berarti kita harus sama. Persatuan berarti kita mampu berbeda tanpa kehilangan rasa sebagai satu bangsa,” ujarnya.

Generasi muda juga dinilai tidak cukup hanya menjadi objek yang menerima pemahaman mengenai Pancasila. Mereka perlu ditempatkan sebagai aktor yang ikut membuat nilai-nilai Pancasila semakin relevan dengan perkembangan zaman. Hal itu dapat dilakukan melalui konten edukatif, pengenalan budaya daerah, kegiatan sosial, gotong royong, hingga berbagai karya positif di ruang digital.

Nodi Marefanda mengatakan, pengamalan Pancasila pada generasi muda tidak tepat jika hanya diukur dari kemampuan menghafalkan lima sila. Nilai Pancasila justru dapat dilihat dari perilaku sehari-hari, seperti kesantunan, kepedulian terhadap sesama, kemampuan menghargai perbedaan, serta kehati-hatian dalam menerima dan menyebarkan informasi.

Ia melihat nilai-nilai tersebut masih tampak dalam kehidupan mahasiswa, antara lain melalui keterlibatan dalam kegiatan sosial, berkarya, dan gotong royong. Meski demikian, tantangan di media sosial tetap perlu dihadapi karena perdebatan tidak sehat dan penyebaran hoaks masih dapat ditemukan.

Karena itu, Nodi Marefanda mengajak generasi muda untuk menjadikan ruang digital sebagai tempat menghadirkan nilai-nilai Pancasila, bukan sekadar tempat menyampaikan pendapat tanpa mempertimbangkan dampaknya.

“Jempol kita ini memang kecil, tetapi dampaknya bisa besar. Gunakanlah jempol ini untuk menyebarkan kebaikan,” pesannya.

Pada akhirnya, Hari Kesaktian Pancasila 2026 menjadi pengingat bahwa mempertahankan nilai Pancasila tidak berhenti pada upacara, hafalan, maupun peringatan tahunan. Di era digital, pengamalan Pancasila dapat dimulai dari tindakan sederhana: berpikir sebelum mengetik, memeriksa sebelum membagikan, menghargai perbedaan, serta menggunakan teknologi untuk sesuatu yang bermanfaat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....