Tinggal Lima Orang, Perjuangan Telaga Biru Nyaris Terhenti

  • 20 Agt 2026 09:38 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • telaga biru desa perian
  • wisata alam telaga biru desa perian lombok timur
  • kuliner viral desa perian montong gading lombok timur

rri.co.id-mataram: Sahabat Sasambo, setelah menikmati kopi tebuk, saya kembali melanjutkan perbincangan bersama Hasbi dalam Obrolan Budaya Pro 4 RRI Mataram yang tayang di channel YouTube RRI Mataram Official. Cerita kali ini membawa kita pada bagian yang mungkin paling berat dari perjalanan pengembangan Wisata Alam Telaga Biru di Dusun Gunung Paok, Desa Perian, Kecamatan Montong Gading, Lombok Timur. Sebab, memiliki tempat yang indah ternyata tidak otomatis membuat semua orang sepakat mengembangkannya menjadi destinasi wisata.

Hasbi bercerita bahwa setelah pulang dari Kalimantan, kondisi Telaga Biru ketika itu masih seperti tempat bermain biasa. Belum ada fasilitas, belum ada penataan, bahkan mereka belum pernah mempunyai pengalaman mengembangkan tempat wisata. Saya sempat memastikan hal tersebut kepada Hasbi dan ia mengakui bahwa teman-teman di sana memang tidak memahami penataan wisata secara khusus. Mereka benar-benar belajar sambil berjalan.

Kemudian Hasbi mulai mengajak teman-temannya berdiskusi. Ia melemparkan gagasan sederhana: bagaimana kalau Telaga Biru diusahakan dan dilanjutkan pengembangannya, siapa tahu suatu hari nanti bisa berhasil? Sahabat Sasambo, sebagaimana banyak gagasan baru, usulan tersebut tidak langsung disambut dengan suara bulat. Menurut Hasbi, respons yang muncul beragam. Ada yang setuju, tetapi ada pula yang tidak menerima gagasan tersebut.

Hasbi bersama beberapa orang kemudian mulai membuat aturan-aturan sederhana mengenai pengelolaan kawasan. Ia kembali mengajak teman-temannya berpikir tentang apa yang sebaiknya dilakukan agar suatu saat Telaga Biru bisa berkembang. Namun perjalanan itu tetap tidak mudah. Perbedaan pendapat dan berbagai gejolak membuat tidak semua orang bertahan bersama gagasan tersebut.

Dalam obrolan kami, Hasbi sempat menyebut jumlah orang yang tetap setia memikirkan wisata saat masa-masa sulit itu sangat sedikit. Ia menceritakan bahwa mereka bertahan dalam kelompok kecil, sekitar lima orang, dengan pengetahuan wisata yang juga masih sangat terbatas. Mereka belum memiliki kemampuan profesional mengelola destinasi, tetapi mempunyai kemauan untuk mempertahankan gagasan bahwa Telaga Biru dapat berkembang.

Sahabat Sasambo, seiring waktu berjalan, perlahan pikiran mereka semakin terbuka. Mereka mulai memahami apa yang bisa dibuat, apa yang perlu ditata, dan bagaimana kawasan tersebut dapat dikembangkan. Hasil-hasil kecil mulai terlihat. Teman-teman yang sebelumnya menjauh pun perlahan kembali bergabung ketika perkembangan Telaga Biru mulai terlihat nyata.

Dari sini saya semakin memahami satu hal: Telaga Biru tidak dibangun dalam satu malam. Ada proses meyakinkan orang, mempertahankan gagasan, menyusun aturan, belajar tanpa pengalaman, dan bekerja meski jumlah penggeraknya sempat sangat sedikit. Tetapi persoalan berikutnya kembali muncul, Sahabat Sasambo. Menata tempat wisata membutuhkan biaya. Lantas dari mana dana pembangunan fasilitas berasal? Jawabannya kembali pada semangat swadaya, bahkan sampai ada pengelola yang rela tidak menerima upah selama satu bulan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....