Gunung Jae Pelopor Tiket Digital Desa Wisata Lombok Barat

  • 12 Jun 2026 10:31 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat – Transformasi digital mulai merambah sektor pariwisata desa di Kabupaten Lombok Barat. Desa Wisata Gunung Jae yang berada di Desa Sedau, Kecamatan Narmada, resmi menjadi destinasi wisata desa pertama di Lombok Barat yang akan menerapkan sistem tiket elektronik atau e-ticketing melalui kerja sama dengan platform tiket digital terbesar di Asia Tenggara, Easybook.

Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah Desa Sedau dan Easybook yang berlangsung di kawasan Pelabuhan Senggigi, Kamis, 11 Juni 2026. Penandatanganan itu turut disaksikan langsung oleh Bupati Lombok Barat, H. Lalu Ahmad Zaini, bersama sejumlah pejabat Pemerintah Kabupaten Lombok Barat.

Kepala Desa Sedau, Amir Syarafudin, menyambut optimistis kerja sama tersebut. Menurutnya, penerapan sistem tiket digital menjadi langkah penting dalam meningkatkan tata kelola destinasi wisata sekaligus memperkuat transparansi pengelolaan pendapatan.

"Kami sebenarnya sudah menerapkan sistem tiket digital melalui aplikasi Sisparnas. Namun hasilnya masih belum maksimal karena terdapat beberapa kendala teknis yang berdampak pada proses pengelolaan data," ujarnya.

Ia menjelaskan, selama ini pihak desa telah meninggalkan sistem tiket manual. Namun, Pemdes Sedau menginginkan sistem yang lebih modern dan terintegrasi agar potensi kebocoran pendapatan dapat ditekan seminimal mungkin.

"Kami ingin sistem ticketing yang lebih baik sehingga pengelolaan pendapatan wisata bisa lebih tertata dan potensi kebocoran penerimaan dapat diminimalisasi," katanya.

Potensi wisata Gunung Jae sendiri dinilai sangat besar. Sepanjang tahun 2025, jumlah kunjungan wisatawan tercatat menembus lebih dari lima ribu orang. Pengunjung datang untuk menikmati keindahan alam, berkemah di area camping ground, hingga mengikuti berbagai kegiatan komunitas.

Amir mengungkapkan bahwa kunjungan tertinggi biasanya terjadi pada akhir pekan.

"Pekan lalu saja ada sekitar 300 peserta dari Pondok Pesantren Lentera Hati ditambah sekitar 250 pengunjung umum. Dalam satu malam terdapat lebih dari 550 orang yang beraktivitas di kawasan Wisata Alam Gunung Jae," ucapnya.

Tingginya kunjungan wisatawan berdampak positif terhadap pendapatan kawasan wisata. Dalam satu tahun, perputaran pendapatan dari sektor wisata Gunung Jae hampir mencapai Rp250 juta. Selain itu, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga mampu menyumbangkan Pendapatan Asli Desa (PADes) berkisar Rp10 juta hingga Rp15 juta setiap tahun.

Namun demikian, pendapatan dari sektor wisata tersebut masih harus dibagi dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat karena status aset kawasan wisata berada di bawah kepemilikan pemerintah daerah.

"PADes yang kami terima sekitar Rp15 juta karena adanya sistem bagi hasil. Jika tidak ada pembagian tersebut, nilainya bisa mencapai Rp30 juta per tahun hanya dari sektor pariwisata. Itu pun sudah bersih setelah dipotong biaya operasional, gaji pengelola, karyawan, dan pengurus BUMDes," katanya menegaskan.

Melalui penerapan Easybook, pemerintah desa berharap seluruh transaksi dan data kunjungan wisata dapat tercatat secara otomatis dan lebih akurat. Sistem digital tersebut juga diyakini akan mempermudah proses pelaporan serta evaluasi pengelolaan destinasi wisata.

"Selama ini terkadang ada transaksi yang tidak tercatat sehingga menyulitkan saat melakukan rekapitulasi kunjungan. Dengan Easybook, data harian, mingguan hingga tahunan dapat tersusun lebih rapi dan mudah dipantau," ujarnya.

Dari sisi kesiapan sumber daya manusia, Amir memastikan pengelola wisata Gunung Jae telah memiliki struktur organisasi yang jelas. Mulai dari bidang administrasi, promosi, pengelolaan destinasi, kebersihan hingga keamanan telah berjalan sesuai tugas masing-masing.

"Pengelola sudah kami latih. Untuk penyempurnaan penggunaan Easybook nanti kami juga akan meminta pelatihan lanjutan agar sistem ini berjalan optimal," katanya.

Sebagai tindak lanjut dari MoU tersebut, dalam waktu dekat akan dilakukan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara BUMDes, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), dan Easybook.

"Saat ini kami masih menunggu finalisasi draf kerja sama dari pihak Easybook karena ada beberapa poin yang harus disepakati bersama," katanya.

Sementara itu, Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Pemuda Olahraga Lombok Barat memberikan apresiasi terhadap langkah progresif Desa Sedau. Menurut dinas terkait, keberhasilan tata kelola wisata Gunung Jae dapat menjadi model bagi desa wisata lain yang ada di Lombok Barat.

"Hari ini Gunung Jae menjadi yang pertama karena tata kelolanya sudah sangat baik, didukung regulasi desa yang kuat serta manajemen wisata yang terus berkembang," ujarnya.

Disparekrafpora juga menilai sejumlah desa wisata lain berpotensi mengikuti jejak Gunung Jae. Beberapa di antaranya adalah Wisata Bukit Keteri di Desa Banyu Urip, kawasan wisata Purekmas Desa Sesaot, Pemandian Buwun Sejati, hingga destinasi wisata Lebah Sempage.

Penerapan sistem e-ticketing dinilai akan meningkatkan kepercayaan wisatawan karena seluruh pembayaran dilakukan melalui satu sistem yang transparan dan terintegrasi. Dengan demikian, wisatawan tidak lagi khawatir terhadap pungutan berulang maupun biaya tambahan yang tidak jelas.

"Sistem ini memberikan rasa aman kepada wisatawan sekaligus memperkuat keberlanjutan desa wisata dari sisi manajemen keuangan dan tata kelola destinasi," katanya mengakhiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....