Tebuk Jadi Senjata Baru Telaga Biru Pikat Pengunjung

  • 20 Agt 2026 09:38 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • telaga biru desa perian
  • wisata alam telaga biru desa perian lombok timur
  • kuliner viral desa perian montong gading lombok timur

rri.co.id-mataram: Sahabat Sasambo, masih dalam rangkaian Obrolan Budaya Pro 4 RRI Mataram yang tayang melalui channel YouTube RRI Mataram Official, perjalanan saya bersama Hasbi sejenak berhenti dari cerita panjang perjuangan Telaga Biru. Udara sejuk di kawasan TNGR, Dusun Gunung Paok, Desa Perian, Kecamatan Montong Gading, Lombok Timur membuat saya berpikir satu hal sederhana: suasana seperti ini paling pas ditemani secangkir kopi hangat.

Tidak lama kemudian kopi benar-benar datang. Sahabat Sasambo, saya pun bercanda kepada Hasbi bahwa rasanya seperti “bukan sulap”, tiba-tiba kopi sudah tersedia di hadapan kami. Kami kemudian menikmati minuman hangat sambil meneruskan obrolan. Namun sebelum menyeruputnya, rasa penasaran saya muncul lagi. Saya bertanya kepada Hasbi mengenai istilah kopi yang digunakan masyarakat Sasak di kawasan tersebut.

Hasbi menjelaskan bahwa masyarakat setempat menyebut kopi dengan istilah “tebuk”. Menurutnya, di wilayah tersebut orang tentu tetap mengenal kata kopi, tetapi dalam keseharian masyarakat lebih cenderung menggunakan sebutan tebuk. Jadi, Sahabat Sasambo, kalau suatu hari datang ke kawasan Telaga Biru dan mendengar orang menyebut tebuk, jangan bingung. Mereka sedang berbicara tentang kopi yang menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat di sana.

Bukan hanya namanya yang menarik. Hasbi menjelaskan bahwa kopi tebuk memiliki ciri khas pada cara pengolahannya. Masyarakat membuatnya melalui proses yang masih alami dan sederhana. Tidak menggunakan mesin-mesin khusus seperti pada pengolahan kopi modern. Salah satu proses pentingnya adalah biji kopi ditumbuk secara manual, sehingga tradisi pengolahannya tetap terasa dalam setiap sajian yang disuguhkan.

Saya pun mencoba kopi tersebut. Dari sisi aroma, Sahabat Sasambo, saya merasakan ada perbedaan dibandingkan beberapa kopi yang biasa kita minum. Nuansa tradisional dari proses pembuatannya memberikan pengalaman tersendiri, apalagi diminum tepat di kawasan Telaga Biru yang berhawa sejuk. Kopi sederhana terasa menjadi lebih istimewa ketika berpadu dengan suasana alam dan cerita masyarakat yang menyertainya.

Hasbi kemudian menyampaikan bahwa kopi tebuk juga masuk dalam rencana pengembangan pengelola. Ke depan mereka ingin menyiapkan kopi tersebut dengan lebih baik agar para pengunjung yang datang ke Telaga Biru dapat mengenal kopi khas masyarakat di sekitar kawasan. Dengan demikian, orang datang bukan hanya menikmati pemandangan, tetapi juga mendapatkan pengalaman tentang cita rasa serta tradisi lokal.

Setelah badan terasa lebih hangat, saya kembali mengajak Hasbi meneruskan cerita yang sebelumnya terpotong. Sahabat Sasambo, pertanyaan besarnya masih sama: bagaimana orang-orang yang tidak memiliki pengalaman mengelola wisata akhirnya berani menata Telaga Biru? Ternyata perjalanan itu penuh perdebatan, keraguan, bahkan pada suatu masa hanya segelintir orang yang tetap bertahan membawa gagasan wisata tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....