81 Tahun Merdeka, Masihkah Anak Indonesia Buta Aksara Al-Qur'an ?

  • 19 Agt 2026 15:46 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Indonesia telah menginjak usia 81 tahun kemerdekaan. Merah Putih berkibar di seluruh pelosok negeri, institusi pendidikan berdiri di berbagai daerah, dan arus digitalisasi kian tak terbendung. Namun, di balik kemajuan ini, sebuah pertanyaan mendasar patut kita renungkan bersama: sudahkah seluruh anak Indonesia benar-benar merdeka dari buta aksara Al-Qur'an?

Pertanyaan ini bukan sekadar refleksi statistik, melainkan tolok ukur esensial dari kualitas pembangunan manusia seutuhnya.

Kemerdekaan sejati tidak hanya berarti bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga merdeka dari kebodohan, keterbelakangan, dan ketidakberdayaan spiritual. Bagi mayoritas masyarakat Muslim Indonesia, literasi Al-Qur'an adalah fondasi utama pembentukan karakter bangsa.

Angka 65 Persen: Alarm Pembangunan Manusia

Selama bertahun-tahun, diskursus literasi Al-Qur'an kerap merujuk pada estimasi bahwa sekitar 65 persen umat Islam di Indonesia masih mengalami buta aksara Al-Qur'an. Angka ini antara lain bersumber dari kajian Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta serta publikasi ilmiah seperti Muaddib: Islamic Education Journal.

Lebih dari sekadar memperdebatkan keakuratan angka persentasenya, temuan ini harus dibaca sebagai alarm kolektif. Terlebih, riset dari LPMQ Kementerian Agama menunjukkan bahwa tingkat kemampuan baca-tulis Al-Qur'an di kalangan mahasiswa perguruan tinggi Islam pun masih berada pada kategori sedang. Hal ini membuktikan bahwa literasi Al-Qur'an bukanlah agenda instan, melainkan proses pendidikan sepanjang hayat yang membutuhkan perhatian lintas generasi.

Menyelaraskan Arah Kebijakan Negara dan Visi Keagamaan

Dalam Pidato Kenegaraan 14 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan manusia adalah prioritas utama yang dimulai dari kebutuhan dasar seperti gizi dan pendidikan. Pemerintah terus menggenjot program peningkatan mutu sekolah, digitalisasi pembelajaran, hingga penyiapan generasi yang kompeten secara global melalui penguasaan bahasa asing.

Namun, pembangunan manusia yang unggul tidak boleh berhenti pada aspek fisik (healthy body) dan intelektual (smart brain). Bangsa ini membutuhkan fondasi moral yang kuat:

  • Kompetensi Global Berjalan Bersama Kompetensi Spiritual: Sebagaimana negara mendorong penguasaan bahasa asing sejak dini, penguasaan nilai-nilai luhur agama melalui Al-Qur'an mutlak diperlukan agar kecerdasan intelektual berjalan seiring dengan kecerdasan moral.
  • Prinsip "Tidak Boleh Ada Anak yang Tertinggal": Sejalan dengan inisiatif pembangunan pendidikan inklusif seperti Sekolah Rakyat, akses belajar Al-Qur'an harus merata hingga ke pelosok desa, menjangkau seluruh kalangan tanpa memandang status sosial maupun usia.

Masjid sebagai Ekosistem Literasi dan Pemberdayaan

Indonesia memiliki infrastruktur sosial yang sangat kuat dan mengakar di tengah masyarakat, yaitu masjid. Melalui jaringan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) beserta Lembaga Pembinaan dan Pengembangan TK Al-Qur'an (LPPTKA), gerakan pembinaan TKA, TPA, dan TQA telah lama berjalan.

Kini saatnya membawa gerakan keagamaan ini naik kelas menuju ekosistem Qur'anic Literacy yang terintegrasi dengan teknologi modern:

  1. Digitalisasi Pembelajaran: Mengembangkan platform belajar interaktif, database nasional guru mengaji, serta sistem pemetaan literasi berbasis masjid.
  2. Transformasi Pemuda Masjid: Mendorong pemuda masjid untuk bertransformasi dari sekadar panitia kegiatan menjadi social entrepreneur of faith—berperan sebagai mentor digital, relawan literasi, hingga penggerak komunitas.
  3. Integrasi Ekonomi dan Pendidikan: Melalui sinergi program seperti Gerakan Bangun Ekonomi Masjid (GERBANG EMAS), masjid difungsikan secara optimal sebagai pusat pendidikan karakter sekaligus pemberdayaan ekonomi umat.

    Oleh: H. Nanang Mubarok, S.H.I., M.Sos., CPHCM, CPE, CPM (Ketua Umum DPP BKPRMI)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....