Piala Dunia dan Transmisi Radio Bola

  • 09 Jul 2026 09:59 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Kilasan tembang official Piala Dunia 2026 Dai Dai oleh Shakira kolaborasi bareng Burna Boy, membahana di radio dan televisi se-Indonesia. Walau terdengar tak segegap gempita saat melantunkan Waka Waka (2010) di Afrika Selatan. Lantunan itu mewarnai perhelatan empat tahunan tersebut. Kemeriahannya tak tertandingi, ketika banyak mata menyaksikan pertandingan demi pertandingan yang berlangsung alot dengan kejutan di sana-sini. Tahun ini, hak siar di Indonesia, diraih penuh oleh stasiun Televisi Republik Indonesia dan Radio Republik Indonesia. Dengan jaringan teresterial dan frekuensi yang luas, dapat menjangkau daerah terpencil, siarannya menyebar ke pelosok rumah-rumah penduduk. Apatah lagi di perkotaan dan areal kawasan kedai kopi. Layar besar terpasang dan sorak-sorai bergemuruh, bak menonton langsung dari stadion.

Menonton tayangan bola dari televisi itu lazim. Bagaimana kalau mendengar siaran bola dari radio? Bermula dari kebiasaan mendengar radio. Dari frekuensi RRI 94.30 FM, terdengar suara penyiar mengatakan bahwa siaran bola piala dunia dapat didengarkan di seluruh stasiun pemancar RRI. Tuning melalui transmisi RRI. Saya berpikir sejenak, ini keren. Tepatlah, ketika perjalanan ke Lombok Utara. Mendengar siaran bola via radio: pertandingan kala itu, Portugal versus Colombia. Rentetan reviu narasi yang terlontar apik, runut dan jelas. Lebih ekspresif, lebih deskriptif, dan lebih adaptif bagi kaum difable (tuna netra). Saya menikmati siaran bola RRI, sembari beperjalanan dengan tenang dan perlahan saja.

Apa yang terjadi di stadion digambarkan secara apik oleh komentator penyiar bola. Seolah kita sedang menonton tayangan tersebut, bahkan terbayang langsung di stadion. Ini bagus untuk eksperimentasi menyegarkan tumbuh kembang otak. Sisi lain cara menikmati bola. Dalam hal yang menggembirakan, RRI telah dapat menikmati siaran bola. RRI menjadi transmitor informasi terapan bagi kaum difabel. Meneguhkan bola sebagai hiburan untuk semua kalangan dari multiragam latar dan keadaan.

Menurut mentor filsafat sains yang kerapkali saya berbincang dengannya, Lalu Pharma Abu Sunyi, ketika berkomunikasi sesi obrolan bola via chat WhatsApp dan kemudian via lisan dengar sesama pemilik gawai menyatakan "Bukankah sepak bola itu seni kementakan, the art of probability. Dianugerahkan hanya untuk yang memiliki imajinasi dan kelenturan jiwa". Dilanjutkannya, setamsil menonton wayang, kan itu bayangan yang digambarkan, tetapi kedisplinan tubuh mengelola alur dengan baik, percakapan yang apik membuat kita seperti menyaksikan pertunjukkan nyata.

Ada tiga perspektif transmisi penyaksian dengar siaran bola di radio yang dilontarkannya pada obrolan tersebut. Ada baiknya saya berbagi simpul pada opini artikel ini. Pertama, Aksentuasi Narator. Sang narator bola, ada kalanya datar mengulas, begitu bola mengarah ke titik krusial gawang, gol tidak gol aksentuasi menaik dan lebih cepat atau menurun dan lebih rendah. Ketika gol, narator meluapkan ekspresi seolah sedang di stadion. Ketika tidak jadi gol, aksentuasi narator lambat dan merendah. Aksentuasi yang minims dan menambah keseruan mendengar siaran bola. Lebih ekspresif dari narator di televisi.

Kedua, Sistem Pengetahuan. Fakta-fakta yang dikumpulkan dan dianalisa. Dari situ disampaikan kepada khalayak. Dari sejarah, pengalaman tanding, statistikal capaian, hingga serba-serbi bola yang menyokong ulasan. Hal tersebut, menyebabkan kita yang mendengar siaran bola punya pemahaman yang holistik. Ketiga, Seni Komunikasi. Menjelaskan segenap apa yang tersaksikan menjadi informasi selengkap-lengkapnya tentang pertandingan itu. Dari mulai gelinding bola, gemuruh stadion, atraksi parafans, serta sensasi atmisfer stadion diceritakan dengan gambaran deskriptif. Mendengarkan siaran bola sebagai siklus yang disegarkan (opsional) pada kehidupan yang telah serbainstan ini. Dahulu sekitar tahun-tahun 60an, radio digunakan optimum, saat televisi belum pun semarak. Warga baku lomba tuning mengonsumsi informasi melalui radio dengan bersengaja.

Dalam pada itu, Copa mundial dela FIFA 2026. Hingga 16 besar, 3 tuan rumah tetap bertengger pada formasi turnamen. Fase 8 besar menuju semifinal tersisa: Prancis, Maroko, Inggris, Norwegia, Spanyol, Belgia, Argentina dan Swiss. Residu tertinggal 8 pertandingan lagi menuju puncak juara. Pastinya, lebih seru dan menegangkan. Ada titik cengang dan luapan kegembiraan mewarnai laga-laga akhir. Ada dorongan harapan dari tim keseblasan untuk menyodok kelaziman sang juara, ada pula spirit mental juara yang menjadi power tambahan, untuk tetap eksis. Apapun itu, pertandingan dipastikan menarik dan berkualitas dari menit awal.

Bola menyuguhkan pula keterkejutan- keterkejutan. Gelinding kejut bola yang dimainkan Maroko dengan ketangguhannya yang tak terduga, kecekatan permainan cepat tim keseblasan Republik Demokratik Kongo serta tumbangnya klub negara-negara pengalaman berjuara seperti Belanda dan Jerman serta turnback Inggris, Portugal dan Norwegia dari laga yang nyaris kalah, kemudian bisa berbalik unggul.

Kejutan Cabo Verde, tim yang lolos 32 besar tanpa menang. Melawan Argentina bisa bertahan hingga 120 menit. Kipernya yang berusia 41 tahun fenomenal dalam menggawangi keseblasan dari negara kecil yang penduduknya tak lebih setengah juta itu. Josimar Dias (Vozinha) membawa Cabo Verde bisa bertahan hingga pertandingan versus Argentina, raksasa keseblasan yang doyan juara. Belum lagi Mesir. Keseblasan negeri piramid itu mampu mengalahkan Australia, lewat adu penalti yang membawanya melaju ke fase 16 besar, kendati kandas dengan argentina yang turnback dari skor 0-2 menjadi 3-2 dalam kurun 14 menit, mampu mengubah keadaan.

Tak disangka pula, pada piala dunia 2026, pulang dengan cepatnya Jepang, Belanda, dan Jerman. Menyedihkan parafans yang tentu ingin jagosnnya masih terus berlaga. Bola tak berpihak padanya, mesti menunggu empat tahun lagi. Entoh demikisn, kemajuan permainan bola dari asia seperti Jepang dan Maroko menjadi kabar baik dari kian meratanya kepiawaian adu tangkas bola gelinding itu. Terlebih Maroko, tim Afrika pertama yang pernah hingga ke semifinal (2022). Kini, tim asuhan Mohamed Ouahbi mencoba peruntungan tanding bertemu lagi dengan Prancis pada per delapan final 2026, seperti pernah terjadi pada semifinal piala dunia Qatar (2022). Kala itu, Prancis Menang 2-0. Seperti apa pertandingan 10 Juli 2026 esok, tayangan TVRI dan siaran RRI menanti, serta pertandingan lainnya. Bila transmisi dioptimumkan, maka opsi tayangan visual TVRI dengan audio, siaran RRI bisa sebagai alternatif.

Menariknya lagi, pada piala dunia 2026, selain resmi memberlakukan (VAR) dengan melihat atau lebih tepatnya wasit tengah mengecek fokus tayangan saat terjadi komplain melalui layar kaca, diberlakukan pula Snicko. Sistem yang merinci pergerakan bola melalui saluran frekuensi atau getaran, sebagai referensi untuk mengetahui akurasi dan ketepatan wasit melipri keputusan. Penggunaan instrumen Snicko ini terjadi saat pertandingan Portugal melawan Kroasia. Hasil Snicko menunjukkan tumbangnya Kroasia pada babak 16 besar. Grafik Snicko menunjukkan Igor Matanovic menyentuh tipis bola dalam posisi offside, akhirnya gol Josko Gvardiol pada menit 90 + 13, penyama kedudukan 2-2 dianulir wasit. Microchip yang terpasang pada bola Trionda menyatakan itu pada layar VAR. Langkah Modrick dan kawan-kawan, kemudian terhenti. Sebaliknya Portugal melaju ke babak delapan besar, walau kandas 0-1 pada injury time 90+1 atas Spanyol.

Dus, kian ke sini bola, kian menunjukkan kenujuman mulai menipis, namun kejutan dari tim keseblasan negara yang tak diperhitungkan mulai tumbuh. Teknik permainan kian merata. Adapun yang masih konstan dan tetap menjadi acuan adalah statistikal bola dengan kecanggihan teknologi, nyaris semua kita bisa punya catatan, untuk memprediksi sekaligus menjagokan tim kesayangan. Kalah menang itu biasa, sebab indah universalnya bola tiada terkira. Seperti slogan kampanye universal FIFA: Football Unites in the World, sepak bola menyatukan dunia. Ya, bola telah menyetimulan dunia bisa berpadu, di tengah ragam kecamuk dunia. Terima kasih bola, terima kasih TVRI-RRI. Official Broadcaster Piala Dunia 2026 di Indonesia.

Oleh: Mujaddid Muhas, M.A.*

*Kolumnis

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....