BMKG Ungkap 27 Zona Musim NTB Mundur, Hujan Mulai Akhir November
- 02 Okt 2026 09:14 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Musim hujan di Nusa Tenggara Barat diprediksi datang lebih lambat dari pola musiman normal pada periode 2026–2027.
- Seluruh 27 Zona Musim (ZOM) di NTB akan mengalami kemunduran awal musim hujan berdasarkan prediksi BMKG Stasiun Klimatologi NTB.
- Pengaruh El Nino yang masih sangat kuat menjadi penyebab utama berkurangnya pasokan uap air dan memperpanjang musim kemarau.
RRI.CO.ID, Lombok Barat — Musim hujan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) diperkirakan datang lebih lambat dibandingkan pola musim pada umumnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi NTB memprediksi seluruh 27 Zona Musim (ZOM) di daerah itu mengalami kemunduran awal musim hujan pada periode 2026–2027.
Kepala Stasiun Klimatologi NTB Nuga Putrantijo menjelaskan, kondisi tersebut tidak terlepas dari pengaruh El Nino yang masih berada pada level sangat kuat. Fenomena tersebut berdampak terhadap berkurangnya pasokan uap air sehingga musim kemarau berlangsung lebih panjang.
"Secara umum NTB masih terdampak El Nino dengan level sangat kuat. Kondisi ini menyebabkan pasokan uap air berkurang sehingga durasi musim kemarau menjadi lebih panjang," ujarnya, Rabu 30 September 2026.
Menurut Nuga, keterlambatan musim hujan menjadi konsekuensi dari panjangnya periode kemarau. Dari 27 ZOM yang tersebar di NTB, tidak ada satu pun wilayah yang diperkirakan memasuki musim hujan lebih awal dibandingkan prediksi normal.
BMKG memperkirakan hujan mulai memasuki sebagian wilayah NTB pada Dasarian III November 2026. Namun, fase tersebut baru mencakup sekitar dua ZOM, dengan wilayah yang terdampak antara lain Kota Mataram dan sebagian wilayah Lombok Tengah.
Sementara itu, sekitar 93 persen ZOM lainnya diprediksi baru mengalami peralihan menuju musim hujan pada Dasarian II hingga Dasarian III Desember 2026.
"Semua 27 zona musim diprediksi mengalami kemunduran. Dua ZOM diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada akhir November, sedangkan sebagian besar lainnya baru terjadi pada Desember," katanya.
Nuga menegaskan, istilah zona musim tidak dapat disamakan secara langsung dengan batas administrasi kabupaten maupun kota. Karena itu, satu wilayah administratif dapat memiliki karakter musim berbeda antara satu kawasan dengan kawasan lainnya.
Selain El Nino, keterlambatan hujan juga dipengaruhi pola angin muson. Angin yang masih dominan bergerak dari arah timur dan berasal dari kawasan Australia membawa kandungan uap air yang relatif rendah menuju NTB.
Kondisi suhu muka laut yang relatif dingin turut menjadi faktor lain. Rendahnya suhu permukaan laut membuat proses penguapan dan pembentukan awan hujan tidak berlangsung optimal.
Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan keterlambatan hujan. BMKG juga mengingatkan masyarakat mengenai potensi berkurangnya ketersediaan air, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun sektor pertanian.
"Yang perlu diwaspadai selama kemarau adalah berkurangnya pasokan air, terutama untuk kebutuhan minum, konsumsi rumah tangga, dan pertanian," ucapnya.
Kondisi tersebut bahkan telah mendapat perhatian dari sejumlah pihak yang berkaitan dengan pelayanan air. Koordinasi terkait kondisi pasokan air juga telah dilakukan dengan pihak penyedia layanan air di daerah.
Di sisi lain, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama ketika melakukan aktivitas pembakaran lahan. Kondisi kemarau yang panjang dan kering dapat membuat api lebih mudah menyebar apabila tidak dikendalikan.
Untuk periode Oktober 2026, peluang terjadinya hujan secara umum masih relatif kecil. Setelah musim hujan mulai berlangsung, BMKG memprediksi peningkatan kondisi hujan hingga mencapai periode puncaknya sekitar Maret.
Kondisi berbeda juga perlu dipahami terkait wilayah Lombok Utara yang secara geografis memiliki karakter hujan tersendiri. Pembagian ZOM digunakan berdasarkan karakteristik musim dan tidak mengikuti garis batas pemerintahan secara administratif.
Prediksi mundurnya awal musim hujan menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB. Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD NTB Awan Darmawan mengatakan pihaknya akan memperkuat koordinasi dengan BPBD kabupaten dan kota untuk menyiapkan langkah mitigasi.
Menurutnya, tantangan tidak hanya berada pada panjangnya musim kemarau. Ketika hujan akhirnya turun, durasi musim penghujan diperkirakan relatif lebih pendek dengan curah hujan yang dapat berlangsung lebih intens.
"Karena durasi musim hujan lebih pendek, air yang biasanya terbagi selama sekitar enam bulan bisa terkonsentrasi hanya dalam tiga sampai empat bulan. Kondisi itu perlu diantisipasi karena intensitas hujan dapat meningkat," katanya.
Situasi tersebut berpotensi meningkatkan ancaman bencana hidrometeorologi basah. Banjir dan tanah longsor menjadi dua risiko yang perlu mendapat perhatian ketika hujan berintensitas tinggi terjadi dalam waktu singkat.
BPBD NTB mendorong pemerintah daerah dan masyarakat tidak menunggu sampai bencana terjadi untuk melakukan tindakan pencegahan. Sejumlah langkah sederhana dapat dilakukan sejak sekarang untuk mengurangi dampak ketika hujan mulai meningkat.
Masyarakat, misalnya, dapat membuat sumur resapan dan menerapkan sistem pemanenan air hujan atau rainwater harvesting. Selain membantu mengurangi limpasan air permukaan, langkah tersebut dapat menjadi cadangan air sekaligus membantu menjaga ketersediaan air tanah.
Pemerintah desa juga didorong mengalokasikan sebagian anggaran yang tersedia untuk kegiatan mitigasi. Pembersihan saluran irigasi, pengerukan sedimentasi, hingga pembangunan bronjong pada titik rawan longsor menjadi beberapa langkah yang dapat dilakukan sebelum memasuki periode hujan dengan intensitas tinggi.
"Mitigasi perlu dilakukan sejak dini agar masyarakat dan pemerintah daerah lebih siap menghadapi perubahan karakter hujan serta potensi bencana yang menyertainya," katanya mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....