Jalan Rusak di Lambitu, Warga Desa Teta Galang Dana Sendiri

  • 29 Sep 2026 18:19 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Bima - Kerusakan infrastruktur jalan di Kecamatan Lambitu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), tidak hanya menyulitkan mobilitas warga. Kondisi tersebut juga berdampak pada akses masyarakat terhadap layanan kesehatan, pendidikan hingga aktivitas ekonomi. Salah satu desa yang merasakan langsung persoalan tersebut adalah Desa Teta. Karena perbaikan jalan belum sepenuhnya dilakukan pemerintah daerah, masyarakat akhirnya berinisiatif mengumpulkan dana dan memperbaiki jalan secara gotong royong.

Kepala Desa Teta, Muamar Ziaudin, mengatakan masyarakat sudah lama berharap adanya perbaikan jalan secara menyeluruh. Namun, kondisi jalan yang berada di sejumlah titik rawan pergerakan tanah membuat kerusakan kembali terjadi meskipun masyarakat telah berulang kali melakukan perbaikan secara mandiri.

"Jalur patahan tanah itu banyak di Teta. Setiap tahun tetap bergerak. Karena itu masyarakat sering melakukan gotong royong," kata Muamar, Selasa 29 September 2026.

Muamar menambahkan, masyarakat sempat memperbaiki beberapa titik dengan pengecoran semen. Namun, metode tersebut belum mampu mengatasi persoalan secara menyeluruh. Bahkan, jalan yang rusak dan memiliki tanjakan cukup curam disebut telah menimbulkan kecelakaan.

Pekan lalu, sebuah kendaraan pickup dilaporkan tidak mampu melewati tanjakan. Kendaraan tersebut kemudian mundur dan menyebabkan pengemudinya mengalami kecelakaan hingga mengalami patah tulang.

Kondisi itu membuat masyarakat kembali melakukan penggalangan dana. Tiga titik jalan menjadi sasaran perbaikan warga. Dua titik telah selesai diaspal, sedangkan satu titik lainnya masih berupa timbunan tanah dan kerikil.

Salah satu titik tanjakan yang diperbaiki memiliki panjang sekitar 30 hingga 40 meter. Untuk pekerjaan tersebut, masyarakat mengumpulkan dana sekitar Rp20 juta. Selain mengumpulkan uang, warga juga ikut bekerja secara langsung dalam proses pengerjaan.

"Warga yang galang dana, warga juga yang kerja. Ada pihak lain yang membantu. Semua dilakukan secara swadaya," ungkapnya.

Muamar mengatakan, masyarakat Desa Teta sebenarnya tidak ingin terus menerus melakukan perbaikan jalan secara mandiri. Namun, kondisi lapangan membuat mereka tidak memiliki banyak pilihan.

Menurutnya, pemerintah desa sudah beberapa kali menyampaikan persoalan tersebut kepada pemerintah daerah, baik melalui surat maupun koordinasi langsung dengan Dinas Pekerjaan Umum.

Pihak desa juga telah melaporkan kondisi jembatan dan kerusakan akibat pergerakan tanah kepada BPBD Kabupaten Bima.

"Jembatannya juga sudah ada yang putus. Kami sudah laporkan ke BPBD karena ini juga berkaitan dengan bencana dan pergerakan tanah," ucapnya.

Selain itu, Muamar menyampaikan, ketika ada warga yang sakit dan membutuhkan rujukan ke rumah sakit, kondisi jalan menjadi salah satu kendala yang harus dihadapi.

"Kalau ada pasien sakit, kami kewalahan untuk rujuk ke RSUD. Faktor jalannya cukup berat," kata dia.

Selain menuju pusat pelayanan kesehatan, akses masyarakat Lambitu menuju wilayah lain juga disebut tidak mudah. Menurut Muamar, masyarakat Lambitu mengalami kesulitan ketika hendak menuju Kota Bima maupun Talabiu karena sejumlah jalur mengalami kerusakan.

"Kami ke Kota susah, ke Talabiu juga susah karena jalan rusak. Turun lewat Lampe tidak enak, lewat Roka juga tidak enak," terangnya.

Ia berharap pemerintah daerah melihat persoalan tersebut sebagai kebutuhan dasar masyarakat, bukan semata-mata persoalan pembangunan fisik.

Menurutnya, kondisi jalan turut menentukan kelancaran kegiatan ekonomi, pendidikan, kesehatan dan hubungan sosial masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....