Tebu Kadindi Barat Menjalar 150 Hektare, Ekonomi Warga Pekat Mulai Berubah

  • 29 Sep 2026 14:58 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Tanaman tebu di Desa Kadindi Barat, Kabupaten Dompu, telah berkembang menjadi komoditas andalan yang penting bagi perekonomian masyarakat setempat.
  • Pengembangan tebu dimulai sekitar 2013–2014 melalui pembibitan sederhana yang kemudian berkembang selama lebih dari satu dekade.
  • Desa Kadindi Barat dan Desa Kadindi disiapkan sebagai sentra pembibitan tebu untuk mendukung pengembangan komoditas di Kecamatan Pekat.

RRI.CO.ID, Dompu — Hamparan tanaman tebu di Desa Kadindi Barat, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, kini menjadi bagian penting dari denyut perekonomian masyarakat. Tanaman yang semula dikembangkan melalui pembibitan sederhana lebih dari satu dekade lalu itu perlahan menjelma menjadi komoditas andalan warga.

Kepala Desa Kadindi Barat, Irawandi, mengatakan perjalanan pengembangan tebu di wilayahnya bermula sekitar 2013–2014. Saat itu, Kadindi Barat bersama Desa Kadindi menjadi salah satu kawasan yang dipersiapkan sebagai sentra pembibitan tebu untuk mendukung kebutuhan pengembangan komoditas tersebut di Kecamatan Pekat.

"Kondisi pengairan saat itu cukup mendukung sehingga pembibitan bisa berkembang. Dari sana masyarakat mulai melihat bahwa tebu memiliki peluang untuk dikembangkan di lahan mereka sendiri," ujar Irawandi. Selasa 29 September 2026.

Dari fase pembibitan tersebut, masyarakat kemudian mulai menanam tebu secara mandiri. Perluasan areal berlangsung perlahan hingga kini diperkirakan mencapai sekitar 150 hektare lahan warga.

Pilihan petani terhadap tebu tidak muncul tanpa alasan. Dibandingkan sejumlah tanaman musiman yang membutuhkan perawatan lebih intensif, tebu dinilai memiliki pola usaha yang relatif lebih sederhana. Kendati membutuhkan waktu lebih panjang untuk mencapai masa panen, keberadaan pasar dan peluang pendapatan yang lebih stabil menjadi pertimbangan masyarakat.

"Petani melihat tebu dari sisi usaha. Perawatannya relatif tidak serumit tanaman musiman dan pasarnya juga ada. Itu yang membuat masyarakat mulai tertarik menambah luasan tanam," katanya.

Potensi tebu Kadindi Barat dan Kadindi juga mendapat respons positif dari pihak industri. Pemerintah desa menyebut informasi dari PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) menunjukkan hasil tebu dari kawasan tersebut memiliki kualitas yang baik, termasuk dari sisi rendemen dan hasil produksi.

Penilaian tersebut menjadi dorongan bagi pemerintah desa untuk terus mengajak masyarakat mempertahankan bahkan meningkatkan produktivitas tanaman tebu.

Irawandi menegaskan pengembangan komoditas tersebut tidak cukup hanya dengan memperluas lahan. Pemerintah desa juga perlu memastikan berbagai persoalan yang muncul setelah panen dapat ditekan sehingga hasil usaha petani tidak banyak tergerus biaya.

"Kalau produksinya bagus tetapi biaya angkutnya tinggi, keuntungan petani tetap akan berkurang. Karena itu, akses jalan dan persoalan harga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan," tegasnya.

Persoalan infrastruktur masih menjadi salah satu tantangan utama. Bentang wilayah Kadindi Barat yang cukup luas membuat sebagian lahan pertanian berjarak cukup jauh dari jalan utama. Kondisi tersebut berdampak terhadap mobilitas kendaraan pengangkut dan meningkatkan ongkos distribusi hasil panen.

Bagi petani, perbaikan jalan usaha tani bukan hanya menyangkut akses menuju lahan. Infrastruktur tersebut berkaitan langsung dengan efisiensi biaya produksi dan besarnya pendapatan bersih yang dapat dibawa pulang setelah panen.

Pemerintah Desa Kadindi Barat tidak sepenuhnya menunggu dukungan dari pemerintah di atasnya. Sejumlah langkah dilakukan menggunakan sumber daya desa untuk membantu aktivitas pertanian masyarakat.

Salah satunya melalui pemanfaatan Dana Desa untuk mendukung perbaikan jalan usaha tani. Pemerintah desa juga mendorong BUMDes mengambil peran dalam penyediaan pupuk bagi petani.

Skema pembayaran pupuk saat panen menjadi salah satu bentuk dukungan permodalan yang dinilai membantu petani. Dengan pola tersebut, kebutuhan sarana produksi dapat dipenuhi tanpa seluruh biaya harus dikeluarkan di awal musim tanam.

"Petani bisa mendapatkan pupuk terlebih dahulu dan pembayarannya dilakukan setelah panen. Pola seperti ini cukup membantu karena modal petani tidak terlalu berat di awal," ucapnya.

Dalam lebih dari satu dekade terakhir, keberadaan tebu bersama jagung, sayuran, dan komoditas pertanian lainnya turut mengubah wajah ekonomi masyarakat Kadindi Barat.

Irawandi menggambarkan perubahan tersebut secara sederhana. Jika sebelumnya kemampuan ekonomi sebagian warga berada pada tingkat yang masih rendah, kini kondisi mereka dinilai telah mengalami peningkatan secara bertahap.

Menurut dia, penguatan ekonomi dari sektor pertanian juga membantu sebagian masyarakat mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman online maupun rentenir, terutama ketika kebutuhan rumah tangga meningkat pada masa paceklik.

Namun, meningkatnya perputaran uang pada musim panen juga menghadirkan persoalan yang harus diantisipasi. Pemerintah Desa Kadindi Barat memberikan perhatian terhadap potensi penyalahgunaan uang hasil panen untuk aktivitas yang merugikan masyarakat.

Judi online dan penyalahgunaan narkoba menjadi dua persoalan yang dinilai perlu mendapat perhatian bersama ketika masyarakat memperoleh pendapatan dalam jumlah lebih besar pada musim panen.

"Kami tidak hanya melihat sisi ekonominya. Ketika uang masyarakat meningkat saat panen, ada tantangan sosial yang juga harus dicegah agar hasil kerja keras petani benar-benar digunakan untuk kebutuhan keluarga dan meningkatkan kesejahteraan," katanya.

Karena itu, pengembangan tebu di Kadindi Barat dipandang tidak berhenti pada urusan produksi. Pemerintah desa juga dituntut membangun ekosistem pertanian yang mampu menjaga hasil usaha masyarakat tetap produktif dan memberi manfaat dalam jangka panjang.

Dengan areal sekitar 150 hektare, peluang perluasan tanaman tebu masih terbuka. Namun, pemerintah desa menilai pengembangan berikutnya harus dibarengi dengan pembenahan infrastruktur pertanian.

Salah satu kebutuhan yang dianggap mendesak adalah jaringan irigasi tersier. Karakter tanah di wilayah Pekat yang relatif poros membuat air cepat terserap sehingga pengelolaan air menjadi penting, terutama ketika memasuki musim kemarau.

Pembenahan irigasi tersier diharapkan mampu menjaga ketersediaan air pada lahan sekaligus mengurangi risiko penurunan produktivitas akibat kekeringan.

Selain jalan dan irigasi, persoalan harga juga menjadi perhatian. Petani membutuhkan mekanisme pemasaran yang memberikan kepastian sehingga keputusan memperluas tanaman tebu tidak dibayangi ketidakpastian nilai jual ketika masa panen tiba.

Pemerintah desa juga berharap tersedianya lokasi berjualan yang lebih representatif. Fasilitas tersebut diharapkan dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan aktivitas ekonomi baru berbasis hasil pertanian, termasuk peluang menuju pengolahan produk atau hilirisasi.

Irawandi menegaskan perjalanan tebu di Kadindi Barat telah menunjukkan bahwa komoditas tersebut mampu berkembang dari sekadar tanaman yang diperkenalkan menjadi salah satu penyangga ekonomi masyarakat.

"Perjalanan tebu sudah lebih dari sepuluh tahun. Sekarang bukan lagi sekadar percobaan, tetapi sudah menjadi bagian dari sumber penghasilan masyarakat. Yang harus diperkuat ke depan adalah jalan, irigasi, pupuk, pemasaran dan kepastian harga," menegaskan.

Dengan demikian, tantangan Kadindi Barat ke depan bukan semata memperluas hamparan tebu. Yang lebih penting adalah memastikan setiap hektare lahan mampu menghasilkan pendapatan yang layak bagi petani.

Perbaikan jalan usaha tani, penguatan irigasi tersier, dukungan pupuk melalui skema yang meringankan modal serta kepastian pemasaran menjadi rangkaian kebutuhan yang saling berkaitan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....