Nakes NTB Dilatih Pakai Rapid Test Ferritin untuk Deteksi Kekurangan Zat Besi
- 22 Sep 2026 07:06 WIB
- Mataram
Poin Utama
- RDT Ferritin memungkinkan tenaga kesehatan mendeteksi defisiensi besi secara lebih cepat dengan hasil sekitar 15 menit.
- Pelatihan FKIK Unram menjadi langkah awal untuk mendorong pemanfaatan alat tersebut di layanan kesehatan primer NTB.
RRI.CO.ID, Mataram - Tenaga kesehatan di Mataram dan Lombok Barat dilatih menggunakan Rapid Diagnostic Test (RDT) Ferritin untuk mempercepat deteksi dini defisiensi besi di layanan kesehatan primer. Pelatihan digelar tim Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Mataram pada 26 Mei 2026.
Pesertanya merupakan tenaga kesehatan dari sejumlah puskesmas, yakni Ampenan dan Karangpule di Mataram serta Gunungsari dan Meninting di Lombok Barat.

Ketua tim pengabdian, dr. Ima Arum Lestarini, MSi.Med., Sp.PK, mengatakan defisiensi besi perlu diketahui sejak awal. Sebab, penurunan cadangan besi dapat terjadi sebelum seseorang mengalami anemia.
Selama ini, pemeriksaan hemoglobin lebih banyak digunakan untuk skrining anemia. Sementara pemeriksaan ferritin belum tersedia secara luas di fasilitas kesehatan tingkat primer.
"Melalui pelatihan ini, tenaga kesehatan tidak hanya diperkenalkan pada teknologi RDT Ferritin, tetapi juga mencoba langsung prosedur pemeriksaannya," kata Ima, Senin 21 September 2026.
RDT Ferritin menggunakan prinsip lateral flow immunoassay. Alat berbentuk kaset ini dirancang praktis dan dapat menunjukkan hasil secara visual dalam waktu sekitar 15 menit.

Pelatihan dilakukan melalui pemberian materi, demonstrasi, hingga praktik langsung. Tenaga kesehatan juga mendapat panduan untuk melakukan pemeriksaan dan membaca hasil.
Tim kemudian mengukur kemudahan penggunaan alat melalui System Usability Scale (SUS). Hasil evaluasi menunjukkan skor rata-rata 78,68, dengan rentang 50-100 dan median 77,50.
Skor tersebut berada di atas nilai acuan 68 dan masuk kategori Good, Grade B, serta dinilai dapat diterima.
Hasil itu menunjukkan mayoritas peserta menilai RDT Ferritin relatif mudah digunakan dan dipelajari. Teknologi tersebut juga dinilai berpotensi mempercepat skrining defisiensi besi di layanan kesehatan primer.
Meski demikian, tim FKIK Unram menegaskan evaluasi lanjutan masih diperlukan. Pengujian perlu dilakukan dalam kondisi pelayanan nyata sekaligus untuk menilai kinerja diagnostik alat.
Inovasi ini diharapkan memperkuat upaya deteksi dini defisiensi besi sekaligus mendukung pelayanan kesehatan preventif di NTB.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....