BP3MI NTB Komitmen Perluas Pelatihan Buka Lebih Banyak Peluang Kerja Migran
- 18 Sep 2026 19:44 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Nusa Tenggara Barat (NTB) berkomitmen memperluas cakupan pelatihan bagi calon pekerja migran di daerah. Perluasan tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai lembaga pelatihan untuk menyiapkan tenaga kerja pada lebih banyak bidang pekerjaan.
Kepala BP3MI NTB, Kadir, S.Pd., mengatakan program pelatihan pekerja migran di NTB tidak hanya diarahkan pada satu jenis pekerjaan. Sejumlah bidang telah disiapkan melalui program SMK Go Global, antara lain Plantation Worker, barista, bahasa Inggris dan konstruksi.
"Untuk program yang berjalan di NTB tidak hanya Plantation Worker. Ada juga barista, bahasa Inggris dan konstruksi. Jadi kami terus berupaya memperluas jenis pekerjaan yang bisa disiapkan melalui pelatihan," ungkapnya, Jumat 18 September 2026.
Menurutnya, pengembangan jenis pelatihan diperlukan agar masyarakat memiliki pilihan yang lebih beragam sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja. BP3MI NTB juga terus membuka peluang kerja sama dengan lembaga pelatihan yang dinilai mampu menyelenggarakan pembekalan sesuai standar yang dibutuhkan.
Kadir menyebut NTB memperoleh alokasi sekitar seribu peserta untuk berbagai jenis pelatihan dari target nasional sekitar 40 ribu tenaga kerja. Jumlah tersebut mencakup sejumlah bidang yang dipersiapkan melalui program penyiapan calon pekerja migran.
"Untuk NTB alokasinya sekitar seribu peserta dari target nasional sekitar 40 ribu tenaga kerja. Karena itu, kami juga terus menjalin kerja sama dengan lembaga pelatihan lain supaya jenis pekerjaan yang bisa kami siapkan semakin luas," ujarnya.
Dalam membangun kerja sama, BP3MI NTB tidak langsung menunjuk seluruh lembaga yang mengajukan diri sebagai penyelenggara pelatihan. Lembaga calon mitra terlebih dahulu melalui proses penilaian untuk memastikan kesiapan dalam melaksanakan program.
Kadir menjelaskan penilaian tersebut mencakup sejumlah aspek, termasuk kurikulum, fasilitas dan tenaga pengajar. Ketiga unsur tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan lembaga memiliki kemampuan melaksanakan pelatihan sesuai kebutuhan program.
"Setelah dilakukan asesmen dan lembaga tersebut dinilai mampu melaksanakan pelatihan, baru kami melakukan perjanjian kerja sama. Jadi tidak semua sekolah bisa langsung melaksanakan pelatihan," jelas Kadir.
Menurutnya, proses asesmen diperlukan agar pelaksanaan pelatihan tidak hanya mengejar jumlah peserta. Lembaga penyelenggara harus memiliki kesiapan untuk memberikan pembekalan yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang menjadi sasaran program.
Selain menggandeng lembaga pendidikan, BP3MI NTB juga membuka kerja sama dengan lembaga pelatihan lain untuk memperluas cakupan bidang yang dapat disiapkan. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya memperbanyak pilihan pekerjaan bagi calon pekerja migran.
Kadir berharap semakin banyak lembaga yang memiliki kapasitas dapat terlibat dalam program tersebut. Namun, keterlibatan tetap harus didasarkan pada kemampuan lembaga dalam memenuhi persyaratan dan standar pelaksanaan pelatihan.
"Kami berharap semakin banyak lembaga yang mampu dan memenuhi persyaratan bisa ikut bekerja sama. Dengan begitu, jenis pelatihan dan pekerjaan yang dapat disiapkan untuk masyarakat NTB juga semakin banyak," katanya.
Ia menilai perluasan jenis pelatihan akan memberikan ruang yang lebih besar bagi masyarakat untuk memilih bidang pekerjaan berdasarkan kemampuan dan minat yang dimiliki. Dengan pilihan yang lebih beragam, penyiapan calon pekerja migran dapat dilakukan pada berbagai sektor.
Kadir juga berharap program yang telah berjalan dapat terus dikembangkan secara bertahap. Pengembangan tersebut dilakukan dengan tetap melihat kebutuhan tenaga kerja dan kemampuan lembaga yang menjadi mitra pelatihan.
"Harapannya tentu program ini terus berkembang. Tidak hanya jumlah pesertanya, tetapi juga jenis pekerjaannya semakin beragam sehingga semakin banyak masyarakat yang bisa mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan," ujarnya.
Menurut Kadir, keberlanjutan program membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan dan lembaga pelatihan. Setiap pihak memiliki peran dalam memastikan calon pekerja mendapatkan pembekalan yang sesuai sebelum memasuki proses kerja.
BP3MI NTB akan terus melakukan penilaian terhadap lembaga yang akan menjadi mitra agar program pelatihan dapat berjalan sesuai standar. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen memastikan perluasan program tetap diikuti dengan kesiapan penyelenggara.
Dengan pengembangan kerja sama dan penambahan bidang pelatihan, BP3MI NTB berharap program penyiapan pekerja migran dapat menjangkau lebih banyak masyarakat. Program tersebut diharapkan tidak hanya membuka akses terhadap pelatihan, tetapi juga
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....