Cekcok Sopir di Mandalika Dinilai Ganggu Citra Pariwisata NTB

  • 17 Sep 2026 14:27 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Video cekcok sopir taksi dan travel lokal saat memperebutkan penumpang WNA di Mandalika kembali viral dan dinilai dapat mengganggu citra pariwisata NTB.
  • Ketua BPPD NTB Sahlan M Saleh mendorong sosialisasi regulasi dan penegakan hukum tegas, sekaligus meminta masyarakat lokal dilibatkan dalam aktivitas pariwisata.

RRI.CO.ID, Mataram - Video cekcok antara sopir taksi Bluebird dan sopir travel lokal di kawasan Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), kembali viral. Perselisihan itu dipicu perebutan penumpang warga negara asing (WNA).

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB Sahlan M. Saleh menilai kejadian tersebut menjadi preseden buruk bagi citra pariwisata NTB, bahkan Indonesia.

"Ini menjadi preseden buruk terhadap sektor pariwisata kita. Dampaknya bukan hanya mengganggu pariwisata NTB, tetapi juga citra pariwisata Indonesia," kata Sahlan, kepada RRI, Kamis, 17 September 2026.

Menurut Sahlan, pemerintah sebenarnya telah memiliki regulasi terkait layanan transportasi wisata. Namun, aturan tersebut dinilai belum sepenuhnya dipahami dan diterapkan oleh para sopir di lapangan.

"Regulasi yang dibangun pemerintah sudah ada dan sudah bagus, tetapi tidak sampai ke sopir-sopir. Mereka masih memakai gaya lama untuk mencari nafkah," ujarnya.

Sahlan mendorong penguatan sosialisasi sekaligus penegakan hukum. Menurutnya, tindakan yang merugikan atau mengganggu wisatawan harus ditindak tegas agar kejadian serupa tidak berulang.

"Kita harus mengambil tindakan tegas supaya kejadian ini tidak terus berulang," tegasnya.

Dia juga meminta pemerintah dan seluruh pelaku transportasi duduk bersama untuk mencari solusi. Sebab, menurutnya, tidak boleh ada kelompok tertentu yang merasa paling berhak menguasai layanan transportasi di kawasan wisata.

"Kita ini negara hukum, bukan negara preman yang hanya dikuasai segelintir orang," katanya.

Sahlan menilai keterlibatan masyarakat lokal dalam aktivitas pariwisata juga perlu diperbesar. Tidak hanya melalui sektor transportasi, tetapi juga melalui berbagai peluang usaha lainnya.

Dengan begitu, masyarakat sekitar kawasan wisata memiliki ruang untuk mendapatkan penghasilan tanpa harus melakukan tindakan yang berpotensi melanggar aturan.

"Pariwisata ini milik kita bersama. Tidak boleh ada satu kelompok menguasai satu kawasan. Kita ingin hidup berdampingan supaya pariwisata terus membaik," ujarnya.

Sahlan mengingatkan, jika citra pariwisata terganggu dan wisatawan enggan datang, dampaknya akan dirasakan bersama.

"Yang rugi siapa kalau pariwisata kita terganggu dan tidak ada tamu? Kita semua yang rugi. Karena itu harus kita jaga bersama," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....