Rawan Bencana, MIF 2026 Terpaksa Menunda Pelaksaan Event hingga Desember
- 12 Sep 2026 17:57 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Mandalika International Festival 2026 ditunda dari 22–25 Oktober 2026 menjadi 10–13 Desember 2026 sebagai upaya mitigasi risiko bencana alam.
- Penundaan festival diambil karena potensi risiko alam di NTB meliputi aktivitas erupsi gunung berapi, ancaman gempa bumi, dan gelombang laut tinggi.
- Delegasi internasional dari Australia, Italia, dan Malaysia turut menunda perjalanan ke Lombok mengikuti keputusan penyelenggara untuk memastikan keselamatan semua pihak.
RRI.CO.ID, Lombok Barat — Mandalika International Festival (MIF) 2026 mengambil keputusan penting di tengah meningkatnya risiko bencana alam yang berpotensi mengganggu pelaksanaan agenda internasional tersebut. Penyelenggara memilih menunda pelaksanaan festival dari 22–25 Oktober 2026 menjadi 10–13 Desember 2026 sebagai langkah mitigasi untuk memastikan keselamatan peserta, delegasi, dan seluruh pihak yang terlibat.
Keputusan tersebut muncul setelah kondisi alam di wilayah NTB dinilai memiliki sejumlah potensi risiko, mulai dari aktivitas erupsi gunung berapi, ancaman gempa bumi hingga gelombang laut tinggi. Situasi itu juga berdampak terhadap rencana kedatangan sejumlah delegasi internasional dari Australia, Italia dan Malaysia yang memilih menunda perjalanan menuju Lombok.
Direktur MIF 2026, Sirajuddin, mengatakan perubahan jadwal bukan bentuk mundurnya penyelenggara menghadapi situasi, melainkan bagian dari manajemen risiko yang telah dipersiapkan sejak awal.
Menurutnya, sebuah event internasional tidak cukup hanya dinilai dari kemeriahan acara, tetapi juga dari kemampuan penyelenggara dalam memastikan keselamatan manusia ketika menghadapi kondisi yang tidak dapat dikendalikan.
| Baca juga: Tujuh Sumur Bor Dalam di Dompu Tak Berfungsi |
"Event yang berkelas bukan sekadar mengejar megahnya panggung atau kesuksesan seremoni, melainkan seberapa sensitif kita terhadap keselamatan manusia. Kehati-hatian adalah kunci utama," ujar Sirajuddin. Sabtu 12 September 2026.
Ia menjelaskan, manajemen MIF telah menyiapkan sejumlah skenario untuk menghadapi kemungkinan keadaan darurat. Rencana tersebut disusun melalui Plan A, Plan B dan Plan C, sehingga penyelenggaraan festival tetap memiliki arah ketika terjadi perubahan situasi.
Dalam kondisi bencana masuk kategori berisiko tinggi, penyelenggara memilih menjalankan Plan B berupa penundaan jadwal. Langkah itu dinilai lebih rasional dibandingkan mempertahankan agenda semula dengan mengabaikan faktor keselamatan.
"Saat bencana alam dikategorikan sebagai high risk, maka Plan B yaitu penundaan jadwal resmi kita jalankan," katanya menegaskan.
Tak hanya penjadwalan ulang, penyelenggara juga menyiapkan Plan C berupa re-planning and re-design apabila perkembangan kondisi di lapangan kembali membutuhkan perubahan strategi.
Bagi MIF 2026, keselamatan menjadi bagian penting dari standar penyelenggaraan event internasional. Prinsip tersebut sekaligus menunjukkan bahwa industri event di NTB mulai menempatkan mitigasi risiko sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan sebuah festival.
Meski agenda tatap muka bergeser ke Desember, penyelenggara memastikan substansi MIF 2026 tetap berjalan. Festival edisi kelima ini dirancang sebagai ruang pertemuan berbagai unsur internasional dengan kekuatan NTB melalui empat karakter utama, yakni Culture, Nature, Unique dan Beauty.
Konsep tersebut tidak hanya mengandalkan pertunjukan budaya, tetapi juga menggabungkan kekayaan tradisi lokal dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Akademisi, jurnalis, seniman serta mahasiswa dari berbagai negara tetap menjadi bagian dari ekosistem kegiatan MIF 2026.
Sementara itu, keterlibatan para pakar dari negara mitra tidak sepenuhnya terhenti akibat perubahan jadwal. Penyelenggara menyiapkan online conference sebagai jalur pertukaran pengetahuan dan gagasan selama periode menuju pelaksanaan festival secara langsung.
Dengan demikian, penundaan tidak serta-merta menghentikan agenda internasional MIF 2026. Sebaliknya, langkah tersebut menjadi bagian dari strategi untuk mempertahankan kualitas festival sekaligus menjaga kepercayaan peserta dan mitra internasional.
Sirajuddin yang juga menjabat sebagai Vice President Asia Pacific Institute For Events Management (APIEM) UK serta dosen Poltekpar Lombok menilai pengelolaan risiko justru menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan dunia internasional terhadap event di NTB.
"Mandalika International Festival 2026 bukan sekadar perayaan pesta budaya, melainkan simbol ketangguhan, keahlian tata kelola risiko, dan komitmen diplomasi pengetahuan yang tak padam oleh tantangan alam," ucapnya mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....