Pemkab Lombok Tengah, Siapkan Pusat Ibadah Enam Agama di Mandalika

  • 13 Sep 2026 15:13 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Tengah — Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah berencana menyiapkan kawasan pusat ibadah bagi umat beragama di kawasan The Mandalika. Rencana tersebut disiapkan bersama Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) untuk memenuhi kebutuhan wisatawan maupun masyarakat dari berbagai latar belakang agama.

Untuk mematangkan konsep pengelolaan kawasan tersebut, Bupati Lombok Tengah H. Lalu Pathul Bahri bersama jajaran pemerintah daerah mengajak Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Lombok Tengah melakukan studi tiru ke kawasan ITDC Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali.

Rombongan kemudian dipimpin Sekretaris Daerah Lombok Tengah H. Lalu Firman Wijaya. Turut hadir Kepala Bakesbangpoldagri, anggota MUI Lombok Tengah, serta sejumlah tokoh agama. Rombongan juga didampingi General Manager ITDC The Mandalika, Pari Wijaya.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan mempelajari konsep Puja Mandala di Nusa Dua, kawasan yang menyediakan sarana ibadah bagi sejumlah umat beragama dalam satu kawasan.

GM ITDC Nusa Dua I Made Wijatmika mengapresiasi kunjungan Pemkab Lombok Tengah dan FKUB. Ia mengatakan ITDC Nusa Dua siap mendukung pengembangan kawasan The Mandalika, termasuk dalam rencana penyediaan fasilitas ibadah.

“Kami berharap program ini berjalan lancar,” ujarnya.

Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Badung I Putu Mas Arimbawa mengatakan, penyediaan fasilitas ibadah di kawasan pariwisata merupakan bagian penting dalam menjaga kenyamanan wisatawan sekaligus memperkuat kerukunan antarumat beragama.

Menurut dia, keberagaman wisatawan yang datang membuat kebutuhan terhadap fasilitas ibadah dari berbagai agama perlu diperhatikan.

“Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke daerah kita bukan dari satu agama, melainkan berbagai umat beragama. Maka harus kita siapkan untuk mereka beribadah sesuai kepercayaannya masing-masing,” jelasnya.

Sementara itu, GM ITDC The Mandalika Pari Wijaya menjelaskan konsep pengembangan Nusa Dua yang telah berjalan selama 53 tahun. Ia menyebut kawasan tersebut memiliki lima sarana ibadah yang berada dalam satu kawasan bernama Puja Mandala.

Menurut Pari, konsep tersebut dapat menjadi salah satu referensi bagi pengembangan fasilitas ibadah di Mandalika. Ia mengatakan karakter kedua kawasan memang berbeda. Nusa Dua lebih kuat pada seni, budaya, dan MICE, sedangkan Mandalika dikembangkan dengan mengandalkan potensi alam, olahraga, dan pariwisata.

“Mandalika saat ini fokus pada sport entertainment tourism. Kalau di Mandalika event yang ditampilkan adalah balap motor, sedangkan Nusa Dua adalah MICE,” katanya.

Pari mengatakan pengembangan Mandalika juga terus diarahkan untuk menarik investasi dan menghadirkan fasilitas berstandar internasional. Saat ini terdapat 29 investor di kawasan tersebut dan jumlahnya diproyeksikan terus bertambah.

Di sisi lain, Ketua Paguyuban Umat Beragama Kabupaten Badung, Wayan Soroni, menjelaskan Puja Mandala secara umum merupakan kawasan yang menjadi pusat sarana ibadah.

Menurut dia, pengelolaan fasilitas ibadah dalam satu kawasan perlu diatur oleh pengelola, termasuk dari sisi desain dan penataan lingkungan.

“Pemerintah wajib memberikan keamanan dan kenyamanan bagi umat beragama,” katanya.

Sekda Lombok Tengah H. Lalu Firman Wijaya mengatakan, rencana pembangunan pusat ibadah di Mandalika telah menjadi perhatian pemerintah daerah. Pemkab berharap ITDC dapat menyediakan lahan untuk merealisasikan rencana tersebut.

“Kami berdiskusi tentang kawasan ibadah ini dan kami punya lokasi, yakni kawasan ITDC. Mudahan ITDC memberikan kita lahan,” ujar Firman.

Pemkab Lombok Tengah mengusulkan lahan sekitar empat hektare untuk membangun pusat ibadah yang dapat digunakan enam agama, yakni Islam, Hindu, Buddha, Kristen Katolik, Kristen Protestan, dan Khonghucu.

Luas tersebut lebih besar dibandingkan kawasan Puja Mandala di Nusa Dua yang memiliki luas sekitar 1,8 hektare.

Firman mengatakan desain dan konsep kawasan nantinya akan dibahas bersama dengan pihak terkait. Pemkab juga berharap lokasi pusat ibadah berada tidak jauh dari kawasan premium Sirkuit Mandalika.

“Siapa yang bangun, yang bangun adalah umat beragama masing-masing,” jelasnya.

Ia menilai keberadaan pusat ibadah tersebut nantinya tidak hanya menjadi tempat menjalankan ibadah, tetapi juga dapat menjadi bagian dari identitas dan kebanggaan kawasan Mandalika.

Rencana tersebut dinilai semakin penting karena jumlah pengunjung MotoGP Mandalika setiap tahun mencapai lebih dari 150.000 orang. Saat ini, fasilitas ibadah yang tersedia di kawasan tersebut baru berupa masjid.

“Penumpang MotoGP setiap tahun mencapai 150 ribu lebih, namun Pemda baru bisa menyediakan masjid, sedangkan sarana ibadah umat beragama lainnya belum kami siapkan. Mudah-mudahan segera terealisasi sehingga umat beragama lainnya bisa beribadah,” kata Firman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....