Kekeringan Sumbawa Meluas, 42.728 Jiwa Terdampak

  • 15 Sep 2026 14:52 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Sumbawa — Kekeringan yang melanda Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, meluas dari 12 kecamatan pada Agustus menjadi 14 kecamatan pada September 2026. Kondisi tersebut membuat lebih dari separuh wilayah Kabupaten Sumbawa, menghadapi dampak kekurangan air bersih di tengah cuaca kering yang masih berlangsung.

Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumbawa, Dr. Rusdianto, mengatakan, perluasan wilayah kekeringan terjadi, setelah Kecamatan Labangka dan Kecamatan Lantung turut mengalami kekurangan air.

“Pada Agustus lalu, kekeringan terjadi di 12 kecamatan. Memasuki September, kekeringan meluas menjadi 14 kecamatan dengan tambahan Kecamatan Labangka dan Lantung,” ujar Rusdianto, Selasa 15 September 2026.

Kabupaten Sumbawa memiliki 24 kecamatan. Dengan bertambahnya dua wilayah terdampak tersebut, kekeringan kini meliputi lebih dari setengah jumlah kecamatan di daerah itu. BPBD mencatat sebanyak 42.728 jiwa terdampak kekeringan yang tersebar di 14 kecamatan.

Rusdianto menjelaskan, kekeringan terjadi secara merata di 14 kecamatan. Namun, kondisi paling parah terlihat di wilayah pesisir bagian utara Kabupaten Sumbawa. Warga di kawasan tersebut menghadapi persoalan ketersediaan air bersih. Karena sumur yang selama ini menjadi sumber kebutuhan sehari-hari, mengalami penurunan kualitas dan ketersediaan air.

Menurut Rusdianto, intrusi air laut menjadi salah satu penyebab utama memburuknya kondisi air sumur warga di kawasan pesisir. Air laut meresap ke dalam lapisan air tanah dan memengaruhi sumber air tawar yang masyarakat gunakan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Apalagi semakin kering cuaca, maka intrusi air laut akan semakin dalam masuk ke daratan,” kata Rusdianto.

Kondisi itu, membuat sebagian warga pesisir utara tidak lagi dapat mengandalkan sumur sebagai satu-satunya sumber air bersih. Warga kemudian menggantungkan kebutuhan air sehari-hari pada distribusi air bersih, yang dilakukan pemerintah maupun pihak swasta.

Sebagian warga lainnya terpaksa membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ketergantungan terhadap pasokan dari luar tersebut, menambah beban masyarakat. Terutama ketika kekeringan berlangsung lebih lama dan kebutuhan air terus meningkat.

Menghadapi kondisi itu, BPBD Kabupaten Sumbawa terus menyalurkan bantuan air bersih ke desa-desa yang terdampak. Hingga saat ini, BPBD telah mendistribusikan 640 ribu liter air bersih ke seluruh desa yang mengalami kekeringan.

Rusdianto menyebut, pendistribusian air bersih sebagai langkah penanganan yang perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama kekeringan berlangsung. Pemerintah dan pihak terkait terus memasok air ke wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air. Terutama kawasan pesisir utara, yang menghadapi dampak intrusi air laut.

Selain penanganan darurat, BPBD juga mendorong penyediaan infrastruktur air bersih sebagai solusi jangka panjang. Salah satu upaya yang dinilai perlu, ialah pembangunan jaringan pipanisasi yang bersumber dari sumur bor, untuk memenuhi kebutuhan air warga.

Program tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat, terhadap sumur dangkal yang rentan mengalami intrusi air laut. Melalui penyediaan sumber air alternatif dan jaringan perpipaan, warga dapat memperoleh pasokan air bersih yang lebih terjamin, khususnya di wilayah pesisir yang menghadapi ancaman kekeringan berulang.

Rusdianto juga mengimbau masyarakat agar menggunakan air bersih secara bijak selama kekeringan meluas. Ia meminta warga mengatur pemakaian air sesuai kebutuhan dan menghindari pemborosan agar persediaan air yang tersedia dapat mencukupi kebutuhan lebih banyak keluarga.

Untuk menjaga ketersediaan air dalam jangka panjang, Rusdianto berharap program Sumbawa Hijau Lestari terus berjalan. Program tersebut perlu mendapat dukungan bersama untuk menjaga kelestarian lingkungan dan sumber daya air di Kabupaten Sumbawa.

Ia juga menekankan pentingnya pendidikan lingkungan bagi masyarakat. Edukasi mengenai pengelolaan air, perlindungan sumber daya alam, dan pelestarian lingkungan perlu terus diberikan. Agar, masyarakat memahami pentingnya menjaga ketersediaan air, ditengah ancaman kekeringan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....