Lepas Tukik di Gili Meno, Putri Victoria Kagum dengan Konservasi Laut NTB
- 06 Sep 2026 18:59 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Putri Victoria melihat langsung upaya masyarakat Gili Meno menjaga laut dan mengembangkan ekonomi biru.
- Ia berharap praktik konservasi dan pembangunan berkelanjutan di Gili Meno bisa menjadi contoh bagi daerah lain.
RRI.CO.ID, Lombok Utara - Putri Mahkota Swedia Victoria Ingrid Alice Désirée mengunjungi Gili Meno, Lombok Utara, NTB, Minggu, 6 September 2026. Dalam kunjungan itu, Victoria melihat langsung upaya warga menjaga ekosistem laut sekaligus mengembangkan ekonomi biru.
Victoria didampingi Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengunjungi kawasan konservasi penyu dan melihat proses pelestarian terumbu karang. Ia juga melepas tukik ke laut di Turtle Sanctuary Gili Meno.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari agenda Victoria sebagai Goodwill Ambassador United Nations Development Programme (UNDP) untuk melihat praktik pembangunan berkelanjutan di tingkat masyarakat. Gili Meno dipilih karena memiliki berbagai inisiatif konservasi dan ekonomi berbasis laut.
Di atas kapal menuju Gili Meno, Victoria sempat berbincang dengan Gubernur Iqbal mengenai aktivitas masyarakat di kawasan Gili Matra yang meliputi Gili Meno, Gili Air, dan Gili Trawangan.
Victoria tertarik ketika melihat kapal nelayan. Iqbal menjelaskan kapal tersebut tidak hanya digunakan untuk menangkap ikan, tetapi juga mengangkut penyelam.
Setibanya di Gili Meno, Victoria melihat berbagai program konservasi, mulai dari penangkaran penyu, pelepasan tukik hingga transplantasi terumbu karang. Agenda ini memang menjadi bagian utama kunjungan Victoria untuk melihat pengembangan ekonomi biru dan pelestarian lingkungan di kawasan Gili Matra.
Victoria mengaku terkesan dengan upaya masyarakat menjaga Gili Meno.
"Saya sangat terkesan dengan semua hal yang sedang dilakukan di sini. Tempat ini sangat indah, bahkan luar biasa indah," ujar Victoria.
Menurutnya, menjaga keindahan Gili Meno merupakan kepentingan bersama. Ia juga berharap berbagai praktik baik yang dilakukan masyarakat dapat diterapkan di daerah lain.
"Terima kasih karena telah menjadi contoh atau panutan. Saya berharap berbagai contoh baik dan inisiatif yang dilakukan di sini dapat diterapkan dan dikembangkan juga di tempat-tempat lainnya," katanya.
Kepala Dusun Gili Meno Masrun mengatakan masyarakat menggantungkan kehidupan dari laut, antara lain melalui perikanan, pariwisata, perdagangan dan usaha masyarakat.
Karena itu, warga ingin Gili Meno berkembang sebagai sustainable island. Pertumbuhan ekonomi dan pariwisata diharapkan tetap berjalan tanpa merusak lingkungan.
Masyarakat menjalankan berbagai kegiatan konservasi, seperti rehabilitasi terumbu karang, penanaman mangrove, pengawasan laut, edukasi lingkungan dan aksi bersih-bersih.
Kelompok perempuan juga terlibat dalam kegiatan ekonomi dengan mengolah sampah plastik dan limbah botol menjadi suvenir serta produk kreatif bernilai jual.
"Yang kami harapkan adalah Gili Meno dapat terus berkembang sebagai pulau yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta generasi anak cucu kami," kata Masrun.
Kunjungan Victoria menunjukkan bahwa ekonomi biru di Gili Meno tidak hanya berbicara soal laut sebagai objek wisata. Laut juga menjadi sumber penghidupan yang harus dijaga keberlanjutannya.
Tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pariwisata dan kelestarian lingkungan. Pengelolaan sampah, daya dukung kawasan, terumbu karang, hingga keberlangsungan ekosistem laut menjadi pekerjaan yang harus terus dilakukan masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....