Putri Victoria Apresiasi Kearifan Desa Adat Karang Bajo Jaga Alam

  • 06 Sep 2026 18:58 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Putri Mahkota Swedia Victoria mengapresiasi kearifan masyarakat Desa Adat Karang Bajo, Lombok Utara, dalam menjaga hutan, mata air, dan tradisi yang diwariskan lintas generasi.
  • Kunjungan ini menegaskan bahwa kearifan lokal Karang Bajo memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian alam sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.

RRI.CO.ID, Lombok Utara - Hutan dan mata air bukan sekadar sumber kehidupan bagi masyarakat Desa Adat Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Keduanya dijaga sebagai bagian dari warisan leluhur yang harus tetap hidup hingga generasi mendatang.

Kearifan itu menarik perhatian Putri Mahkota Swedia Victoria saat mengunjungi Desa Adat Karang Bajo, Minggu, 6 September 2026. Dalam kunjungan tersebut, Putri Victoria melihat langsung cara masyarakat adat menjaga alam sekaligus mempertahankan tradisi.

Putri Victoria datang dalam kapasitasnya sebagai Goodwill Ambassador UNDP untuk Pembangunan Berkelanjutan. Ia didampingi Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Utara, serta rombongan UNDP.

Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Mata Air Mandala di kawasan hutan adat. Putri Victoria juga mengikuti penanaman pohon dan berdialog dengan masyarakat mengenai pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Menurut Putri Victoria, apa yang dilakukan masyarakat Karang Bajo memiliki arti penting bagi keberlanjutan kehidupan dan kelestarian alam.

“Apa yang Bapak dan Ibu lakukan di sini sangat penting, bukan hanya bagi kehidupan masyarakat, tetapi juga bagi upaya menjaga sumber daya alam yang ada.”

Ia juga mengaku tersentuh oleh sambutan masyarakat dan kesempatan untuk mengenal budaya Karang Bajo secara langsung.

“Saya sangat tersentuh dan merasa terhormat dapat menjadi bagian dari masyarakat di sini.”

Bagi masyarakat Karang Bajo, menjaga alam bukan program sesaat. Hutan, mata air, dan tradisi merupakan bagian dari satu tata kehidupan yang diatur melalui pranata adat.

Pemekel Karang Bajo, Nikrana, mengatakan masyarakat adat memiliki filosofi yang menempatkan bumi sebagai ibu yang harus dihormati dan dijaga.

“Hubungan masyarakat adat dengan alam dan hutan hingga hari ini terus menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat adat Bayan,” kata Nikrana.

Di wilayah Bayan terdapat empat kawasan hutan adat dengan sedikitnya 27 mata air. Sumber air tersebut menopang kebutuhan masyarakat, mulai dari air bersih hingga pertanian.

Karena itu, bagi masyarakat adat, merawat hutan berarti menjaga sumber kehidupan.

Karang Bajo juga mempertahankan identitasnya sebagai desa adat sekaligus desa wisata. Tradisi dan kehidupan masyarakat masih berjalan berdampingan dengan alam.

Kunjungan Putri Victoria menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat adat bukan sekadar warisan masa lalu. Kearifan tersebut memiliki relevansi dengan tantangan pembangunan berkelanjutan saat ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....