Masuk 10 Besar Festival Kurma Dunia, KLU Bentuk Tim Percepatan Pengembangan Kurma

  • 31 Agt 2026 15:00 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Utara – Pemerintah Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, mulai menyiapkan langkah lebih terstruktur untuk mengembangkan kurma sebagai komoditas unggulan daerah. Keseriusan tersebut ditandai dengan pembentukan Tim Percepatan Pembangunan Peradaban Kurma Indonesia melalui Surat Keputusan Bupati Lombok Utara Nomor 91/06/AP/2026.

Pembentukan tim ini menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk mengembangkan budidaya kurma secara lebih terarah, mulai dari peningkatan produktivitas, pendampingan petani, pengembangan kawasan perkebunan hingga mendorong lahirnya industri pengolahan produk turunan kurma.

Langkah tersebut sekaligus menjadi tindak lanjut deklarasi Bupati Lombok Utara pada 2 Februari 2026 yang menetapkan daerah itu sebagai Daerah Peradaban Kurma di Indonesia.

Sekretaris Tim Percepatan Pembangunan Peradaban Kurma Indonesia KLU, Nasli, mengatakan pembentukan tim dilakukan setelah melihat sejumlah capaian dan potensi pengembangan kurma di Lombok Utara.

Salah satu capaian tersebut adalah keberhasilan kurma asal Lombok Utara masuk 10 besar Festival Kurma Dunia yang diselenggarakan Khalifa International Date Palm di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

“Setelah fokus penertiban di tingkat internal selesai, nanti tim akan menggelar rapat teknis untuk menyusun langkah-langkah percepatan strategis,” kata Nasli, Jumat 28 Agustus 2026.

Menurut Nasli, potensi pengembangan kurma di Lombok Utara juga diperkuat hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN. Hasil pendampingan riset menunjukkan kondisi tanah, iklim, unsur hara dan kecepatan angin di wilayah Lombok Utara dinilai mendukung pertumbuhan tanaman kurma.

“Hasil riset BRIN yang mendampingi kami sejak awal digagas oleh teman-teman Ukhuwah Hadatuk menunjukkan bahwa kesesuaian tanah, iklim, dan kecepatan angin di KLU sangat mendukung,” ujarnya.

Pengembangan kurma di Lombok Utara juga telah melahirkan inovasi budidaya dengan pola tumpangsari bersama kacang sacha inchi. Inovasi tersebut masuk sebagai salah satu inovasi non-digital unggulan tingkat nasional dalam ajang Indonesian Government Award 2025.

Pemda Lombok Utara tidak ingin pengembangan kurma berhenti pada sektor budidaya. Komoditas tersebut diproyeksikan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi baru yang mencakup investasi, penciptaan lapangan kerja, pengembangan agroindustri, produk turunan hingga sektor pariwisata.

Saat ini pengembangan kurma dilakukan melalui dua skema, yakni budidaya rumahan oleh petani binaan dan pengembangan kawasan perkebunan dalam bentuk hamparan.

Lima klaster utama telah dikembangkan di sejumlah wilayah, termasuk Desa Sambik Bangkol, Gondang dan Rempek.

Nasli mengatakan peningkatan produktivitas menjadi salah satu fokus awal pemerintah daerah sebelum pengembangan kawasan diarahkan lebih jauh.

“Ini yang sementara kita tingkatkan dulu produktivitasnya,” katanya.

Setelah produktivitas dan penataan kawasan semakin matang, pemerintah daerah akan menyusun strategi lanjutan untuk membuka peluang investasi dan pengembangan industri kurma secara lebih luas.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....