Tim Kesehatan NTB Layani 3.307 Warga Terdampak Gempa NTT

  • 26 Agt 2026 11:10 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Tim Kesehatan NTB telah memberikan 3.307 layanan kepada warga terdampak gempa NTT hingga 25 Agustus 2026.
  • Sebanyak 89 relawan dikerahkan untuk me

RRI.CO.ID, Mataram - Tim Kesehatan Nusa Tenggara Barat (NTB) telah memberikan 3.307 layanan kesehatan kepada warga terdampak gempa Magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga 25 Agustus 2026. Layanan tersebut diberikan selama enam hari misi Solidaritas Kemanusiaan KR-BNN NTB di tujuh kabupaten terdampak, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Ende, Manggarai Barat, Nagekeo, dan Ngada.

Juru Bicara Pemerintah Provinsi NTB sekaligus Ketua Tim Koordinator Solidaritas KR-BNN NTB, Dr. H. Ahsanul Halik, mengatakan tingginya jumlah layanan menunjukkan kebutuhan kesehatan warga masih besar setelah bencana. “Angka 3.307 layanan itu menunjukkan bahwa kebutuhan kesehatan masyarakat di lapangan memang cukup besar,” kata Aka di Mataram, Rabu, 26 Agustus 2026.

Gempa yang terjadi pada 15 Agustus itu berdampak terhadap 1.915.194 penduduk. Sebanyak 83 orang meninggal dunia, 331 orang mengalami luka berat, dan 639 orang luka ringan. Selain itu, sebanyak 43.686 warga mengungsi di 400 titik.

NTB mengerahkan 89 relawan kesehatan dalam dua tahap. Tim tersebut terdiri atas 32 perawat, 28 dokter, enam apoteker, tiga tenaga administrasi kesehatan, tiga psikolog, dua epidemiolog, dua tenaga kesehatan lingkungan, seorang bidan, seorang analis, dan tenaga pendukung lainnya.

Pelayanan kesehatan diberikan melalui pos kesehatan dan layanan bergerak. Salah satu lokasi utama berada di Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur.

Jumlah layanan meningkat tajam pada fase awal. Pada 20 Agustus tercatat 134 layanan, kemudian naik menjadi 367 layanan pada 21 Agustus. Puncaknya terjadi pada 22 Agustus dengan 1.340 layanan.

Setelah itu, jumlah layanan menurun menjadi 879 pada 23 Agustus, 381 pada 24 Agustus, dan 201 layanan pada 25 Agustus. Secara kumulatif, layanan mencapai 3.307.

Keluhan yang paling banyak ditangani adalah myalgia atau nyeri otot sebanyak 751 kasus, disusul dispepsia 634 kasus, ISPA 364 kasus, nyeri 268 kasus, dan hipertensi 259 kasus.

Tim juga memperkuat pengawasan terhadap penyakit yang berpotensi menjadi kejadian luar biasa. ISPA menjadi salah satu perhatian utama, dengan 156 kasus pada 23 Agustus. Pneumonia juga tercatat 30 kasus pada 24 Agustus dan 12 kasus pada 25 Agustus.

Menurut Aka, penurunan jumlah layanan tidak berarti respons kesehatan dapat dihentikan. Tim tetap melakukan surveilans, memantau kelompok rentan, serta mengawasi sanitasi, air bersih, dan kondisi lingkungan di lokasi pengungsian.

“Pelayanan medis harus berjalan bersama dengan surveilans, pemantauan air bersih, sanitasi, dan kondisi masyarakat di pengungsian,” ujarnya.

Selain pelayanan langsung, Tim Kesehatan NTB juga melakukan rujukan pasien, termasuk kasus obstetri ke Rumah Sakit Ruteng. Koordinasi pelayanan diperkuat bersama HEOC provinsi dan kabupaten/kota serta Tim Layanan Kesehatan Universitas Airlangga.

Tim juga mengoperasikan Pos Induk Kesehatan di Puskesmas Dampek, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, sebagai pusat koordinasi pelayanan dan distribusi logistik kesehatan.

Aka menegaskan respons kesehatan akan terus disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan warga terdampak gempa. “Solidaritas kemanusiaan tidak cukup hanya hadir pada hari-hari pertama bencana. Yang lebih penting adalah memastikan respons terus mengikuti kebutuhan masyarakat,” kata dia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....