BPJS Ketenagakerjaan Luncurkan PEKA, Dorong Penerima Manfaat Mandiri Ekonomi

  • 18 Agt 2026 18:34 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram — BPJS Ketenagakerjaan mendorong penerima manfaat jaminan sosial ketenagakerjaan untuk kembali produktif dan mandiri melalui Program Pemberdayaan Ekonomi dan Kemandirian Penerima Manfaat (PEKA).

Program tersebut resmi diperkenalkan melalui Soft Launching Nasional PEKA yang digelar serentak di seluruh Indonesia, Selasa 18 Agustus 2026, bertepatan dengan momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

PEKA menjadi bagian dari komitmen BPJS Ketenagakerjaan dalam memberikan perlindungan yang tidak berhenti pada pemberian manfaat ketika risiko ketenagakerjaan terjadi. Program ini diarahkan untuk membantu penerima manfaat memiliki keterampilan, mengembangkan potensi ekonomi, serta membangun kembali sumber penghidupan secara mandiri.

Setiap tahun, tidak sedikit keluarga kehilangan sosok pekerja yang menjadi tulang punggung ekonomi akibat kecelakaan kerja maupun meninggal dunia karena sakit. Kondisi tersebut tidak hanya menghadirkan duka, tetapi juga menimbulkan persoalan baru terkait keberlanjutan kehidupan keluarga yang ditinggalkan.

Melalui PEKA, BPJS Ketenagakerjaan berupaya menjadikan manfaat jaminan sosial sebagai pijakan agar penerima manfaat mampu bangkit dan kembali berdaya.

Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Saiful Hidayat mengatakan, risiko yang dialami seorang pekerja dapat membawa perubahan besar terhadap kehidupan dan kondisi ekonomi keluarganya.

“Kita bisa membayangkan bagaimana beratnya ketika sebuah keluarga kehilangan orang yang selama ini menjadi tulang punggung mereka. Manfaat yang kami bayarkan tentu sangat berarti, tetapi kami ingin kehadiran BPJS Ketenagakerjaan tidak berhenti di sana. Kami ingin membantu mereka punya bekal untuk bangkit dan kembali menatap masa depan dengan lebih optimistis,” ujar Saiful.

Menurutnya, PEKA merupakan bagian dari upaya memperkuat kehadiran negara dalam setiap fase kehidupan pekerja. Perlindungan diberikan sebelum risiko terjadi, manfaat disalurkan ketika risiko terjadi, kemudian penerima manfaat didampingi agar dapat kembali produktif setelah menghadapi risiko.

“Bagi kami, perlindungan bukanlah sebuah titik akhir. Ada kehidupan yang harus terus berjalan setelah risiko terjadi. Karena itu, melalui PEKA kami ingin membuka kesempatan bagi penerima manfaat untuk belajar, mengembangkan keterampilan, dan perlahan membangun kembali sumber penghidupan yang mandiri,” katanya.

PEKA menyasar penerima manfaat BPJS Ketenagakerjaan, mulai dari ahli waris peserta hingga pekerja yang memasuki masa persiapan pensiun.

Bentuk pemberdayaan disesuaikan dengan kebutuhan penerima manfaat dan potensi ekonomi masing-masing daerah. Kegiatannya antara lain peningkatan kompetensi, pelatihan kewirausahaan, literasi keuangan dan usaha, serta pendampingan untuk mengembangkan keterampilan menjadi aktivitas produktif bernilai ekonomi.

Dalam pelaksanaannya, BPJS Ketenagakerjaan juga mengedepankan kolaborasi dengan pemerintah daerah, kementerian dan lembaga, dunia usaha, perbankan, perguruan tinggi, lembaga pelatihan, komunitas, serta mitra strategis lainnya.

“Kami tidak ingin mereka sekadar selesai mengikuti pelatihan. Harapannya, keterampilan yang didapat benar-benar bisa menjadi jalan untuk memperoleh penghasilan dan membuat mereka semakin mandiri. Untuk mewujudkan itu, tentu BPJS Ketenagakerjaan tidak bisa berjalan sendiri,” jelas Saiful.

Program PEKA juga dinilai sejalan dengan Asta Cita ke-6 Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam mendorong pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Perlindungan sosial diharapkan tidak hanya menjadi penopang ketika risiko terjadi, tetapi juga menjadi modal awal bagi penerima manfaat untuk kembali produktif.

Di Nusa Tenggara Barat, pelaksanaan PEKA diikuti 35 penerima manfaat di Kabupaten Lombok Tengah. Kegiatan pemberdayaan tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi BPJS Ketenagakerjaan bersama Bank Syariah Indonesia.

Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Nusa Tenggara Barat mengatakan, PEKA menjadi bentuk nyata komitmen untuk memastikan manfaat jaminan sosial memberikan dampak yang lebih luas bagi peserta dan keluarganya.

“Melalui PEKA, kami ingin memastikan bahwa penerima manfaat tidak hanya mendapatkan perlindungan ketika risiko terjadi, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk bangkit dan membangun kembali kemandirian ekonominya. Kami hadir untuk memberikan bekal, membuka akses, serta mendampingi mereka agar keterampilan yang diperoleh dapat dikembangkan menjadi peluang usaha maupun sumber penghasilan baru,” ujarnya.

Menurutnya, pemberdayaan akan semakin kuat apabila disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan masyarakat di masing-masing daerah. NTB, kata dia, memiliki beragam potensi ekonomi dan sumber daya manusia yang dapat dikembangkan melalui program pemberdayaan.

“NTB memiliki banyak potensi ekonomi dan sumber daya manusia yang dapat dikembangkan. Kami berharap PEKA dapat menjadi salah satu pintu bagi para penerima manfaat untuk mengoptimalkan potensi tersebut, sehingga mereka tidak hanya mampu bertahan setelah menghadapi risiko, tetapi juga tumbuh, produktif, dan semakin mandiri,” tambahnya.

Pelaksanaan PEKA di Lombok Tengah turut dihadiri Wakil Bupati Lombok Tengah H. Muhammad Nursiah, S.Sos., M.Si. Ia menyambut baik program tersebut sebagai langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat, khususnya keluarga penerima manfaat jaminan sosial ketenagakerjaan.

“Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah tentu menyambut baik program PEKA ini. Bagi kami, perlindungan sosial tidak hanya berbicara tentang bagaimana memberikan bantuan ketika masyarakat menghadapi risiko, tetapi juga bagaimana setelah itu mereka dapat kembali bangkit, produktif, dan memiliki penghidupan yang lebih baik,” ujar Nursiah.

Ia berharap pemberdayaan melalui PEKA tidak berhenti setelah pelatihan, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan dan kolaborasi agar memberikan dampak nyata terhadap kemandirian ekonomi penerima manfaat.

Dengan pendekatan tersebut, PEKA diharapkan dapat memperluas makna perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan. Tidak hanya memberikan manfaat ketika risiko terjadi, tetapi juga menjadi jembatan bagi pekerja dan keluarganya untuk kembali bangkit, produktif, dan menatap masa depan dengan lebih mandiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....